Sebelum lebih lanjut membahas tentang teknik memainkan boneka, perlu penulis sampaikan bahwa tulisan ini merupakan pendapat subjektif berdasarkan pengalaman pribadi. Penulis sekarang adalah Penggiat dan Praktisi ventrilokuisme pada Komunitas Ventrilokuis Indonesia (Ventindo).
Sebelumnya, penulis berprofesi sebagai puppeteer di Jalan Sesama, sebuah program tayangan edukasi anak usia dini televisi nasional, yang digagas oleh USAID jalan Sesama Workshop.
Lebih jauh sebelumnya, Penulis secara rutin mendongeng bersama Komunitas Dongeng Minggu, sebuah komunitas yang menggagas pelestarian budaya mendongeng.Â
Berdasarkan pengamatan selama menjalani kegiatan storytelling, puppeteering dan juga mempraktekan ventrilokuisme, serta riset dari berbagai sumber, penulis merangkum dan menyampaikan opini dengan harapan akan ada pengkajian lebih lanjut dan berharap ada manfaat yang bisa diperoleh. khususnya para pelaku seni terkait.
*Â
TEKNIK MEMAINKAN BONEKA UNTUK MENDONGENG
Pada awalnya para pendongeng mengandalkan kemampuan lisan dalam menggiring audiensnya menuju dunia imajiner yang diciptakan dengan kekuatan perkataan semata.
Tuntutan pasar berubah, dan kini para pendongeng banyak menggunakan beragam perlengkapan guna menunjang performanya.
Salah satu perlengkapan yang paling populer adalah boneka karakter.
Agar dapat memainkan boneka dengan baik, para pendongeng seharusnya belajar banyak dari teknik yang dipraktekkan para puppeteer [dalang boneka].
Karena teknik-teknik puppetry yang dipraktekan para puppeteer memang menjadi acuan semua pergerakan dalam memainkan boneka.
Namun perlu disadari bahwa mempelajari suatu teknik berarti juga mempelajari adab atau pakem yang melekat di dalamnya.
Para Puppeteer dan ventrilokuis memiliki adab yang berbeda, adab tersebut akan berlaku pada masing-masing bentuk pertunjukkan mereka yang khas dan unik.
Adab ini berperan penting, karena mempengaruhi sikap pengguna boneka dan pada gilirannya memberi warna pada pertunjukkan yang dilakukan.
Bagi pendongeng, boneka lebih banyak berperan sebagai alat peraga atau media penggambaran/ilustrasi untuk menguatkan penokohan dalam cerita.
Hal ini tentu berbeda dengan adab para puppeteer yang menganggap boneka/puppet sebagai alat utama dalam bekerja dan berkarya.
Tanpa puppet, mereka bukanlah puppeteer, dan karenanya kedudukan puppet dalam hal ini adalah krusial, sebagaimana quote para puppeteer terhadap puppet mereka "A puppet is not a toy, it's a tool."
Contoh yang bagus untuk menggambarkan penjelasan penulis tentang bagaimana memainkan boneka dalam mendongeng adalah sebagaimana ditampilkan pada video youtube berikut:
Â
**
 TEKNIK MEMAINKAN BONEKA/PUPPET ALA PUPPETEER
Berbeda dengan para pendongeng yang menjadikan boneka sebagai visualisasi karakter dalam dongeng, para puppeteer membuat ilusi seolah-olah boneka tersebut hidup dan memiliki sifat, dan kemauannya sendiri.
Proses kreatif menghidupkan boneka ini dalam terminologi puppet theatre (teater boneka) dikenal sebagai "puppet acting."
Dalam praktek puppet acting, Seorang puppeteer bertugas menggerakan boneka sesuai dengan ekspresi emosi yang dikehendaki, sebagai reaksi terhadap stimulan yang terjadi di sekitarnya.
Ilusi boneka hidup ini sangat dijaga para Puppeteer. Dan untuk tujuan inilah para puppeteer menyembunyikan diri di bawah panggung atau di balik tabir ketika memainkan boneka.
Â
***
TEKNIK MEMAINKAN BONEKA DALAM VENTRILOKUISME
Terminologi ventrilokuisme menyatakan bahwa boneka sering disebut Vent Figure atau figure saja.
Di era terdahulu ada juga yang menyebut boneka sebagai DUMMY, namun belakangan ini mulai ditinggalkan, karena berkonotasi negatif apalagi untuk audiens anak-anak.
Para ventrilokuis memposisikan vent-figure sebagai partner dalam pertunjukkan mereka.
Hal ini tentu saja menyebabkan adab mereka dalam memperlakukan partner mereka tersebut sangat berbeda dengan para puppeteer atau para pendongeng.
Sebuah boneka ventrilokuis bahkan seringkali diajak diskusi atau malah beradu argumen dengan ventrilokuisnya. Layaknya partner manusia.
Berbeda dengan para puppeteer yang menyembunyikan seluruh badannya dari pandangan audiens, ventrilokuis malah tampil terlihat bersama bonekanya di atas pentas.
Lantas bagaimana para ventrilokuis tetap menjaga ilusi boneka hidupnya?
Pertama, ia harus menjadikan dirinya bagian dari pertunjukkan, sehingga kehadirannya di atas pentas menjadi penting. dan menentukan.
Ventrilokuis dan bonekanya memerankan dua individu yang berbeda, berbagi dialog serta merangkai konflik yang menarik dalam pertunjukannya.
Kedua, tidak seperti Puppeteer, alih-alih menyembunyikan diri, ventrilokuis hanya menyembunyikan fakta bahwa dialah sebenarnya yang mengisi suara boneka.
Teknik yang digunakannya adalah menahan gerak bibir dan rahang (still-lipsing) ketika memberi suara pada boneka,
Pada saat yang sama menggerakkan mulut boneka secara sinkron dengan ritme suara (lip-synchronising) sehingga tercipta ilusi seolah mulut boneka lah yang menimbulkan suara.
Fenomena efek pemindahan suara ini populer disebut throwing-voice.
****
Setiap pelaku seni dituntut untuk bersikap bijak dan tetap menghormati adab yang dijalankan para pelaku bentuk seni lain, apalagi bermaksud untuk melakukan penggabungan teknik dalam sebuah pertunjukkan.
Seorang Pendongeng, misalnya, yang hendak menggunakan boneka sebagai penunjang dalam pertunjukkan mendongeng, seyogyanya menggunakan kaidah mendongeng, sebagaimana diuraikan di atas.
Namun apabila hendak tampil dengan mempraktikan ventrilokuis, maka kaidah ventrilokuisme harus pula diterapkan baik dalam hal teknik maupun adab/pakem yang berlaku dalam ventrilokuisme.
Sekian
Semoga bermanfaat. (ARA/TYO)
Ditulis oleh: Ara Yogaswara (Dewan Pengawas Komunitas Ventrilokuis Indonesia (Vent Indo))
*****
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H