Dan memang itu yang terjadi. Secara kualitas dan isi, kedua merek ini sama persis. Perbedaan hanya pada kemasan. Filma membuatnya terlihat lebih bening, sehingga kelihatan lebih bersih.
Dan memang akal sehat menjadi menarik ketika dibahas. Sebagaimana kelanjutan percakapanku dengan Bang Azmi.
"Di dunia ini terlalu banyak hal yang tidak lagi disaring melalui akal sehat. Semuanya diserap, hanya karena ia telah menjadi viral." Â
Eka Tjipta telah menoreh sejarah sebagai konglomerat besar Indonesia. Terlepas segala kontroversi yang mungkin pernah terjadi, kita dapat melihat bahwa usaha tidak mengkhianati hasil.
Eka adalah Eka, dan dia bukanlah Eka yang mudah menyerah. Ia juga bukan Eka yang hanya duduk ongkang-ongkang kaki, mengharapkan uang jatuh dari monetisasi.
Percakapan kami berdua berakhir dengan mengenang pertempuran dua raksasa. Kendati itu adalah bagian dari "akal sehat," tapi saya dan Bang Azmi setuju untuk tidak menggunakanya.
Saya dan Bang Azmi jelas berbeda. Saya berkulit putih, ia sawo matang. Saya bermata sipit, Bang Azmi jenggotnya lebat. Tapi, perbedaan tidak lantas "membedakan" kami.
Di rumahnya mungkin tersimpan Filma, di samping musollah kecilnya yang penuh kedamaian. Sementara Bimoli senantiasa tersedia di ruang sembahyangku.
Berbeda? Iya. Tapi itu bukan alasan untuk saling berbenturan. Bukan pula alasan untuk saling memaki karena masalah perbedaan fanatisme minyak goreng.
Merek bisa beda, kemasan bisa saja tidak sama. Tapi, kami berdua adalah Indonesia.
Jayalah Bangsaku, Jayalah Negeriku.