Bicara tentang Palestina maka yang ada dalam gambaran kita adalah heroiknya perjuangan akibat penindasan yang dilakukan oleh Israel. Kalau mendengar tentang Palestina maka yang muncul dalam diri kita adalah solidaritas yang dibangun berdasarkan nasib yang pernah kita alami juga ketika Indonesia dijajah.
Ketika kita mendengar tentang Palestina maka kita mendengar betapa dunia tidak berpihak kepada mereka. Ketika mendengar tentang Palestina maka yang ada dalam benak kita adalah keinginan untuk berjuang bersama membela kemerdekaan mereka, memberikan hak-hak mereka, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.Â
 Perang di Gaza Palestina bukanlah perang agama. Perang di bumi Palestina adalah perang kemanusiaan. Islam, Kristen, Katolik, bahkan warga Yahudi sendiri menjadi korban perang yang meluluhlantakkan tanah suci Yerusalem. Dukungan doa tak henti-hentinya berkumandang di seluruh dunia, bantuan kemanusiaan tak terhitung jumlahnya terus dikirimkan, meski harus melalui proses perjalanan yang panjang dan dipersulit, hingga upaya diplomasi dan gerakan boikot produk yang terafiliasi dengan Israel.
Totalitas dan Kepedulian Sastrawan
Totalitas para sastrawan dan penulis tidaklah main-main. Di usia senjanya Pak Taufiq Ismail masih bersemangat memimpin terselenggaranya acara ini sambil membacakan puisi berjudul "Palestina, Bagaimana Aku Bisa Melupakanmu" sekaligus sebagai pembuka parade. Menulis puisi "Di Tanah Gaza" di atas pewasat adalah bentuk totalitas Sekjen Kemendikbudristek Ibu Suharti yang begitu menghayati puisi hingga berurai airmata. Tak lupa Helvy Tiana Rosa atau HTR yang juga baru menuliskan puisi "Razan" di pagi hari sebelum berangkat, suaranya begitu lantang dan megelegar menyuarakan kebiadaban zionis melalui diksi-diksi yang menggetarkan jiwa.
Deretan sastrawan, penulis, politisi lainnya yang hadir menyemarakkan parade puisi untuk Gaza. Sutardji Calzoum Bachri, Fadli Zon (Palestina Memang Bukan Ukrania), Dewi Motik Pramono, Jajang C.Noor, Nissa Rengganis (Apa Kabar Palestina),Haryatie Ab Rahman (Tragedi Bumi Gaza), Zab Bransah (Luka Gaza), Toto ST Radik (Surat dari Gaza), Ahmadun Yosi Herfanda (Hapus Airmatamu, Palestina), Vito Prasetyo (Palestina Tanah Terluka), Agus Widiey ( Di Gaza), Imron Bintang (Lagu Perdamaian Palestina), Kurnia Hidayati (Obituari Bocah-Bocah Palestina), Imam Budiman (Mengunjungi Yerusalem Sebelum Perang).
Parade puisi ditutup dengan puisi pamungkas Jose Rizal Manua berjudul" La Haula Wala Quwwata Illa Billahil Aliyil Adzim"
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H