Mohon tunggu...
Kine Risty
Kine Risty Mohon Tunggu... lainnya -

Aku mencintai senja karena semburatnya memberikan kehangatan penuh dengan kerinduan dan sekarang terdampar di Thailand

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Layar Kotak Itu Telah Merebut perhatian Papa

18 Januari 2011   04:28 Diperbarui: 26 Juni 2015   09:27 287
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Koko beranjak kekamar mandi dan  membersihakan diri. Sejenak aku berbicara dalam hati, " mungkin setannya sudah pergi dari dalam dirinya" hemm...! Koko memang anak yang hiperaktif . Nakalnya membuat seluruh orang dirumah resah. Dia sering kesetanan marahmarah dan memukuli Sailo. Aku pikir harusnya dia dibawa ke psikiater kali yach!

***

Suara kunci membuat dua anak itu berlari dan  duduk kaku meja belajar masingmasing. Papa dan Mama mereka masuk. Wajah kaku terpasang didua orang yang betubuh subur itu. Dia tidak banyak bicara bahkan tidak memberikan senyuman kepada anakanaknya. Setelah mereka berganti baju dengan baju rumah, dia menyalakan layar kotak. dia duduk sejenak kemudia beranjak menujuk ruang makan sambil menjinjing koran. Menu telah siap dimeja. Dua orang itu menikmati makan malam dengan membisu. Sepeluh menit berlalu.

Dipanggilnya Koko untuk berdiri didepan pintu. Hemm... ini hukuman yang selalu diberikan kepada Koko kalau dia melakukan aksi nakalnya. Sedangkan Sailo yang jadi korban berpurapura mengerjakan PRnya. Setelah makan malam selesai dipanggilnya Koko kedalam kamar dan memarahinya habishabisan. Aku berfikir mereka kan memberikan nasehat dan setelah itu menyuruhnya kembali mengerjakan PRnya yang buanyak sekali, ach perkiraanku meleset, Koko disuruhnya berdiri didapur dengan dengan suasana yang gelap. Sedangkan Papanya kembali asik didepan layak kotak. Koko mulai menangis sesunggukan.

" Sauseng a lei, ngo emsun deng lei ko paseng ham a" teriak papanya dalam kamar. Koko dengan susah payah meredam tangisnya. Sedangkan diruang belajar Sailo terdengar gebrakan meja yang tak kalah keras. Mamanya marahmarah dengan Sailo karena tak bisa mengerjakan PRnya. Sedangkan papanya masih asik dengan layar kotak. Ngegame dan Ngegame. Kalau dia sudah bosan, dia akan pindah ke kamar mandi dengan NDS sambil menghisap rokok yang baunya membuatku tersengalsengal. Itu yang selalu menjadi kebiasaannya dari pada bercanda dan menemani anak-anaknya.

Brakkk! Buku dilempar kelantai

" Lei emsai fan hok" teriang sang ibu dari ujung ruang tamu. Aku sudah terasa lelah dengan semua ini. Hampir tiga tahun pemandangan seperti ini kulalui. Kalau aku sudah tak tahan akan ku ambil handfree dan menutup telinga sambil ngeblog. Yach inilah duniaku yang dimana aku hanya mampu berbicara dengan sahabat-sahabatku dengan bermaya ria dan lewat tulisan. Aku tak berhak atas diri mereka. Aku menyadari siapa diriku bagi mereka. Aku hanya mampu memberi nasehat kepada Sailo agar selalu menjadi orang yang sopan santun, dan jangan sekali-kali meniru seperti mereka.

Jam dua belas malam berlalu. Kulihat Sailo telah mendengkur dengan lelapnya. Aku tersenyum melihat wajah polosnya. Wajah anakanak yang masih lugu yang seharusnya membutuhkan banyak kasih sayang dan perhatian serta didikan yang membentuk karakternya. Dia tak lupa mengecupku sambil mengucapakan katakata " good Night" kepadaku. Yach hanya dia yang selalu berlaku seperti itu.

Diluar kudengar keributan yang memekakkan telinga. Sang mama dan Sang Papa bertengkar dengan hebatnya, karena sang mama tak terima ketika sang papa menghukum Koko untuk tidur dilantai dalam keadaan musim dingin 10 derajat. Aku takut mendengar keributan . Itu yang terjadi padaku sejak kecil. Kusudahi cerpenku dan tak ingin menuruskannya dulu. Kumatikan laptop dan cepetcepat memejamkan mata.

Catatan:

" Wai, papa" artinya " Hallo, Papa

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun