Mohon tunggu...
Kris Banarto
Kris Banarto Mohon Tunggu... Wiraswasta - Pemerhati Bisnis dan Humaniora

Author: Transformasi HRD dalam Bisnis (2021). Ketika Kita Harus Memilih (2022). Rahasia Sukses Bisnis Modern (2022). Merajut Keabadian (2023). Kupas Tuntas Bisnis Properti (2024). Menjawab Tantangan Gereja Masa Kini (2024). Pertumbuhan Gereja Melalui Pendekatan Holistik (2025).

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Benahi 6 Daya Saing agar Indonesia Menjadi Negara Maju

6 April 2021   12:12 Diperbarui: 7 April 2021   09:11 1217
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pemandangan Jakarta.(Sumber Shutterstock dalam Kompas.com)

Singapura telah menggeser Amerika Serikat (AS) sebagai ekonomi paling kompetitif di dunia demikian hasil survei internasional World Economic Forum's (WEF) Global Competitiveness Index yang dirilis awal April 2019.

Singapura dengan skor 84.8 unggul dalam hal infrastruktur, kesehatan, pasar tenaga kerja, dan sistem keuangan. Dengan demikian meningkatkan peringkat menjadi nomor wahid dan mendepak AS yang memegang posisi teratas tahun 2018 turun ke posisi kedua. Hong Kong di peringkat 3, diikuti oleh Belanda (4), Swiss (5) dan Jepang (6).

Peringkat Indonesia tercatat turun dari posisi 45 tahun 2018 menjadi urutan 50 atau turun 5 posisi. Jauh di bawah beberapa negara sekawasan seperti Thailand di peringkat 40 dan Malaysia di peringkat 27.

Namun demikian Indonesia masih unggul atas Brunei yang berada di peringkat 56, Vietnam yang menempati posisi 67, Filipina (64), Kamboja (106) dan Laos (113). Sementara itu Asia Timur dan Asia Pasifik menjadi kawasan yang paling kompetitif, diikuti Eropa dan Amerika Utara.

Di Asia Selatan, India berada di posisi 68. Namun, meski kalah peringkat, skornya relatif stabil karena pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan negara-negara di kawasan tersebut seperti Sri Langka, Nepal, Bangladesh dan Pakistan.

Sumber: World Economic Forum 
Sumber: World Economic Forum 

Indeks persaingan global diukur berdasarkan 12 pilar, yakni kelembagaan, infrastruktur, teknologi informasi dan komunikasi, stabilitas makro ekonomi, pemasaran produk, pasar tenaga kerja, sistem keuangan, ukuran pasar, kesehatan, keahlian, dinamisme bisnis, dan kemampuan inovasi.

Dari 12 pilar indikator yang diukur WEF, berikut ini 4 data skor Indonesia :

  • Skor yang paling tinggi macroeonomics stability, dengan nilai 90.
  • ICT (information and communication technology) dengan skor 55,4.
  • Transparansi yang miliki sangat rendah yaitu 38
  • Innovation capability, dengan angka 37,7

Menurut ekonom dari Universitas Indonesia (UI), Faisal Basri sebenarnya Indonesia unggul dalam stabilitas makro ekonomi yaitu dengan skor 90. Namun, sayang dengan skor itu belum mampu meningkatkan daya saing, hal ini disebabkan skor yang lain buruk.

Mencermati data di atas maka tidak ada pilihan selain Indonesia meningkatkan daya saing, agar peringkatnya naik dan tidak disusul oleh negara-negara lain di bawahnya.

Baik meningkatkan keunggulan komparatif (comparative advantages) melalui pengembangan sumber daya alam. Dan keunggulan kompetitif (competitive advantage) dengan penguasaan teknologi/

Berikut ini beberapa cara agar daya saing Indonesia meningkat :

#1. Peningkatan SDM

Meningkatkan SDM dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas perguruan tinggi dalam mencetak para tenaga ahli siap kerja. Peningkatan mutu dosen, sarana dan prasarana kampus yang memadai dan perbaikan kurikulum disesuaikan dengan tuntutan zaman.

Mendayagunakan BLK (Balai Latihan Kerja) yang dibina Kementerian Tenaga Kerja untuk menyiapkan tenaga-tenaga yang terampil.

#2. Reformasi Birokrasi

Sebenarnya program reformasi birokrasi yang dicanangkan pemerintah sudah sangat bagus, yang meliputi 9 program antara lain manajemen perubahan, penataan peraturan perundang-undangan, penguatan organisasi, ketatalaksanaan, sistem manajemen aparatur, dan penguatan pengawasan.

Namun, dalam praktiknya masih banyak oknum PNS yang terlibat suap. Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan ASN terjerat korupsi pada 2010-2016. Setidaknya sebanyak 3.417 ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi di berbagai  daerah.

#3. Mengurangi Ekonomi Biaya Tinggi (high cost economy)

Ekonomi biaya tinggi menyebabkan harga barang menjadi tinggi, yang tidak dapat diserap pasar dengan baik. Pemerintah harus dapat mengurai kemacetan khususnya yang terjadi Jabodetabek yang menjadi urat nadi perekonomian nasional, agar distribusi barang lancar. Kemudian pembenahan manajemen pelabuhan, yaitu bongkar muat yang terlalu lama dan masih adanya pungutan liar.

#4. Inovasi Produk

Inovasi produk hanya bisa terwujud dengan adanya SDM ahli yang didukung dengan fasilitas yang cukup. Perusahaan-perusahaan dapat mengirimkan tenaga kerja ke luar negeri untuk belajar teknologi. Atau dengan cara mendatangkan tenaga ahli dari luar untuk melakukan transfer teknologi kepada tenaga kerja Indonesia.

#5. Pengembangan Telekomunikasi

Jaringan telekomunikasi baru dirasakan oleh penduduk kota dan sekitarnya. Namun belum sampai ke daerah tertinggal yang belum terkoneksi dengan jaringan internet. Hal ini yang menjadi hambatan diterapkannya belajar secara jarak jauh selama pandemi. Juga dalam rangka mewujudkan industri 5.0 menjadi terhambat.

#6. Percepatan Vaksinasi

Percepatan vaksinasi akan mempercepat pemulihan ekonomi. Target vaksinasi yang dicanangkan Presiden Joko Widodo sebanyak 1 juta per hari, masih banyak menemui hambatan. Terbukti hingga saat ini hanya sekitar 200 ribu orang per hari yang telah divaksin. Realisasi masih jauh dari target dikarenakan jumlah tenaga kesehatan yang terbatas. Selain itu distribusi vaksin yang masih kurang lancar. Faktor lemahnya koordinasi mengenai siapa yang akan di vaksin dan di mana tempatnya juga menjadi kendala cukup serius.

***

Negara-negara dengan sumber daya alam terbatas di Asia seperti Singapura, Jepang dan Korsel, namun mampu menjadi negara maju. Jepang dan Korsel dapat memaksimalkan sumber daya manusia dan menguasai teknologi untuk menghasilkan produk-produk otomotif dan elektronik unggul.

Singapura dapat bersaing karena memiliki bandara yang representatif sebagai transit di kawasan Asia dan mengembangkan pariwisata sehingga banyak menarik wisatawan. Singapura telah menjelma menjadi pusat perdagangan dan jasa di Asia.

Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam yang besar seharusnya dapat memaksimalkan ekspor yang akan menambah PDB (Pendapatan Domestik Bruto). Apalagi jika di dukung dengan SDM yang unggul bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara maju seperti Singapura, Jepang dan Korsel.

Rujukan:

1. Kompas.com

2. Bisnis.com

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun