Harapan dari Lautan
Di sebuah kota kecil di pinggir laut, tinggal seorang remaja bernama Yuigahama Hina. Ia adalah seorang gadis berusia 19 tahun yang penuh motivasi dan mendambakan lautan, namun Hina memiliki keterbatasan pada kakinya yang lumpuh. Hal ini membuat Hina harus menggunakan kursi roda untuk melakukan mobilitas. Meskipun jarang keluar rumah, Hina senang melukis karya tentang pemandangan lautan yang ia mimpikan dan bayangkan selama ini karena ia belum pernah menyentuh lautan. Ia hanya pernah melihatnya di internet. Hina memiliki nenek yang sangat menyayanginya, namun neneknya memiliki kebiasaan buruk, yaitu berjudi untuk mendapatkan uang, walau hanya untuk kesenangan saja. Nenek Hina sering kali pergi keluar rumah, sehingga Hina membutuhkan asisten yang membantunya dalam kehidupan sehari-hari sekaligus mengawasinya.
Di suatu sore, seorang pemuda bernama Akira Avdol yang berusia 21 tahun, bekerja di sebuah toko kecil di pinggir laut yang menyediakan banyak kosmetik bertema kelautan seperti kerang. Sore itu, ia sedang berjalan pulang ketika tiba-tiba seorang perempuan yang tidak ia kenal jatuh dari kursi rodanya.
"Aduh!" Hina terjatuh dari kursi rodanya dan menabrak seseorang yang sedang berjalan.
Seorang pemuda, sekitar dua puluh satu tahun, tersentak kaget. Melihat Hina terjatuh, ia langsung membungkuk, wajahnya tampak penuh perhatian.
"Kamu tidak apa-apa? Apa kamu terluka?" tanya Akira Avdol.
Hina mengangguk dan merasa canggung karena ia jarang sekali berinteraksi dengan orang baru, apalagi orang yang begitu ramah. "Terima kasih... um, siapa namamu?"
Pemuda itu lalu tersenyum. "Namaku Akira Avdol. Aku bekerja di toko kosmetik di pinggir laut. Apa kamu tinggal di sekitar sini?" tanyanya sambil memastikan Hina aman di kursi rodanya.
Hina mengangguk sambil menunjuk sebuah rumah sederhana yang tidak jauh dari mereka. "Iya, aku tinggal di sana. Namaku Hina. Sebenarnya, aku jarang keluar, jadi aku sedikit canggung."
Akira mengangguk mengerti, wajahnya tak berubah dari senyum hangat itu. "Kalau begitu, aku senang bisa bertemu denganmu, Hina. Bagaimana kalau aku menemanimu berjalan sebentar? Apakah ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"
Hina senang, hatinya berdebar tidak karuan. "Aku akan sangat senang jika kamu mau membawaku ke pantai," ucap Hina dengan grogi.