Mohon tunggu...
Widiyatmoko
Widiyatmoko Mohon Tunggu... Wiraswasta - Aviation Enthusiast | Aerophile | Responsible Traveler

Penggemar pesawat berbagai jenis dan pengoperasiannya serta perkembangannya melalui membaca.

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop Pilihan

[Analisis] Pembelian Pesawat Tempur FA 50 oleh Malaysia

30 Mei 2023   22:00 Diperbarui: 30 Mei 2023   22:14 860
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar: Republic of Korea Armed Forces ROKAF) via Wikimedia Commons

Malaysia dikabarkan telah melakukan penandatanganan pembelian pesawat militer mereka, diantaranya pesawat yang akan dibeli terserbut adalah pesawat jet tempur ringan FA 50 Light Combat Aircraft besutan Korean Aerospace Industries (KAI) sebanyak 18 unit.

Malaysia juga akan membeli pesawat patroli laut yaitu ATR 72 MPA (Maritime Patrol Aircraft) dan helikopter tempur UH 60 A sebanyak 4 unit untuk Angkatan Darat Malaysia (MA).

Pesawat KAI FA 50 ini merupakan varian paling mutakhir dibandingkan model dasarnya yaitu T 50 Golden Eagle yang merupakan pesawat jet latih dengan kecepatan supersonik, juga varian lainnya yaitu TA 50 yang merupakan pesawat serang ringan (Light Attack Aircraft).

Indonesia sendiri  merupakan salah satu pengguna pesawat T 50 ini dengan varian T 50i nya

Beberapa pihak mungkin menilai pembelian FA 50 ini sebagai ketidakmampuan Malaysia untuk membeli pesawat tempur sedang ataupun berat sekalipun namun kita tidak bisa melihatnya dari satu sisi saja karena pengadaan pesawat jet tempur bagi sebuah negara adalah termasuk bagian dari peningkatan kekuatan udaranya (air power) .

Pesawat jet tempur ringan juga tidak hanya dilirik oleh negara negara kecil saja, tetapi juga negara sebesar Amerika pun memilikinya dan bahkan menjadi salah satu kekuatan utama udaranya yaitu dengan pesawat F 16.

Amerika sudah memikirkan kebutuhan akan pesawat jet tempur ringannya (LWF) dengan dua kontraktor finalis berkompetisi yaitu General Dynamics dengan YF 16 dan Mcdonnell Douglas dengan YF 17.

Pada akhirnya General Dynamics lah yang menang dengan pesawat yang kini dikenal dengan F 16 (kini Lockheed Martin) , sedangkan YF 17 dari McDonnell Douglas akhirnya menjadi F/A 18 oleh Angkatan Laut Amerika (kini Boeing).

Pesawat jet tempur ringan memang secara kapasitas persenjataan dan daya tempuhnya tidak besar namun karena ukurannya yang kecil maka penampakan pada radar pun kecil dan tak tampak seperti pesawat tempur.

Hal ini akan menimbulkan efek kejutan (surprise) di sisi lawan. Sedangkan unsur kejutan merupakan salah satu faktor penentu kemenangan pertempuran di udara (air-to-air combat).

Hal ini karena pesawat lawan tidak memiliki waktu yang cepat untuk mengantisipasi kehadiran pesawat tempur ringan ini yang bahkan mungkin sudah mengunci pesawat lawan tersebut dan siap meluncurkan missile.

Dengan ukurannya yang kecil pula maka biaya perawatannya juga tidak sebesar pesawat tempur dengan ukuran lebih besar, dan karena itu pula maka biaya pengoperasiannya bisa dianggarkan untuk keperluan latihan pilotnya untuk meningkatkan ketrampilan tempur udara mereka.

Disini bisa disimpulkan bahwa Malaysia berencana meningkatkan ketrampilan para pilot tempurnya dengan biaya tidak tinggi sehingga akan tercapai keefektifan biaya operasional dan pelatihannya.

Harga per unit pesawat tempur ringan pastinya jauh lebih rendah dari yang berukuran sedang.dan besar, ini berarti sebuah negara bisa membeli lebih banyak unit dengan anggaran yang tersedia.

Bagaimana kita melihat rencana Malaysia membeli pesawat tempur ringan ini ?. Mari kita analisisnya bersama.

Dalam rencananya mereka juga akan membeli pesawat ATR 72 MPA atau Maritime Patrol Aircraft, dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa Malaysia membutuhkan pesawat untuk melakukan patroli wilayah lautnya.

Sebelumnya Malaysia memiliki pesawat MPA berupa dua unit Lockheed C 130 H-MP, pesawat ini hanya diproduksi sebanyak 3 unit oleh Lockheed, satu unitnya lagi dibeli oleh Indonesia dengan nomor ekor AI 1322 (w/o Sebayak, Nov 1985)

Tapi analisis kita tidak seharusnya berhenti disini karena salah satu peran dari pesawat jet tempur ringan adalah juga sebagai pesawat patroli pada perbatasan dan juga intai.

Sehingga kedua jenis pesawat ini dapat dikatakan sebagai satu kesatuan paket kebutuhan militer Malaysia yang saling melengkapi dalam mengamankan wilayah lautnya.

Dalam artian, ketika pesawat MPA mendeteksi adanya penyusupan oleh pesawat asing ke dalam teritorinya maka pesawat FA 50 dapat melakukan tindakan selanjutnya yang bisa pengusiran, pemaksaan mendarat dan lainnya.

Apakah ini ancaman bagi Indonesia ?

Jawabannya bila dalam konteks hubungan bilateral adalah bukan merupakan ancaman, namun Indonesia adalah salah satu negara yang berbatasan dengan Malaysia dimana kawasan kawasan perbatasan mereka perlu dijaga.

Juga dengan mengingat bahwa bila kita berbicara pelaksanaan di lapangan maka kemungkinan akan adanya ketegangan dan gesekan gesekan akan selalu ada.

Sehingga jawabannya lebih kepada hal yang perlu dicermati dan juga diantisipasi oleh Indonesia.

Salam Aviasi.

Referensi :

  • flightglobal.com/defence/malaysia-signs-contracts-for-fa-50s-atr-72mp-mpas-uh-60s/153442.article
  • en.wikipedia.org/wiki/KAI_T-50_Golden_Eagle
  • airandspaceforces.com/article/legacy-of-the-lightweight-fighter-competition/

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Vox Pop Selengkapnya
Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun