Halo Badminton Lovers.
Pada Kejuaraan Dunia Junior Bulutangkis 2019 yang baru lalu, tim Indonesia akhirnya bisa membawa pulang Piala Suhandinata. Salah satu nama yang mencuat dalam skuat Indonesia adalah Putri Kusuma Wardani. Putri KW masih berusia 18 tahun, dengan tinggi badan 172 cm, menjadi andalan di tunggal putri dan ikut menyumbangkan poin di final. Dengan posturnya yang jangkung tersebut sosok Putri menjadi sangat mencolok di jajaran pemain putri Indonesia.
Terdapat sebuah pertanyaan "abadi" di lapangan bulutangkis, "Apakah postur tubuh berpengaruh?" Tentu akan ada banyak argumen yang berbeda. Contoh nyatanya, di ganda putra ada The Minions (Kevin/Gideon) berperingkat 1 BWF, sementara pada peringkat 3 ada Duo Menara (Li Junhui/Liu Yuchen), dengan perbedaan tinggi badan yang sangat jauh. Tetapi kali ini bincang-bincang kita akan dibatasi pada sektor tunggal putri.
Ada yang mungkin masih mengingat final tunggal putri Kejuaraan Dunia bulan Agustus 2019 yang menghadirkan PV Sindhu berhadapan dengan Nozomi Okuhara. Pada partai final tersebut Sindhu yang berpostur menjulang bagaikan monster yang "menghancur leburkan" Nozomi yang berpostur mungil. Dalam 36 menit, Nozomi digulung dengan "skor Afrika", 21-7, 21-7. Skor yang mungkin  sangat mengecewakan penonton, untuk ukuran sebuah partai final, karena mestinya ada sebuah pertarungan sengit yang sangat dinantikan. Dalam pertandingan tersebut, Sindhu benar-benar mampu mengoptimalkan keunggulan postur, membuat Nozomi kelabakan mengcover lapangan.
Di tengah hingar-bingar pertarungan tunggal putri bulutangkis dunia, di manakah posisi tunggal putri kita saat ini? Era 80-an bisa dibilang pada sektor tunggal putri kita hanya kalah dengan China, tetapi di Asia Tenggara kita masih yang terkuat. Era 90-an, trio Susy-Sarwendah-Mia Audina sempat memutus kedigjayaan putri China. Kita sempat merebut Piala Uber di tahun 1994 dan 1996. Selepas trio tersebut pensiun (Mia pindah menjadi WN Belanda), adalah "jaman kegelapan", meski kita masih tetap unggul di Asia Tenggara.
Tetapi lihatah saat ini sektor tunggal putri kita benar-benar tertinggal jauh. Peringkat tertinggi WS kita, Gregoria Mariska Tunjung di peringkat 16 BWF. Fitriani di peringkat 30 BWF. Ruselli Hartawan di peringkat 37 BWF. Sementara Thailand, sebagai sesama negara Asia Tenggara, memiliki Ratchanok Intanon (peringkat 5 BWF), Pornpawee Chochuwong (peringkat 15 BWF), Busanan Ongbamruphan (peringkat 17 BWF).
Mari kita lihat tinggi badan para WS di jajaran 10 besar BWF:
- Tai Tzu Ying: 163 cm
- Akane Yamaguchi: 156 cm
- Chen Yu Fei: 171 cm
- Nozomi Okuhara: 156 cm
- Ratchanok Intanon: 168 cm
- PV Sindhu: 179 cm
- He Bing Jiao: 169 cm
- Saina Nehwal: 165 cm
- Michele Li: 170 cm
- Sung Ji Hyun: 175 cm
*Masih ada satu lagi atlet tangguh yang baru comeback dari cedera panjang sehingga peringkatnya merosot jauh, sang peraih medali emas Olimpiade 2016, yaitu Carolina Marin (172 cm).
Ada dua nama di jajaran 10 besar yang berpostur pendek, Akane Yamaguchi dan Nozomi Okuhara. Tetapi kedua pemain tersebut memang benar-benar extra ordinary. Keduanya memiliki stamina kuda, yang kayaknya main empat set juga masih sanggup. Kelenturan dan footwork yang sangat baik. Selain itu kalau mengamati cara bermainnya, mereka sukses mengembangkan sendiri teknik-teknik pukulan mereka yang unik sesuai dengan postur tubuh mereka. Postur pendek tapi tetap bisa agresif menyerang.
Bagaimanapun, harus diakui, bila tinggi badan juga menentukan jangkauan coverage lapangan, ketajaman melakukan smash dan dropshot, dan overhead smash. Kalau modal yang dimiliki adalah gabungan dari postur pendek, stamina minim, dan footwork lemah, tentu akan sangat sulit untuk bisa bersaing di level dunia.
Berikut gambaran sejumlah pemain putri Indonesia dari masa ke masa, tinggi badan, dan prestasi terbaik di tunggal putri, di sini hanya dicantumkan yang meraih gelar juara atau medali emas saja:
- Verawati Fajrin (178 cm): Kejuaraan Dunia 1980, SEA Games 1981, Indonesia Terbuka 1982
- Susy Susanti (165 cm): Olimpiade Barcelona 1992, Kejuaraan Dunia 1993, All England 1990, 1991, 1993, dan 1994, Indonesia Open 1991, 1994, 1995, 1996, 1997, Australia Open 1990, Piala Sudirman 1989, Piala Uber 1994 dan 1996, SEA Games 1987, 1989, 1991, 1993, 1995
- Sarwendah Kusuma Wardhani (170 cm): SEA Games 1993, Belanda Terbuka 1987, 1991, dan 1992, Malaysia Terbuka 1991, Kejuaraan Dunia 1990, Piala Uber 1994 dan 1996,
- Mia Audina (169 cm): Indonesia Terbuka 1998, Jepang Terbuka 1997, Singapura Terbuka 1997, Piala Uber 1994 dan 1996
- Adriyanti Firdasari (170 cm): New Zealand Open 2005, SEA Games 2005, Dutch Open 2006, Indonesian Masters 2014
- Maria Kristin Yulianti (169 cm): SEA Games 2007
*Khusus Verawati Fajrin, setelah beralih ke nomor ganda juga cukup sukses berpasangan dengan sejumlah pemain, di antaranya: Imelda Wigoena, Ivanna Lie, Yanti Kusmiati, Bobby Ertanto, dan Eddy Hartono.
Kita perhatikan postur para jawara WS kita tersebut, dari postur sedang sampai jangkung. Mari kita bandingkan dengan stok WS yang tersedia saat ini:
- Gregoria Mariska Tunjung (164 cm)
- Fitriani (154 cm)
- Ruselli Hartawan (160 cm)
Mungkin ada pendapat tak masalah postur pendek asalkan stamina kuda. Kenyataannya saat ini para WS kita staminanya kerap tekor saat mesti bermain tiga set. Fitriani dan Chen Yufei masih setara saat bermain di level junior, tetapi kini Chen Yufei melejit di 10 besar dunia, sementara Fitriani perkembangannya malah mentok. Teknik pukulan Gregoria Mariska tak kalah sadis dibandingkan dengan Ratchanok Intanon maupun Saina Nehwal. Tetapi bila pertandingan merambat ke set ketiga, permainan Jorji mendadak drop. Faktor stamina sangat mempengaruhi akurasi pukulan.
Sebenarnya saat ini kita juga memiliki pemain putri jangkung, Gloria Emanuelle Widjaja (182 cm) di ganda campuran dan Rizki Amelia Pradipta (171 cm) di ganda putri. Mungkin pelatih punya pertimbangan sendiri mengapa menempatkan mereka di sektor ganda ketimbang tunggal.
Kalau kita coba mengintip skuad putri Jepang saat ini, ada hal yang unik. Jepang punya dua WS berpostur pendek di 10 besar BWF, tetapi para WD Jepang di 10 besar BWF justru banyak yang berpostur jangkung. Misalkan, Mayu Matsutomo (177 cm) dan Sayaka Hirota (170 cm). Entahlah, mungkin tim pelatih Jepang juga punya kendala sama dengan pelatih kita.
Kembali ke Putri Kusuma Wardani, perjalanan Putri ke depannya memang masih panjang. Tentu saja masih banyak hal yang perlu dibenahi, baik dalam hal teknik, taktik maupun mental. Stamina yang merupakan kelemahan utama para WS kita saat ini ketika harus berlaga di tingkat dunia, perlu menjadi perhatian khusus dari jajaran pelatih. Gabungan antara postur jangkung, mental cadas dan nafas panjang, pasti akan menggetarkan setiap lawan.
Salam olahraga
Salam bulutangkis
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H