Mohon tunggu...
Lanjar Wahyudi
Lanjar Wahyudi Mohon Tunggu... Human Resources - Pemerhati SDM

Menulis itu mengalirkan gagasan untuk berbagi, itu saja. Email: lanjar.w77@gmail.com 081328214756

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Kekuatan Visualisasi Echa

11 November 2022   12:14 Diperbarui: 11 November 2022   13:25 200
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi kungfu woman (profesorchikungytaichi.com)

"Hidup tak usah diratapi karena ujian adalah kepastian. Berusaha saja. Berjuang menaklukkan berbagai halangan yang memberi jarak mimpi-mimpi dan dirimu." nn

Adalah Echa ibu setengah baya yang enerjik dan easy going bertutur dengan semangat kepada saya, "Saat itu penghasilan kami berdua jika digabung hanya Rp 1.250.000,- (satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah). Namun jika tidak memaksimalkan (baca: memaksa) potensi diri untuk memiliki rumah, mungkin kami akan mengontrak dalam waktu lama. Apalagi kami menikah di usia 28 tahun artinya menuju lansia ke 60 tahun tinggal tersisa 30an tahun lagi. Belum lagi nanti urusan biaya sekolah anak, kuliah, menikah, dan sebagainya".

Lima tahun perjalanan pernikahan kami, kami masih belum memiliki mobil. Kemana-mana naik motor, kadang naik taksi jika masih ada budget. Pernah suatu kali setelah lewat seminggu melahirkan kami harus kontrol dokter ibu dan anak, terpaksa naik taksi pp dengan jarak 30 km, tentu biayanya banyak.

Sebulan kemudian kami juga harus kontrol, dan kami putuskan naik motor. Baby kecil kami bonceng ditengah ditutup dengan kain agar aman. Tapi waktu itu kami gak sedih, happy aja, semangat karena baru punya anak. Sedihnya terasa setelah anak berusia setahun dan kami harus mulai pergi mengunjungi orang tua atau saudara di luar kota, kalau harus naik motor kasihan anak, kalau naik bis suami pasti mabok darat".

Namun jika memiliki mobil, cukuplah mobil sedan dengan empat seat yang cocok untuk keluarga kecil kami, tentu perjalanan akan lebih menyenangkan. Bisa berkunjung ke keluarga lebih sering, bisa berwisata di akhir pekan bersama-sama, menjelajahi berbagai tempat tanpa banyak kerepotan, datang ke acara resepsi juga lebih nyaman, dan berbagai kenikmatan lain yang membayang.

Disitu kemudian kami berdiskusi, bagaimana kalau membeli mobil? Awalnya suami merasa berat sebab saya sudah tidak bekerja lagi dan fokus mengurus rumah. "Beli mobil kan tidak harus baru, bekaspun tidak masalah yang penting mobilnya sehat," kata suami saya. Jadi akhrnya kami sepakat untuk mulai berusaha agar bisa memiliki mobil bekas.

Setiap hari Rabu dan Sabtu saya mulai sering melihat suami membuka koran pada halaman iklan baris, pada masa itu koran masih menjadi media cetak yang dominan. Hari Rabu banyak sekali iklan baris yang berisi penawaran produk jualan, sedangkan hari Sabtu ada juga sih, namun lebih didominasi iklan lowongan pekerjaan.

Selain iklan baris ada juga iklan bergambar, yang menampilkan produk-produk mobil baru dari dealer terkenal. Tentu harganya mahal, dan sekalipun metode pembayarannya mengangsur melalui leasing, kami tetap belum mampu. Di kolom iklan baris ternyata harga mobil bekas sangat bervariatif, ada yang murah, dan ada pula yang mendekati 90% harga mobil baru.

Akhirnya kami harus realistis bahwa kekuatan fiansial kami tidak akan mampu untuk membeli mobil bekas yang harganya 50% dari mobil baru sekalipun. Jadi kami putuskan bahwa kami akan mengambil mobil bekas yang usianya dikisaran tidak lebih dari 30 tahun, setara dangan umur kami waktu itu.

Tiap hari suami sedapat mungkin cari info dari koran, dari teman, makelar, dan siapapun. Sambil menggendong si kecil saya melihat suami menuliskan daftar mobil, tahun pembuatannya dan harga yang ditawarkan. Seperti Daihatsu Charade tahun 85 dengan harga 14 juta rupiah, Toyota Corolla DX tahun 84 dengan harga 20 juta rupiah, Suzuki Carry tahun 90 dengan harga 25 juta rupiah, dan lain-lain.

