Mari kita luangkan waktu sejenak untuk  mengamati keberadaan  rubrik Fiksi khususnya Puisi.
Disana begitu puisi yang dikirim oleh para penulis yang berbakat, namun bila kita perhatikan jumlah pembacanya, relatif sangat sedikit.
Apakah dengan demikian berarti para pencinta puisi sangat sedikit di kompasiana atau dengan kata lain animo pembaca terhadap karya puisi jauh lebih rendah dibandingkan dengan artikel lainnya semacam politik dan hukum misalnya?
Ataukah memang para penulis puisi di Kompasiana lebih banyak dari pada jumlah para pembacanya sendiri?
Atau apakah mungkin telah terjadi kesalahan dalam program, sehingga setiap hits tidak seluruhnya tercatat di dalam statistik yang menunjukkan jumlah real hits untuk masing-masing halaman puisi?
Sesuai pengamatan KW, jumlah artikel berupa karya puisi perhari antara 75 s/d 100 karya puisi. Hal ini menunjukkan betapa banyak kompasianer yang gemar menulis puisi, meski diantaranya ada penulis yang mengirimkan lebih dari satu karyanya per hari.
Namun apa yang terjadi dengan jumlah hits pada masing masing karya puisi tersebut?
Ternyata, rata-rata jumlah hits setiap puisi rata-rata tak lebih dari 25 hits. Bahkan ada karya puisi yang jumlah hits nya nol, atau 1 hits saja yang artinya sama sekali tidak sempat atau sampai terbaca?
Meski telah terpasang di halaman Headline pun, jumlah hits pada masing masing puisi tersebut juga tak lebih dari 400 hits. Padahal selama menjadi Headline, sebuah artikel bisa bertengger 4 hingga 7 hari. Â Hal ini berbeda kondisinya pada tahun lalu, dimana jumlah hits untuk artikel yang berupa karya Puisi rata-rata diatas 500 hits tatkala bertengger pada halaman Headline.
Bahkan sekarang ini, ada puisi yang hanya memperoleh 100 hits selama bertengger pada halaman headline. Namun demikian adapula beberapa puisi yang mencapai jumlah lebih dari 3.000 hits, tapi jumlahnya tentu relatif sangat sedikit.
Bila dibandingkn dengan artikel dalam rubrik POLHUKAM misalnya, dimana jumlah artikel baru pada rubrik ini per hari, bisa sampai dua kali lipatnya dibanding jumlah karya puisi, yaitu antara 150 - 200 artikel setiap harinya.
Sedangkan jumlah hitsnya pun jauh lebih banyak, yaitu rata-rata diatas 75 hits. Apalagi bila telah bertengger di halaman headline, artikel ini bisa mencapai ribuan bahkan puluhan ribu hits.
Memang, bisa saja hal ini terjadi karena situasi politik dinegeri kita sedang panas-panasnya, sehingga apapun artikel yang terkait politik praktis, sangatlah menarik perhatian untuk dibaca. Belum lagi ditambah kolom Trending Artikel (TA), yang seluruhnya berisi artikel non fiksi/puisi.
Hal ini tentu saja akan semakin menenggelamkan keberadaan karya-karya puisi, dan seakan ditelantarkan begitu saja.
Karya puisi adalah bagian dari karya sastra, dan patut untuk diberikan penghargaan dan kesempatan berkembang dengan baik di negeri ini.
Karya puisi berbeda dengan artikel lainnya seperti misalnya opini dan reportase yang mengupas semua permasalahan dan isu yang sedang terjadi, sedangkan di dalam karya puisi juga terdapat karya seni dalam menuangkan inspirasi melalui kata dan kalimat yang indah.
Oleh karena itu, pihak Kompasiana sudah waktunya untuk mengevaluasi kembali, keberadaan rubrik Fiksi pada umumnya dan Puisi pada khususnya, agar tidak terlindas oleh artikel-artikel poluler lainnya, sekaligus untuk  meningkatkan apresiasi kepada para kompasianer yang gemar menulis puisi.
Untuk itu, terdapat beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan menampilkan headline Puisi pada halaman utama kompasiana. Atau membuat semacam Trending Artikel Puisi, sehingga dengan demikian, akan memudahkan para pembaca untuk mengidentifikasi karya-karya puisi yang berkualitas di Kompasiana ini.
Demikian, semoga ada manfaatnya...
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H