Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler 26 dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya telah berhasil menciptakan inovasi berupa pupuk vermikompos yang ramah lingkungan sebagai salah satu program utama kami dalam mendukung pengelolaan sampah organik di Desa Candiwatu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Inovasi ini hadir sebagai solusi atas keterbatasan ketersediaan pupuk di desa tersebut, sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.
Kelompok mahasiswa KKN Reguler 26 berfokus pada pemanfaatan limbah organik yang melimpah di Desa Candiwatu. Dengan metode vermikompos yang melibatkan cacing tanah, kami mengolah limbah organik menjadi sumber makanan cacing tanah tersebut sehingga menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi. Proses ini tidak hanya membantu mengurangi jumlah sampah organik, tetapi juga dapat menghasilkan pupuk yang kaya akan nutrisi untuk meningkatkan kesuburan tanah.
"Kami melihat potensi besar dalam pengolahan limbah organik menjadi vermikompos. Selain mengurangi jumlah sampah, produk ini juga dapat meningkatkan kesuburan tanah dan hasil pertanian" ujar Brahma Nanda, Ketua Kelompok KKN Reguler 26.
Selain berdampak positif pada lingkungan, produk vermikompos ini juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Mahasiswa KKN Reguler 26 bekerja sama dengan warga setempat dalam proses produksi vermikompos, sehingga diharapkan dapat membuka peluang usaha baru untuk meningkatkan pendapatan mereka.
"Kami berharap produk ini dapat menjadi salah satu sumber pendapatan baru bagi masyarakat. Dengan demikian, selain lingkungan yang lebih bersih, perekonomian desa juga dapat meningkat" ujar Dosen Pembimbing Lapangan kami, Sigit Ananda Murwato.
Tidak hanya memproduksi vermikompos, mahasiswa KKN Reguler 26 juga aktif memberikan edukasi dan pelatihan kepada masyarakat tentang cara mengolah limbah organik dan manfaat dari penggunaan vermikompos. Kami mengadakan kegiatan demonstransi yang melibatkan berbagai kalangan masyarakat, terutama target sasaran kami yaitu Gabungan Kelompok Tani.
"Kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan limbah organik masih perlu ditingkatkan. Melalui edukasi dan pelatihan, kami berharap masyarakat dapat lebih memahami dan menerapkan cara-cara yang ramah lingkungan dalam mengelola sampah" kata Emilia Ayu, salah satu anggota KKN.
Inisiatif ini mendapat respon positif dari masyarakat Desa Candiwatu. Banyak warga yang antusias mengikuti pelatihan dan mulai menerapkan metode pengolahan pupuk tersebut di rumah masing-masing.
"Saya sangat senang dengan adanya program ini. Selain bisa mengurangi sampah di rumah, saya juga bisa menghasilkan pupuk sendiri untuk tanaman di kebun" ujar Paidi, salah satu warga Desa Candiwatu.
Kehadiran mahasiswa KKN Reguler 26 dengan produk vermikompos mereka di Desa Candiwatu membuktikan bahwa kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dapat menciptakan solusi inovatif yang bermanfaat bagi lingkungan dan perekonomian. Semoga program ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengembangkan pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H