Keistimewaan kandungan batu bara dalam lubang Tambang Mbah Suro menjadi salah satu alasan Belanda membangun jaringan jalur transportasi kereta uap. Sekitar tahun 2022 penulis berkesempatan merasakan sensasi naik kereta uap peninggalan Belanda, warnanya hitam, dan pastinya kepulan uap atau asapnya berwarna abu-abu. Tak heran jika kereta legendaris itu dari dulu disebut dengan Mak Itam
Mak Itam yang penulis tumpangi dulunya dibuat langsung oleh H. Chemnitz dengan nomor E 1060 Â pada tahun 1965. Pastinya kini Mak Itam sudah dimodifikasi meski tidak menghilangkan bentuk aslinya. Mak Itam menarik satu gerbong kayu dengan muatan sekitar 25-30 orang.
Di dalam gerbong kereta Mak Itam terdapat 2 kursi kayu panjang yang berdempetan namun saling membelakangi. Di sana seolah-olah semua penumpang, termasuk penulis disuguhi langsung pemandangan alam memukau dari kota sawahlunto. Udara yang ada di dalam gerbong juga terasa sejuk, hal itu dikarenakan penyejuk ruangan berupa AC dipasang di gerbong Mak Itam untuk menaMbah sensasi nyaman para penumpang. Saat itu Mak Itam yang penulis tumpangi bergerilya dari Stasiun Muaro kalaban sampai Stasiun Silungkang
Keramahan penduduk Sawahlunto membuat penulis tau bahwa dalam perjalanan menuju Silungkang terdapat terowongan yang ditunggu-tunggu oleh para penumpang untuk melewatinya. Terowongan itu namanya Lubang Kalam atau Terowongan Kalam. Kalam artinya gelap. Meskipun demikian penumpang tidak perlu kawatir karena penerangan gerbong Mak Itam sangat menunjang, sehingga susananya tidak terlalu gelap  melainkan remang-remang dan meninggalkan kesan nan romantis
Saat sampai di Terowongan Lubang Kalam aroma kepulan asap yang dihasilkan oleh pembakaran batubara semakin melekat. Seolah-olah membawa penumpang ke zaman dulu saat Sawahlunto menjadi kota tambang pertama kali di Indonesia. Selain itu juga mengingatkan kisah Orang Rantai yang diangkut dari Jawa melalui pelabuhan Teluk Bayur lalu diangkut lagi menggunakan kereta uap untuk menambang batu bara di Lubang Mbah suro
Setelah Mak Itam berhenti secara sempurna di Stasiun Silungkang, Penulis melanjutkan perjalanan kurang lebih 2 jam untuk menuju Teluk Bayur. Satu-satunya teluk yang terbuka untuk lalu lalang kapal dalam melakukan perjalanan dagang internasional. Teluk Bayur juga berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.
Teluk terbesar dan teramai di Pantai Barat Pulau Sumatra dibangun 1888 sampai 1893. Teluk ini sebelumnya  bernama Emmahaven. Sampai artikel ini ditulis Pelabuhan Teluk Bayur masih eksis menjadi sarana  dalam menggerakkan moda transportasi laut yang  melayani berbagai jenis komoditas unggulan. Mulai dari batu bara, karet, cilinker, teh, moulding semen, minyak kelapa sawit, furniture, karet dan kayu manis yang merupakan komoditas ekspor andalan untuk benua Eropa, Asia, Australia  dan Afrika.
Bukan hanya itu saja, Teluk Bayur juga menyimpan keindahan alam  yang memesona. Panoramanya selalu konsisten dalam menyuguhkan pemandangan-pemadangan menarik, sehingga sayang jika dilewatkan untuk tidak dikunjungi. Kondisi Teluk Bayur jauh kini lebih sempurna dibanding tahun 2022 saat penulis menyambangi teluk tesebut.
Bahkan Pemerintah juga menaruh perhatian untuk memamerkan keindahan Teluk Bayur dengan membangun jembatan yang menghubungkan antara Kecamatan Singkil dengan Kecamatan Kuala Baru melalui  jembatan terpanjang di Kota Aceh.
Adanya Jembatan tersebut telah mempermudah akses pengunjung untuk  menikmati keindahan Teluk Bayur nan bersejarah. Sebuah teluk yang turut menemani perjalanan Orang Rantai. Seandainya teluk itu bisa bicara dia pasti akan bercerita tentang penderitaan Orang Rantai yang ditempatkan di dek dek kapal. Gelap dan pengap disitu mereka berdesak-desakan dengan kawan senasibnya. Hukuman cambuk dan diceburkan di dalam laut adalah hukuman bagi yang mencoba melakukan perlawanan
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H