Mohon tunggu...
Khoirul Taqwim
Khoirul Taqwim Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta

Peneliti Tentang Kemasyarakatan

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Suara Pahlawan dari Pemakaman

26 Juli 2022   21:42 Diperbarui: 26 Juli 2022   21:54 146
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Wahai cucu dan anakku

Aku tinggal tulang belulang di pemakaman

Tahukah engkau tentang makna kemerdekaan?

Kemerdekaan tanah yang engkau injak ini

Membutuhkan pengorbanan yang begitu luar biasa

Kemerdekaan udara yang engkau hirup ini

Membutuhkan perjuangan yang panjang

Tidak cukup satu atau dua tahun

Kemerdekaan air yang engkau minum ini

Membutuhkan kerja keras dari para pendahulumu

Bahkan kemerdekaan yang engkau miliki sekarang

Merupakan kemerdekaan yang penuh dengan pengorbanan antara derita air mata dan darah

Tahukah engkau anak cucuku?

Kemerdekaan yang engkau nikmati lahir dari tulang belulang di pemakaman

Aku pertaruhkan nyawa dan raga untuk kemerdekaan

Kujual darah dan air mata kepada perjuangan

Namun aku tak akan menjual negeriku pada penjajahan

Maka teruslah kobarkan semangat perjuangan

Aku di pemakaman tinggal tulang belulang

Namun semangat darahku akan terus mengalir di sanubarimu

Maka teruslah isi kemerdekaan dengan penuh semangat pantang menyerah

Jangan serahkan kepalamu kepada kedzaliman

Jangan serahkan kepalamu kepada mereka yang hanya mementingkan pribadi dan golongan

Namun engkau harus tegak melihat samudra dan lautan

Lihatlah! Langit masih tegak menjulang

Walau air hujan dan badai turun terus menerjang

Itulah makna kemerdekaan tentang kepribadian luhur

Memandang kedepan dalam sebuah perjuangan

Anak dan cucuku

Suaraku dari pemakaman tinggal tulang belulang

Namun semangat yang kuwariskan kepadamu

Semangat darah kepahlawanan

Tak pernah padam

Walaupun air mata dan darah sudah kujual untuk kemerdekaan

Tetapi kewibaan negeri tidak pernah sedikitpun untuk di jual kepada negeri asing

Apalagi negeri kolonial

Maka tetaplah semangat

Itulah suaraku dari pemakaman yang tinggal tulang belulang

Namun semangatku tak kan luntur untuk diwariskan kepadamu

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun