Spirit altruisme ini cukup efektif mengatasi permasalahan ekonomi yang bisa dikatakan bukan reses lagi, tapi kehancuran total akibat perang!
Melihat kekuatan spirit altruisme tersebut, Sorokin yang waktu itu menjadi Guru Besar Sosiologi di tahun 1951 telah mendirikan Harvard Research Centre for Creative Altruism.Â
Lembaga ini  khusus untuk mengkaji bagaimana altruisme beserta komponennya dapat dibenamkan dengan sukses ke dalam kerasnya dunia individualistik-materialisme.
Sedang Auguste Comte mendefinisikan altruisme sebagai living for others. Dalam Bahasa Prancis ditulis sebagai “vivre pour autrui" dengan parafrasa bebas seperti ini: it follows that happiness and worth, as well in individuals as in societies, depend on adequate ascendancy of the sympathetic instincts. Thus the expression, Living for Others, is the simplest summary of the whole moral code of Positivism.
Baik Sorokin ataupun Comte menekankan bahwa altruisme merupakan prasyarat moral bagi terbitnya zaman positivisme. Zaman di mana manusia mencapai tingkat tertinggi dalam rasionalitasnya di tengah derap pacu kerasnya materialistik yang selalu berbasis untung-ruginya belaka.Â
Begitu pula dengan motif altruisme masyarakat Banjar dalam acara akbar tersebut. Mereka rela menyediakan semua akomadasi peziarah adan tamu dengan suka rela. Mulai dari makanan, tempat tinggal hingga sarana angkutan digratiskan selama berhari-hari. Mereka seolah merekonstruksi reses massa (tamu/peziarah) yang sangat membludak itu.Â
Sungguh menyedihkan ketika pandangan ekonomi dan kebijakan sosial materialistik telah memandang rendah altrusime. Bahkan lebih jauh lagi, mengesampingkannya dalam kemaslahatan masyarakat.Â
Ringkasnya, janganlah spirit altruisme sebagai ide maupun praktik makin dipinggirkan. Dengan menyorot sisi mutlak kemandirian dan swasembada, maka sisi probabilitas penyelesaian masalah yang berbasis kedermawanan akan sukses dengan altruisme.Â
Spirit altruisme dapat diterapkan untuk menghindari kecenderungan prilaku negatif di tengah pandemi ini. Altruisme akan mencegah orang untuk tidak melakukan  aksi rush atau penarikan besar-besaran uang dari bank.Â
Spirit ini juga akan mencegah mereka yang ingin melakukan penimbunan, aksi-aksi berbagai macam ketakutan ekonomi yang tak beralasan. Ataupun fobia-fobia nilai ekonomis yang tak perlu dilakukan.Â
Memang spirit altruisme tak sehebat strategi dan kebijakan makroprudensial dalam skala moneter tingkat tinggi. Namun, altruisme akan mendukung jalannya kebijakan makroprudensial tersebut.Â