Singkat cerita setelah hampir 6 bulan berusaha mencari mobil, dan juga dananya, akhirnya kami sepakat membeli sebuah mobil sedan tua berusia 20 tahun, Mazda Interply buatan tahun 90 dengan harga 30 juta rupiah. Dan kami sangat bersyukur dan bahagia saat itu. Sebuah pencapaian yang besar untuk ukuran keluarga kami pada masa itu. 

"Berjalan dengan waktu akhirnya kami bisa mengganti mobil kami dengan mobil baru, Suzuki Ertiga GX  keluaran dari dealer, empat tahun kemudian. Kisah mendapatkannyapun hampir mirip. Sebuah anugerah yang luar biasa.", tutur Echa mengakhiri ceritanya.

*

Kisah Echa diatas dimulai dengan sebuah kondisi pada keluarga barunya dengan segala keterbatasan, kemudian muncullah sebuah keinginan untuk memperbaiki kondisi yang kurang nyaman agar menjadi lebih nyaman, lebih baik. Dari keinginan itu ia dan suaminya mencoba membayangkan kondisi ideal yang ingin mereka capai, rasa bahagia yang muncul, dan berbagai kenikmatan yang bisa mereka rasakan untuk keluarga sendiri maupun orang tua. 

Ini mengingatkan saya pada Buku Besar Peminum Kopi karya Andrea Hirata ketika Maryamah Karpov alias Nong sedang terdesak dalam pertandingan catur melawan master catur di kampungnya, "Jika teknik tak mampu, gunakan imajinasi", katanya. Nong akhirnya menang, sama seperti  Echa bertutur. Dan kisah ini ditutup dengan indah, keinginan menjadi kenyataan.

Apa yang dilakukan Echa dan suaminya walaupun mungkin tanpa sadar dan mengerti teorinya, adalah visualisasi dan afirmasi diri. Sebuah metode untuk memotivasi diri dalam rangka mencapai tujuan yang sangat diinginkan agar menjadi kenyataan. Teknik ini pada intinya adalah menciptakan sebuah imajinasi di dalam pikiran bawah sadar kita, yang akan menjadi peta jalan bagi pikiran sadar kita malakukan langkah-langkah riil untuk mewujudkannya menjadi kenyataan, semacam aplikasi google map atau waze yang bisa menuntun kita tiba di lokasi tujuan.

Inilah teknik visualisasi yang bisa anda coba:

Ambillah contoh tentang keinginan memiliki rumah. Anda bisa melakukan teknik visualisasi ini setiap hari, misal setiap malam hari sebelum tidur dirangkai dengan doa malam anda.

Pejamkanlah mata, atur nafas. Bayangkan sebuah rumah sesuai yang anda inginkan, mulai pagar, halaman depan, teras, garasi, ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, toilet, dapur, ruang laundry, sampai halaman belakang. Bayangkan warna dindingnya, bunga-bunga yang warna-warni yang anda letakkan ditempatnya, rumput hijau yang indah, dan furnitur yang anda posisikan dengan bagus di setiap ruangan.

Nikmatilah anda sedang makan bersama dengan pasangan, dan anak-anak di ruang makan. Kemudian bercanda bersama sambil menonton TV di ruang keluarga, anak-anak berlarian dari halaman belakang melintas di ruang tengah menuju halaman depan.

Tersenyumlah bahwa anda yakin akan memiliki semua itu dalam sekian waktu yang anda tetapkan. Yakinilah bahwa Tuhan membantu anda untuk mewujudkan semua gambaran itu, DIA bekerja sama dengan anda, bahkan bekerjasama dengan semua orang disekitar anda, untuk mewujudkan harapan anda. Tutuplah dengan doa dan  ucapan syukur, untuk memantapkan semua yang anda visualisasikan.

**

Anda juga bisa mencoba teknik visualisasi ini ketika bangun pagi dan ingin menjalani hari ini dengan semangat dan penuh antusias, ingin sehat dan bahagia di hari ini, menemui bos yang otoriter dan bisa berkomunikasi dengan baik. Atau mungkin anda sedang berusaha untuk mendapatkan nilai A pada sebuah mata kuliah yang berat, mungkin juga anda adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang takut menghadapi calon dosen penguji skripsi yang terkenal killer, ingin mendapatkan IPK 3.5 saat lulus, dan sebagainya.

Ngomong-ngomong bagaimana dengan mendapatkan pacar? hehee..coba saja.

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun