Kota Semarang, sebagai salah satu kota besar di Indonesia, kerap menjadi sorotan media terkait berbagai isu lingkungan dan bencana. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah artikel berita yang dilansir oleh berbagai media massa telah mengangkat masalah-masalah krusial seperti pembuangan sampah liar, banjir, tanah longsor, penurunan muka tanah, hingga kualitas udara yang memburuk. Analisis framing dari artikel-artikel ini menunjukkan pola bagaimana isu-isu tersebut dikonstruksi dalam pemberitaan, serta bagaimana dampaknya terhadap persepsi publik dan kebijakan pemerintah.
Framing Isu Pembuangan Sampah dan Polusi
Masalah pembuangan sampah liar di Desa Kaliancar dan penumpukan sampah di muara Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) mengemuka dalam berita yang diulas oleh Kumparan.com dan Kompas.com. Berita pertama menyoroti ancaman lingkungan akibat pembuangan sampah di hutan yang kemudian dibakar, menyebabkan polusi udara dan gangguan ekosistem. Meskipun ada upaya penanggulangan seperti program pengambilan sampah dari rumah ke rumah, namun tindakan ini belum efektif mengatasi masalah yang lebih luas.
Di sisi lain, berita mengenai muara Sungai BKT yang dipenuhi tumpukan sampah memframing masalah ini sebagai akibat dari curah hujan tinggi yang membawa sampah dari kawasan lain. Kedua berita ini menekankan pada dampak lingkungan yang serius, namun juga menyoroti adanya upaya-upaya penanggulangan yang masih bersifat parsial dan belum mampu menyelesaikan masalah secara menyeluruh.
Framing Bencana Hidrometeorologi dan Infrastruktur
Banjir dan tanah longsor menjadi masalah yang berulang di Kota Semarang, terutama saat musim hujan. Artikel dari CNNIndonesia.com dan Tribunnews.com melaporkan tentang bencana hidrometeorologi yang melanda Semarang, menekankan pada skala kerusakan dan dampaknya terhadap masyarakat. Banjir yang merendam jalur Pantura Kaligawe dan longsor yang terjadi di berbagai titik menjadi bukti betapa rentannya kota ini terhadap bencana alam.
Berita-berita ini juga mengangkat upaya pemerintah dalam menangani bencana, seperti pendirian posko darurat dan dapur umum, serta inventarisasi kerusakan oleh Dinas Pendidikan. Framing yang dihadirkan menyoroti respons cepat pemerintah, namun juga menggarisbawahi kebutuhan akan perencanaan yang lebih baik untuk mencegah bencana di masa mendatang.
Framing Penurunan Muka Tanah dan Tata Ruang
Penurunan muka tanah di Semarang, yang dibahas oleh CNNIndonesia.com, menjadi isu yang kritis, terutama dalam kaitannya dengan tata ruang dan penggunaan air tanah yang berlebihan. Artikel ini menekankan pentingnya kebijakan pengelolaan air tanah dan infrastruktur penanggulangan banjir, seperti pembangunan tanggul laut dan penggunaan pompa. Framing yang digunakan mengarahkan perhatian pada kebutuhan akan intervensi struktural yang lebih komprehensif untuk mencegah dampak yang lebih buruk di masa depan.
Framing Kualitas Udara dan Dampaknya terhadap Kesehatan
Masalah kualitas udara yang memburuk di Kota Semarang juga mendapat perhatian, seperti yang dilaporkan oleh Detik.com. Artikel ini memframing kualitas udara yang berada dalam zona oranye sebagai ancaman serius bagi kelompok rentan, seperti anak-anak dan orang tua. Imbauan dari Dinas Kesehatan untuk menggunakan masker dan menghindari kontak dengan orang sakit menunjukkan adanya kesadaran akan risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh polusi udara, namun juga mencerminkan keterbatasan upaya mitigasi yang dapat dilakukan dalam jangka pendek.
Kesimpulan
Framing pemberitaan mengenai isu lingkungan dan bencana di Kota Semarang mencerminkan realitas kompleks yang dihadapi oleh kota ini. Dari pembuangan sampah liar hingga penurunan muka tanah, dan dari banjir hingga kualitas udara yang memburuk, setiap berita menghadirkan narasi yang menyoroti dampak serius terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Meskipun ada upaya penanggulangan, framing yang digunakan dalam pemberitaan menunjukkan bahwa masalah ini membutuhkan pendekatan yang lebih holistik dan kebijakan yang lebih tegas untuk mengatasi tantangan lingkungan di masa mendatang.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H