Mohon tunggu...
Khalda Khairunnisa Fitriani
Khalda Khairunnisa Fitriani Mohon Tunggu... Foto/Videografer - Universitas Muhammadiyah Jakarta

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Mengenal sejarah Museum Nasional sebelum kejadian kebarakan dan sesudah kejadian kebakaran

30 November 2024   17:51 Diperbarui: 30 November 2024   17:51 77
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Nama : Khalda Khairunnisa Fitriani

Nim : 23010400103

Mata Kuliah : Psikologi Komunikasi ( L )

                                                                                  Mengenal Sejarah Museum Nasional Jakarta

Museum Nasional merupakan salah satu museum yang mewakili daya tarik wisata utama di Indonesia. Salah satu keunikan Museum Nasional adalah adanya simbol gajah pada sampul bangunannya, Oleh karena itu Museum Nasional disebut juga Museum Gajah.

Museum ini sudah ada sejak zaman penjajahan Hindia Belanda, namun setelah pengelolaannya dialihkan kepada pemerintahan Indonesia. Museum Nasional Indonesia atau Museum Gajah merupakan museum yang lahir dibawah pengaruh Eropa, khususnya semangat Renaissance abad ke-18

Berdirinya Museum Nasional diawali dengan berdirinya suatu perkumpulan bernama Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG).

BG merupakan lembaga independen yang didirikan untuk tujuan memajukan penetitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah. Lembaga ini mempunyai semboyan "Ten Nutte van het Algemeen" (Untuk Kepentingan Masyarakat Umum).

Gedung pertama dari museum ini adalah rumah dari JCM Radermacher yang terletak di Jalan Kalibesar, suatu kawasan perdagangan di Jakarta-Kota. Selain itu, ia juga menyumbangkan sejumlah koleksi benda budaya dan buku-buku miliknya. Sumbang dari JCM Radermacher inilah yang menjadi tanda berdirinya museum dan perpustakaan.

Memasuki tahun 1811, ketika Jawa dibawah kendali pemerintah Inggris, Raffles memerintahkan pembangunan gedung baru yang akan digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk Literary Society (dulu disebut gedung "Societeit de Harmonie"). Gedung tersebut berlokasi di Jalan Majapahit nomor 3.

Kemudian, pada tahun 1862 pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk kembali membangun gedung baru. Pembangunan gedung tersebut dilakukan di lokasi Museum Nasional saat ini, yaitu di Jalan Medan Merdeka Barat No. 12 (dulu disebut Koningsplein West). Tepat pada tahun 1868 atau enam tahun setelah semua pembangunan selesai dilakukan, gedung baru Museum Nasional diresmikan.

Pada tahun 1871, Raja Thailand, yaitu Raja Chulalongkorn (Rama V) berkunjung ke museum tersebut. Saat itu, ia memberikan hadiah kepada museum, berupa patung gajah perunggu. Hal ini yang menjadikan Museum Nasional dikenal dengan sebutan Museum Gajah, karena memiliki patung gajah yang terletak tepat di halaman depan gedung Museum Nasional.

Setelah kemerdekaan, tepatnya pada 26 Januari 1950 museum ini berubah nama dari Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Perubahan ini disesuaikan dengan kondisi waktu itu, sebagaimana tercermin dalam semboyan barunya: "memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya".

Pasca 1950, beberapa perubahan sempat terjadi dalam perjalanan museum ini, perubahan pertama terjadi pada 17 September 1962. Saat itu Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia, yang kemudian berubah nama menjadi Museum Pusat.

Selanjutnya, pada 28 Mei 1979 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, No.092/ 0/1979, Museum Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional. Sejak perubahan status tersebut Museum Nasional Indonesia berada dibawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI).

Fungsi Museum Nasional :

Museum Nasional Indonesia memiliki visi, yaitu "Terwujudnya Museum Nasional sebagai pusat informasi budaya dan pariwisata yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan peradaban dan kebanggaan terhadap kebudayaan nasional, serta memperkokoh persatuan dan persahabatan antar bangsa".

Berdasarkan visi tersebut, dapat dipahami bahwa Museum Nasional berfungsi sebagai pusat studi ilmu pengetahuan bagi warga Indonesia yang ingin mengetahui bagaimana peradaban Indonesia pada masa lampau. Selain itu, Museum Nasional juga berfungsi sebagai tempat pariwisata atau rekreasi yang dapat memberikan kesenangan bagi para pengunjung.

Koleksi Museum Nasional :

Hingga saat ini, Museum Nasional Indonesia memiliki sekitar 160.000 koleksi benda-benda bersejarah. Koleksi dari Museum Nasional dapat dibagi ke beberapa bagian, di antaranya:

1.Koleksi Prasejarah, seperti gerabah, kapak batu, peralatan yang terbuat dari tulang, tanduk, kulit kerang, kapak upacara, bejana upacara, nekara, dan manik-manik yang terbuat dari bahan kaca.

2.Koleksi Arkeologi, seperti arca dewa Hindu, arca Budha, arca perwujudan, arca binatang, ornamen, benda perhiasan, peralatan upacara, peralatan mata pencaharian hidup, bagian bangunan, alat musik, mata uang, prasasti, dan lain-lain.

3.Koleksi Numimastik dan Heraldik, seperti mata uang dan lambang tanda jasa.

4.Koleksi Geografi, berupa peta tentang aneka budaya bangsa Indonesia, peta kuno tentang dunia sekitar abad ke 16-19 Masehi, peta Indonesia abad ke 16 Masehi, peta perkembangan kota Batavia abad ke 16-17 Masehi, peta kota Banten lama tahun 1670 serta daerah lainnya.

Terdapat juga koleksi-koleksi berupa piring, mangkuk, botol, kendi, dan guci yang terbuat dari keramik (porselin) yang berasal dari Cina. Terdapat juga beberapa koleksi lukisan, seperti Raden Saleh, Affandi, Basuki Abdullah, dan pelukis asing lainnya

Museum Nasional setelah kebakaran :

Setelah selama satu tahun ditutup, Museum Nasional Indonesia, yang juga dikenal sebagai Museum Gajah, akhirnya dibuka kembali dengan tampilan baru yang relevan dengan masa kini.

Museum yang didirikan pada 1778 oleh kelompok ilmuwan Belanda itu adalah museum sejarah dan kebudayaan yang terletak di Jakarta.

Museum ini banyak menyimpan berbagai koleksi penting, seperti artefak arkeologi, etnografi, keramik, numismatik, dan benda-benda bersejarah lainnya yang mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah Indonesia.

Setelah lama berdiri dan menyajikan begitu banyak pengetahuan sejarah maupun budaya kepada pengunjungnya, museum ini terpaksa menutup pintu karena mengalami kebakaran.

Kejadian ini terjadi pada tahun lalu, tepatnya pada 16 September 2023. Kebakaran ini menyebabkan seluruh fasilitas dan beberapa koleksi sejarah yang ada di dalam museum rusak. Diduga, bahwa kejadian ini disebabkan oleh korsleting listrik yang terdapat di dalam museum.

Kurang lebih satu tahun tidak beroperasi, akhirnya para pecinta sejarah dan budaya serta seluruh masyarakat Indonesia dibuat tersenyum kembali dengan dibukanya kembali Museum Nasional Indonesia pada 15 Oktober lalu.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun