Mohon tunggu...
Kurnia Dewi
Kurnia Dewi Mohon Tunggu... Lainnya - IRT

Semua untuk Allah

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pandangan Islam Tentang Toleransi Termasuk Kebolehan Mengucapkan Hari Raya Mereka

10 Januari 2023   16:43 Diperbarui: 11 Januari 2023   07:05 342
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Sebagaimana yang telah tercantum pada ayat 33 QS Maryam, yang seolah ada ucapan selamat atas kelahiran Nabi Isa, Ibnu Katsir menjelaskan, "Dalam ayat ini ada penetapan ubudiyah Isa kepada Allah, yaitu bahwa ia adalah makhluk Allah yang hidup dan bisa mati dan beliau juga akan dibangkitkan kelak sebagaimana makhluk yang lain. Namun, Allah memberikan keselamatan kepada beliau pada kondisi-kondisi tadi (dihidupkan, dimatikan, dibangkitkan) yang merupakan kondisi-kondisi paling sulit bagi para hamba. Semoga keselamatan senantiasa terlimpah kepada beliau." Maka jelas bahwa tidak diperbolehkan untuk mengucapkan Selamat Natal. 

Kebolehan mengucapkan untuk hari raya non-Muslim

Yang boleh, adalah mengucapakan dengan ucapan yang baik yang tidak menyalahi syari'at. Bukan memuji hari raya mereka. Ucapan yang baik misalnya; "Idukum mubarak" (Semoga hari raya Anda diberkahi). Adapun jika kita menerima ucapan dari mereka, maka kita boleh menjawabnya dengan ucapan; "Mubarak alaykum".

Namun pengucapan seperti ucapan "Idukum mubarak" hanya sebatas pada mereka yang memenuhi syarat-syarat berikut:

a) Non-Muslim tersebut termasuk ahludz-dzimmah yang hidup di tengah-tengah kaum Muslim di negeri kaum Muslim dan terikat oleh aturan bahwasannya mereka tidak akan mengkhianati kaum Muslim. 

b) Mereka tidak memerangi kaum Muslim karena agama, tidak mengusir kaum Muslim, serta tidak menampakkan niat untuk mengusir kaum Muslim dari negerinya. Seperti yang dikisahkan dalam HR Bukhari nomor 1356 dari Anas ra:

Ada seorang anak dari Yahudi. Dia melayani Nabi SAW. Lalu dia sakit. Nabi SAW kemudian datang menjenguk dia. Beliau duduk di samping kepala ank itu. Beliau bersabda, "Masuk Islamlah kamu!" Anak itu memandang kepada bapaknya yang ada di samping kepalanya. Bapaknya berkata kepada dia, "Taati Abu al-Qasim." Lalu anak itupun masuk Islam. Nabi SAW kemudian keluar dan bersabda, "Segenap pujian hanya milik Allah yang telah menyelamatkan dia dari api neraka." Yang demikian adalah gambaran ahludz-dzimmah yang boleh kita berikan ucapan kepada mereka. Sayangnya jumlah ahludz-dzimmah sangat sedikit. Dinukil dari Jawab-Soal Syaikh Atha' bin Khalil, (13/01/2022). 

Sebab kaburnya makna toleransi

Muslim saat ini banyak yang belum memahami hakikat dari toleransi tersebut. Ada yang mengucapkan selamat atas hari besar mereka, bahkan ada pula yang menghina agama mereka. Kekaburan atas makna toleransi seperti ini penyebabnya tidak lain adalah karena umat Muslim saat ini hidup dalam naungan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), sehingga tidak ada jaminan bagi mereka untuk memahami ilmu agama Islam yang notabene hukumnya wajib bagi setiap Muslim yang berakal. Juga jaminan atas penerapan hukum Islam dalam kehidupan hanya sebatas upaya individu, itu pun tidak menyeluruh.

Umat Muslim pada khususnya dan umat manusia pada umumnya, memerlukan penerapan kebijakan Islam yang menyeluruh dalam bentuk sistem pemerintahan. Karena ada hal-hal yang tidak bisa individu lakukan sendiri untuk menuntaskan berbagai persoalan dalam kehidupan, sehingga memerlukan peran negara dengan kebijakannya untuk mengatasi persoalan tersebut. Seperti halnya permasalahan pengertian toleransi yang terkaburkan seperti ini. Tidak bisa jika negara tidak bergerak untuk memahamkan masyarakat, juga penerapan sanksi atas pelanggaran terhadap kebijakan tersebut.

Juga bagi non-Muslim, dalam sistem Islam adalah upaya untuk melindungi mereka karena Islam mengajarkan untuk berbuat adil pada siapapun. Ini terbukti ketika Daulah Islam berdiri selama hampir 13 abad lamanya, masyarakat di dalamnya termasuk non-Muslim terpelihara keimanannya dan terjamin kehidupannya. Karen Armstrong: There was no tradition of religious persecution in the Islamic empire (Tidak ada tradisi persekusi agama dalam imperium [Khilafah] Islam)." (Karen Armstrong, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today's World, McMillan London Limited, 1991, hlm. 44). T. W. Arnold mencatat bahwa keadilan Khilafah Islamiyah membuat warga Kristen penduduk Syam lebih memilih hidup di bawah kekuasaan Khilafah dibandingkan dipimpin oleh Kaisar Romawi. Padahal Kaisar Romawi beragama Kristen (Arnold, The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith, hlm. 134). Demikian gambaran toleransi negara dengan sistem pemerintahan Islam. Bukan seperti yang dihembuskan oleh para pembenci Islam seolah Islam adalah agama yang penuh kebencian. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun