Beberapa peserta Wisata Kretek tak bisa menyembunyikan hasrat mereka untuk memboyong pulang asbak-asbak cantik itu.
“Saya melihat ketidakadilan. Semua tentang antirokok di Indonesia ini absurd, menurut saya,” sambung Noe.
“Konon katanya, rokok mengandung bahan beracun. Nggak masuk akal itu. Bahan apa? Untuk ngomong bahan beracun, kamu gak bisa ngomong bahannya aja dan gak ngomong dosisnya. Nasi goreng itu nggak beracun, tapi kalo kamu makan satu truk ya beracun. Vitamin C itu ya gak beracun, tapi jajal sekaleng?” ujar Noe, disembut gelak tawa para peserta.
Ayu juga tertawa sambil mengepulkan asap kreteknya. Dari samping, terlihat seperti Rara Mendut.
“Obat itu pasti mengandung racun. Tapi karena dosisnya tepat, dia jadi obat. Alexander the Great itu matinya karena minum obat, tapi dosisnya berlebihan.”
Ayu mendengarkan dengan seksama sambil sesekali menghisap kreteknya.
“Saya tidak pernah mendengar yang namanya penyakit rokok. Tapi saya sering dengar ada yg namanya penyakit gula. Tapi di mana-mana, gak ada penjual gula yang ada gambar yang mengerikan. Penyakit gula jelas lho. Produknya gula, menyebabkan penyakit gula. Jadi, makan gula menyebabkan penyakitnya. Ini lebih dekat itu jaraknya. Kalo rokok kan gak ada? Gak enak ini, gak adil.”
Ayu mengangguk-angguk, matanya menatap lurus ke depan.
“Semua yang dikonsumsi, mengandung resiko penyakit. Tapi kenapa cuma rokok yang dipermasalahkan. Rokok, rokok, rokok. Kalo mau adil, ayo kita kasih gambar serem semuanya. Semua tukang sate di pinggir jalan kasih gambar peringatan: Sate Kambing menyebabkan darah tinggi, zina dan perselingkuhan. Ini lebih dekat dengan bahaya.”
Ayu tergelak tertawa.
Bersambung ke bagian ketiga