Kasus ghosting yang sedang hangat-hangatnya di masyarakat yaitu kasus ghosting yang dilakukan Kaesang Pangarep, putra Joko Widodo, dengan mantan pacarnya, Fellicia Tissue. Hubungan yang telah berjalan selama lima tahun kandas karena adanya orang ketiga.
Lebih parah dan panasnya lagi, ibunda Felllicia, Meilia Lau, menuliskan kekecewaannya di akun Instagram-nya. Dalam beberapa unggahannya, Meilia secara tak langsung menyebutkan bahwa kondisi mental putrinya hancur. Ia meminta putrinya kuat. Kemudian, Meilia menyindir kesuksesan laki-laki yang tidak terlepas dari peran seorang perempuan. "Sehebat-hebatnya laki-laki, tetap dilahirkan dari seorang wanita. Ingat itu. Terima kasih doa-doanya buat keluarga saya," tulisnya.
Hubungan Kaesang dan Felicia kandas setelah lima tahun berjalan karena Kaesang dikabarkan dekat dengan karyawannya, Nadya Arifta. Meilia mengaku kecewa dengan perilaku Kaesang yang tiba-tiba meghilang atau ghosting dengan putrinya. Berkat unggahan-unggahan Melicia, nama Kaesang, Fellicia, dan Nadya menjadi trending di Twitter. Opini warganet pun bermacam-macam menanggapi hal ini, tidak sedikit yang membela ibunda Felicia, tidak sedikit pula yang menanggapi Meilia sedang pansos atau panjat sosial.
Filsafat Stoa sering disebut sebagai aliran-aliran yang mengajarkan jalan hidup. Filsafat Stoa mengusung kebahagiaan yang tidak lazim. Kebahagiaan yang dimaksud adalah waktu di saat tenang dan damai. Bahagia adalah saat kita tidak terganggu oleh apa pun (nafsu, kecewa, amarah, rasa pahit, iri hati).
Filsafat Stoa mengajarkan untuk mencermati empat jenis emosi negatif yang menjauhkan dari kebahagiaan, yaitu iri hati, takut, rasa sesal atau pahit, dan kesenangan. Emosi negatif adalah opini dalam diri kita mengenai suatu objek tertentu. Opini itu yang akan mengakibatkan emosi negatif. Saat opini berkaitan dengan masa kini, yang muncul adalah rasa senang dan rasa sesal, sedangkan saat berkaitan dengan masa depan yang keluar adalah rasa iri dan takut.
Bagi Stoa, emosi negatif bukanlah hal di luar kendali kita, semuanya ada di dalam kendali kita. Kita sendirilah yang bisa mengatur, menyesuakian, dan mengendalikan itu semua. Dengan memahami bahwa emosi negatif adalah hal yang rasional atau di dalam kehendak kita, maka yang disebut dengan emosi negatif atau "perasaan liar" Â bisa dipahami, dipilah, dan disikapi untuk kemudian dilatih menjadi emosi yang baik.
Stoisisme percaya bahwa hidup dengan kebajikan/virtue/keutamaan dapat dikejar oleh kita semua. Dengan kemampuan mengendalikan emosi negatif, maka hidup yang tenteram, damai, dan tangguh akan hadir dengan sendirinya sebagai akibat.
Tujuan utama dari Stoisisme adalah hidup dengan emosi negatif yang terkendali dan hidup dengan kebajikan/virtue/keutamaan --- atau hidup sebaik-baiknya seperti layaknya menjadi manusia. Sebab, stoisisme meyakini, damai dan tenteram kokoh ada di dalam diri kita karena berakar dan datang dalam diri kita, bukan dari hal-hal eksternal yang bisa berubah, hancur, atau direnggut oleh kita.
Stosisme mengajarkan pada kita untuk menggunakan nalar dan rasionalitas pikiran. Nalar dan rasiolah yang membedakan kita sebagai manusia dengan binatang. Perbedaan di sini tidak hanya terletaka ada dan tidaknya otak, tetapi mengedepankan pikiran yang jernih berlandaskan nalar/rasio dan tidak hanya mengikuti hawa nafsu. Maksudnya di sini adalah sebisa mungkin, di mana pun, kapan pun kita tidak kehilangan nalar dan berlaku seperti binatang yang akhirnya berujung pada ketidakbahagiaan.
Stoisisme pun meyakini bahwa manusia adalah makhluk sosial, artinya hidup sebagai bagian dari kelompok yang lebih besar. Seorang praktisi Stoa --- seharusnya --- hidup secara sosial, berhubungan dengan orang lain, dan tentunya mengedepankan nalar/rasio. Percuma jika kita bijak dan tahu akan segala hal, tetapi mengisolasi diri sendri. Percuma juga kalau kita berinteraksi dengan banyak orang, tetapi dikuasai emosi negatif (marah, iri hati, dengki). Stoisisme mengajarkan pada kita ntuk hidup berdampingan dengan orang lain secara rasional dan damai.
Stoisisme juga meyakini bahwa segala kejadian yang ada di dalam hidup kita adalah hasil rantai peristiwa yang panjang, dari peristiwa "besar" sampai peristiwa "remeh" sekalipun. Stosisisme percaya tidak ada peristiwa yang betul-betul "kebetulan." Atau dengan kata lain, sssesuatu yang terjadi di masa lalu dan sedang terjadi di detik ini adalah hasil rantai peristiwa-peristiwa sebelumnya.
Sederhananya, kita ada di dunia ini bukanlah tanpa alasan. Kita dilahirkan oleh ibu kita. Ibu kita bisa melahirkan karena hamil. Ibu bisa hamil karena berhubungan dengan ayah---suami ibu kita. Ibu dan ayah berhubungan karena menikah. Mereka berdua menikah karena telah menjalin komitmen sebelumnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Pada intinya, tidak ada peristiwa yang benar-benar "kebetulan."
Stoisisme menekankan bahwa "ada hal-hal di bawah kendali kita dan ada hal-hal yang di luar kendali kita." Hal-hal yang di bawah kendali kita bersifat merdeka, tidak terikat, tidak terhambat. Akan tetapi, hal-hal yang di luar kendali kita bersifat lembah, bagai budak, terikat, dan milik orang lain. Atau bisa dikatakan, bersiaplah kecewa saat terlalu terobsesi dengan hal-hal yang ada di luar kendali kita.
Stoisisme mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa datang dari hal-hal yang ada di dalam kendali kita. Dengan kata lain, kebahagiaan sejati hanya bisa datang dari dalam. Begitu pula sebaliknya, kita tidak bisa menggantungkan kebahagiaan dan kedamaian pada hal-hal yang di luar kendali kita, seperti opini orang lain, keputusan orang lain, status dan popularitas, kekayaan, harta, jabatan, dan lainnya adalah tidak rasional.
Melihat kasus ghosting yang dialami oleh Fellicia dan respons dari ibunya, setelah mempelajari Stoisisme secara permukaan, kita bisa menyimpulkan bahwa Meilia, ibu Fellicia, marah terhadap hal yang di luar kendalinya, yaitu keputusan Kaesang untuk pergi meninggalkan anaknya. Keputusan Kaesang adalah hal di luar kendali ibu Fellicia, mau sebaik hati apa pun, semurah hati apa pun, kalau Kaesang memutuskan pergi ya akan pergi. Di sinilah peran Stoisisme dalam memetekan hal-hal yang rasional dengan hal yang tidak rasional.
Kita pun perlu memahami hal seperti ini. Memetekan hal-hal yang rasional dan melakukan sebaik kita bisa. Kemudian memetekan hal-hal yang tidak rasional dan jangan menaruh harap berlebih di hal tersebut, karena hanya akan menimbulkan kecewa. Fokuslah pada hal yang ada di dalam kendali kita. Seperti saat tengah menempuh hubungan dengan seseorang, berperilakulah sebaik mungkin, perlakukanlah pasanganmu sebaik mungkin. Masalah bertahan atau tidak, ditinggal atau tidak itu adalah hal yang di luar kendali kita.
Setelah memahami dan memetekan antara hal-hal yang rasional dengan yang tidak rasional, kita bisa lebih sedikit tenteram, nyaman, atau ikhlas saat ditempa/dihancurkan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Kita bisa menyikapi dengan kepala dingin, hati yang jernih, dan kemudian bersiap melakukan hal-hal yang ada di dalam kendali kita sebaik mungkin.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H