OLEH: Khoeri Abdul Muid
Pada 10 November, kita memperingati Hari Pahlawan, sebuah momen sakral untuk mengenang perjuangan para pahlawan bangsa yang telah mengorbankan segala-galanya demi kemerdekaan dan kejayaan Indonesia.
Mereka berjuang dengan keberanian luar biasa di medan perang, tetapi mereka juga berjuang dengan semangat, cinta tanah air, dan tekad yang tak kenal lelah.
Apakah kita, generasi penerus, sudah cukup menghargai dan melanjutkan perjuangan mereka?
Di era yang serba cepat ini, pahlawan tidak lagi selalu muncul dengan pedang di tangan.
Pahlawan masa kini adalah mereka yang berjuang dalam diam, dalam kehidupan sehari-hari, melalui kontribusi mereka untuk masyarakat dan bangsa.
Mereka yang bekerja keras untuk keluarga, yang berjuang untuk pendidikan, yang berdedikasi dalam membangun bangsa melalui karya dan inovasi.
1. Teori tentang Pahlawan dan Perjuangan Sosial
Konsep kepahlawanan telah berkembang seiring berjalannya waktu. Max Weber, dalam teori karismanya, menggambarkan pahlawan sebagai individu yang mampu memimpin dengan memberi pengaruh positif terhadap orang lain.
Pahlawan zaman sekarang tidak lagi hanya berada di medan perang, tetapi juga mereka yang menginspirasi, memberi teladan, dan memimpin dengan contoh, di mana pun mereka berada.
Kepahlawanan kini lebih berorientasi pada kontribusi positif untuk masyarakat, menginspirasi perubahan, dan menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks.