Jika kita jalan dari Tanah Karo ke Langkat lewat Jalan Tembus Langkat-Karo ada daerah yang namanya Sagan Taneh. Sagan Taneh ini adalah Hutan Lindung, luas sekali. Pada saat ini Sagan Taneh itu dirambah oleh masyarakat, kurang lebih sudah 200 ha yang dirambah oleh kurang lebih 50 KK. Perambahan terus berlangsung sampai kapan?
Hal yang menarik dalam hal ini adalah pemerintah diam seribu bahasa, diperbolehkan atau dilarang merambah hutan lindung. Perambah itu sesungguhnya korban Gunung Sinabung. Mereka mencari jalan sendiri dengan merambah hutan lindung Sagan Taneh itu.
Masyarakat sesungguhnya menunggu kepastian dari pemerintah. Jika masyarakat dibolehkan merambah semestinya diatur agar mereka mendapatkan tanah secepatnya. Jika tidak maka secepatnya pula harus dilarang. Masih banyak korban Gunung Sinabung belum mendapatkan tanah untuk kehidupan mereka. Â
Hal lain yang menarik juga adalah hubungannya dengan Jalan Tembus Langkat-Karo. Pada saat ini jalan itu masih ada sekitar 4 km yang belum selesai dari sektor Langkat.
Seperti kita ketahui bahwa Gunung Sinabung itu masih terus meletus dan diperkirakan terus berlangsung sampai 5 tahun ke depan. Jika meletus maka jalan itu merupakan jalan evakuasi untuk lari ke arah Telagah, tempat penampungan pengungsi Gunung Sinabung.
Jika demikian halnya, alangkah baiknya kalau jalan itu diperbaiki demi keselamatan jiwa-jiwa. Lagi pula jalan yang masih rusak tinggal 4 km.
Alasan jalan itu tidak diperbaiki adalah karena hutan lindung. Menurut seorang teman Kepala Dinas Kehutanan, jalan itu bisa dipakai walau melintasi hutan lindung dengan Skema Pinjam Pakai Demi Kepentingan Umum. Dia yakin Bupati Langkat tahu akan prosedur itu. Prosedurnya, Bupati Langkat mengusulkan ke Kepala Dinas Kehutanan Sumut dan diteruskan ke Menteri Kehutanan. Â
Andaikan jalan itu sudah bagus seperti sektor Kabupaten Karo maka ada alternatif lain bagi pengendara mobil dari Tanah Karo, Dairi dan Aceh ke Langkat dan Medan. Jalan via Pancur Batu itu pada hari tertentu sudah over load.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H