Hati mengatakan untuk selalu menjunjung amanah dan mengutamakan kejujuran. Tetapi tidak dengan otakku, mereka menyuruhku untuk memangkas uang kas dengan dalil tidak akan ketahuan.
Ketika tubuhku sudah muak dengan perdebatan mereka, diriku bereaksi seolah-olah ingin mengajak hati dan otakku untuk berdamai. Dan benar, susah payah tubuhku menyatukan mereka agar satu pemikiran pun berhasil.
Diriku yang pada dasarnya sulit untuk memiliki prinsip, seketika aku teringat akan sosok pemimpinku di Jateng.
Ingatanku melayang pada kejujuran dari gubernur jateng berambut putih itu. Dari sanalah yang akhirnya membuatku menolak mentah-mentah ajakan setan itu.
Istighfar berkali-kali dan terus menyebut nama Tuhan dalam hatiku. Temanku yang mendengar tolakanku pun langsung memasamkan wajahnya. Ia tak terima dengan keputusanku.
Dalam hatiku terasa lega, hati dan pikiran mulai bisa menerima keputusanku. Aku bersyukur, Tuhan melintaskan seorang Ganjar Pranowo dalam ingatanku. Betul, tidak salah lagi kalau dialah teladan bagi kami, para generasi milenial.
Karena dirinyalah secara tak langsung mencegahku untuk melakukan tindakan bodoh itu. Berkat jargonnya lah aku bisa membuat benteng pertahanan.
Tak hanya jargonnya saja yang membuatku bisa membentengi diri, tetapi memang perilaku suhunya Jateng itu juga sangat baik dan paling anti makan uang rakyat.
Gubernur berambut putih lah panutanku. Dari dialah banyak hal baik yang kupelajari serta kuterapkan.
Dari berita-berita yang kubaca, biasanya jika seorang pejabat atau pemimpin berlaku jujur pasti banyak yang akan menjatuhkan serta menjelek-jelekannya dengan berbagai cara.
Salah satu caranya dengan memfitnah. Ketika kutelisik berita apa itu, ternyata berita seputar Ganjar Pranowo yang sedang ramai-ramainya menjadi perbincangan publik