tak lagi memikirkan apakah 25 Desember, 6 Januari, atau 7 Januari tepatnya
Tak pula kuhiraukan lagi apakah 28 Maret, 20 April, atau 20 Mei tanggal kelahiran-Nya
Tak lagi kucerca mereka yang sengaja tidak berkehendak merayakan hari jadi-Nya.
Aku juga tak lagi peduli apakah di Nazaret Dia dilahirkan.
Tak hendak pula kupikirkan apakah di bawah pohon Kurma, Betlehem Efrata, Betlehem Yehuda, atau Betlehem Zebulon Dia diturunkan.
Di musim panas atau di musim dingin, tak perlu lagi kupertanyakan.
Tak ingin lagi semua itu kurenungkan.
Biar mereka saja yang mempertentangkannya.
Biar mereka saja yang saling meragukannya.
Lebih kusuguhkan totalnya percaya tentang lahirnya daripada kapan dan di mananya.
Lebih kutinggikan totalnya penyerahan daripada sehatnya pikiran dan logika yang menyertainya.
Lebih kuangkasakan Iman daripada pikiran dan pengetahuan tentang-Nya.
Biar kujalankan saja perintah mulia-Nya.
Tanpa pikirkan kapan dan di mana Sang Bunda Suci melahirkan-Nya.
Biar kulaksanakan saja, dengan gembira, dua titah yang diwartakan-Nya.
Pertama, mengasihi Allah.
Kedua, mengasihi manusia ciptaan Allah.
Dua Hukum hebat, yang menyatu tak terbelah.
Tak ingin lagi kubiarkan logika dan rasioku.
Apalagi alasan-alasanku menghalangiku.
Mengasihi Allah dan berbagi kasih dan empati kepada manusia ciptaan Allahku.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI