Mohon tunggu...
David Abdullah
David Abdullah Mohon Tunggu... Lainnya - —

Best in Opinion Kompasiana Awards 2021 | Kata, data, fakta

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Menyelami Sains Film Horor dan Alasan Mengapa Orang Gemar Menikmatinya Meski Menakutkan

31 Oktober 2020   12:00 Diperbarui: 2 November 2020   15:10 2128
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi film horor | www.people.com

Mengapa kamu tetap nonton film horor meski menakutkan? 

"Bang, satenya dua ratus tusuk. Makan di sini", ujar seorang wanita berwajah pucat membangunkan dua penjual sate Madura yang tertidur di lapaknya.

Salah seorang penjual sate itu pun meraih tusukan daging kemudian membakarnya. Sementara rekannya hanya diam terpaku melihat sosok pembelinya yang aneh itu.

Tidak ingin menunggu lama, direbutnya sate yang masih setengah matang oleh wanita misterius tersebut dan langsung memakannya saat itu juga. Dua ratus tusuk sate dengan sekejap ia habiskan.

Belum puas dengan 200 tusuk sate. Ia meraih dandang kuah soto yang masih panas lalu menenggaknya tak bersisa. Sontak, perilaku wanita berdaster putih nan lusuh tersebut membuat mereka merinding sekaligus terheran-heran.

Mereka berdua lalu memutuskan untuk mengintip ke arah punggung wanita itu. Keduanya lari tunggang-langgang saat mengetahui punggung wanita berambut acak-acakan tersebut ternyata berlubang. Sate dan kuah soto yang dimakannya tadi berceceran di bawah punggungnya.

Bagi generasi X dan Y tentu sudah tidak asing lagi dengan dialog dan adegan di atas. Sosok hantu Sundel Bolong yang diperankan oleh mendiang Suzanna itu sangat legendaris dan begitu membekas hingga saat ini.

Film berjudul Sundelbolong yang dirilis pada tahun 1981 masih menjadi rujukan visual tentang bagaimana rasa takut dan narasi hantu dalam film bergenre horor mesti dibangun.

Sundelbolong merupakan salah satu dari sekian banyak narasi hantu di Indonesia. Berbagai macam visualisasi sosok hantu dalam urban legend banyak menginspirasi industri perfilman di dunia.

Bagaimana reaksi kamu ketika nonton Sundelbolong atau film horor sejenisnya? Ketakutan, bukan? Jika benar ketakutan, mengapa kamu masih tetap saja nonton?

Ketakutan adalah respons alami untuk bertahan hidup terhadap ancaman atau bahaya, lantas mengapa kita menyukai sensasi tersebut?

Bahkan tak jarang sensasi merinding dan mencekam masih kita rasakan selama berhari-hari. Namun, kita tetap nonton film horor lagi dan lagi. Tiada kapoknya.

Ilustrasi film horor | www.wallpapercave.com
Ilustrasi film horor | www.wallpapercave.com
Rasa takut adalah candu. Itulah mengapa film-film bergenre horor tidak pernah sepi meraih penonton. Dengan teknologi yang semakin canggih, sajian film horor menjadi semakin nyata dan mencekam.

Uniknya, semakin seram dan mencekam sebuah film horor, justru akan semakin membuat para penggemarnya ketagihan, bukan sebaliknya. 

Penonton berharap dibuat terhibur lewat adegan mencekam. Dengan kata lain, kita membayar tiket bioskop untuk ditakut-takuti, aneh kan?

Perasaan mampu bertahan dari situasi mencekam menghadirkan privilise dan anggapan, bahwa tidak semua orang bisa menghadapi ketakutan. 

Mereka yang gemar nonton film horor mampu melawan rasa takutnya sendiri, bahkan juga menikmati sensasi diteror, diancam, serta ditakut-takuti melalui kejutan atau adegan menyeramkan.

Namun, fakta bahwa semua itu hanya rentetan adegan dalam sebuah film dan tidak akan benar-benar membahayakan atau mengancam, membuat penonton film horor menjadi terbiasa menikmati rasa takut tersebut sebagai hiburan yang bersifat adiktif.

Lain halnya jika kejadian bertemu dengan hantu atau fenomena mencekam lainnya merupakan pengalaman nyata. Bukannya terhibur atau ketagihan, malah justru bisa membuat kita trauma dan ketakutan sepanjang waktu.

Film horor memberikan kita kesempatan untuk mengidentifikasi dan berperang melawan ragam jenis "hantu psikologis". Bukan hantu di film yang sebenarnya kita hadapi, tetapi pikiran kita sendiri.

Kenikmatan yang didapatkan dari film horor bukan bersumber dari rasa takut, melainkan dari mekanisme pelepasan emosi (emotional relief) yang mengikuti situasi atau adegan menakutkan.

Ada perasaan lega yang tercipta setelah adegan penampakan ditampilkan atau usai kita nonton film horor dan keluar dari ruangan bioskop.

Meski demikian, film horor tidak untuk semua orang. Sebagain besar orang bisa menikmatinya, tetapi sebagian kecilnya tidak. Ketika kita menonton film horor, sistem tubuh akan melepaskan hormon adrenalin, endorfin, dan dopamin dengan takaran yang berbeda pada setiap orang.

Mereka yang mampu menikmati sajian film horor dapat memproduksi dopamin yang lebih banyak yang selanjutnya akan memberikan efek menyenangkan. 

Bagi penggemar film horor, keinginan untuk merasakan ketakutan merupakan manifestasi dari kepribadian adrenaline junkie (pecandu adrenalin).

Menurut seorang profesor komunikasi asal AS, Glenn Sparks, ketakutan adalah emosi negatif yang muncul ketika orang berada di bawah ancaman, dan itu tidak menyenangkan.

Selama penelitian, Sparks belum melihat bukti empiris bahwa orang benar-benar menikmati pengalaman emosional dari ketakutan. Ia hanya melihat bukti bahwa penonton menikmati hal-hal lain yang mengikuti pengalaman menakutkan itu.

Dari hasil penelitian, kata Sparks, hanya sekitar sepertiga orang yang mencari hiburan menakutkan. Sepertiga lainnya secara aktif menghindarinya. Dan sisanya dapat menerima rasa takut yang tidak terlalu ekstrim sepanjang hal itu masih bisa dinikmati.

Bahkan bagi penggemar berat film horor sekali pun, kebiasaan nonton film horor mampu menimbulkan emosi negatif yang bertahan lama di pikiran mereka.

Hal itu disebabkan karena rasa takut dan perasaan tertekan yang tersimpan di bagian amigdala sulit untuk dihapus oleh mekanisme kerja otak manusia.

Amigdala merupakan bagian otak yang bertugas dalam mengidentifikasi rasa takut serta membuat keputusan untuk mendekati atau menjauhi suatu objek atau situasi (fight-or-flight).

Reflek jeritan yang kita keluarkan pada saat-saat menakutkan pada dasarnya adalah sinyal peringatan bagi orang lain tentang bahaya yang ada di sekitar kita. 

Alasan mengapa adegan menyeramkan selalu berlatar di kegelapan ialah untuk memaksa otak kita berimajinasi dengan rasa takut kita sendiri meski tidak ada hantu atau monster yang ditampilkan.

Film horor dapat terus membuat orang ketakutan dalam waktu yang penjang. Taruhlah usai nonton film Sundelbolong, kita akan lebih ketakutan saat sendirian di tempat gelap atau saat berada di lokasi yang sepi apalagi yang berbau mistis.

Saking takutnya, terkadang sosok hantu yang ada di film horor yang kita tonton itu seolah-olah mengikuti ke mana pun kita pergi. Mengintip dari jendela. Duduk di kursi. Berdiri di pojok kamar. Bahkan sembunyi di bawah kolong kasur kita. 

Psikolog forensik Amerika Serikat, Glenn D. Walters, mengidentifikasi 3 faktor utama yang mendorong ketertarikan orang pada hiburan menyeramkan atau film horor, yakni ketegangan, relevansi, dan unrealism.

1. Ketegangan
Ketegangan adalah unsur pertama yang dirancang oleh sutradara dan produser dengan memasukkan elemen misteri, kepanikan, darah, teror, dan kejutan.

2. Relevansi
Film horor harus memasukkan elemen yang mudah diidentifikasi oleh penonton baik itu berupa relevansi universal yang melibatkan faktor ketakutan seperti takut akan kematian atau kegelapan, maupun relevansi pribadi yang berangkat dari pengalaman menakutkan individu.

3. Tidak Realistis (Unrealism)
Faktor terakhir yang diidentifikasi oleh Walters adalah tidak realistis (unrealism). Meski film horor menjadi semakin nyata, penonton selalu menyadari bahwa apa yang mereka tonton itu palsu (rekaan) dan mereka tahu semua itu dimaksudkan untuk menghibur.

Agar penonton dapat menikmati situasi menakutkan saat menonton film horor, mereka harus berada di lingkungan yang aman. Itulah mengapa kita menonton film di bioskop ataupun di kamar, bukan di tempat angker seperti rumah kosong ataupun kuburan.

Otak kita dapat memproses lingkungan sekitar kemudian menyimpulkan bahwa pengalaman itu bukanlah ancaman yang sebenarnya. Tidak berpotensi bahaya.

Jika kamu memaksa untuk menonton film horor di kuburan misalnya, faktor kesenangan itu akan berubah menjadi ketakutan yang benar-benar nyata dan bisa membuat kamu lari tunggang-langgang hingga terkencing-kencing.

Dolf Zillmann, profesor psikologi dari University of Alabama, mengemukakan teori Sosialisasi Gender dalam Journal of Personality and Social Psychology (1996).

Zillmann melaporkan bahwa pria paling menikmati film horor dengan ditemani wanita yang penakut, tetapi tidak terlalu menikmati apabila ditemani oleh wanita pemberani. Sebaliknya, wanita paling menikmati film horor dengan ditemani pria pemberani dan tidak bisa menikmati jika ditemani pria penakut.

Kesimpulannya, lebih baik kamu nonton sama gebetanmu dan bersikaplah seolah-olah kamu pemberani meski ketakutan setengah mati. Eh, memangnya ada yang mau diajak nonton, Mblo? ;)

Berbicara mengenai film horor, kurang lengkap jika tidak merekomendasikan judul. Sebuah riset bertajuk "Science of Scare Project" mengungkapkan sinema paling horor berdasarkan peningkatan detak jantung para pesertanya.

Setiap peserta penelitian telah dilengkapi dengan monitor detak jantung untuk melihat seberapa banyak detak jantung meningkat selama menonton film horor.

Dari sejumlah film horor yang dilibatkan dalam riset tersebut, tidak ada film yang memicu detak jantung paling banyak selain Sinister (2012).

Poster Sinister (2012) | cafmp.com
Poster Sinister (2012) | cafmp.com
Ketika menonton Sinister, detak jantung rata-rata setiap peserta meningkat sebanyak 32 persen dari detak jantung saat istirahat, dari 65 BPM (denyut per menit) menjadi 86 BPM.

Sinister berkisah mengenai penulis novel kriminal bernama Ellison Oswalt (Ethan Hawke) yang tengah mengalami writer's block. Ia memutuskan pindah ke rumah yang pernah menjadi lokasi pembunuhan untuk menemukan ide novel barunya.

Belum lama menempati rumah tersebut, Ellison dan keluarga mulai merasakan banyak kejadian aneh. Namun, ia terus meyakinkan anggota keluarganya untuk tetap tinggal di sana.

Suatu hari, Ellison pergi ke loteng rumah itu dan menemukan proyektor beserta beberapa gulungan film. Ia memutuskan menonton film tersebut dan mendapati isinya berupa seri rekaman pembunuhan keluarga. Anehnya, semua orang dibunuh secara brutal dan kejam oleh salah satu anak dari keluarga tersebut.

Usai menonton, Ellison mulai ketakutan karena teror semakin menjadi-jadi saja. Sosok hantu anak yang menjadi pelaku pembunuhan dalam film yang ia tonton pun mulai mengganggunya. Pada malam hari, Ellison bahkan melihat proyektor menyala dengan sendirinya.

Ellison yang semakin ketakutan lantas membakar gulungan film itu. Akhirnya dia mengajak keluarganya untuk pindah. Sayang, kepindahannya tak menyudahi teror yang tetap mengintai mereka.

Dari hasil riset tersebut ada 8 film lain yang mengikuti Sinister yakni Insidious, The Conjuring, Hereditary, Paranormal Activity, It Follows, The Conjuring 2, The Babadook, The Descent, dan The Visit.

Sudah siap nonton film-film di atas? Agar lebih greget sebaiknya nonton di malam hari dengan kondisi lampu mati dan kamu benar-benar sendirian di kamar. Mau nonton di kuburan? Boleh!

Jangan lupa sebelum nonton pastikan dulu kolong kasur kamu "aman", ya! ;)

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun