Mohon tunggu...
Keisya Ardhiana
Keisya Ardhiana Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Pelajar

Hobi saya menggambar, especially digital

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Flexing Barang Mewah di Media Sosial Menurut Hukum Islam

10 Oktober 2024   08:51 Diperbarui: 10 Oktober 2024   08:52 39
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Fenomena Flexing Barang Mewah di Media Sosial dan Tinjauan Hukum Islam

Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena flexing atau pamer barang-barang mewah di media sosial telah menjadi tren yang kian populer, terutama di kalangan milenial dan generasi Z. Pengguna media sosial dengan bangga memamerkan barang-barang mewah seperti mobil sport, tas bermerk, jam tangan mahal, hingga liburan mewah. Meski terlihat sebagai bentuk ekspresi diri atau pencapaian, fenomena ini tak lepas dari sorotan negatif, termasuk kritik yang mempertanyakan dampaknya terhadap nilai sosial dan moral. Dalam konteks Islam, perbuatan flexing juga mendapatkan perhatian khusus, terutama terkait dengan ajaran tentang kesederhanaan, sikap rendah hati, serta larangan terhadap perilaku sombong dan riya.

Pengaruh Sosial dari Flexing Barang Mewah

Fenomena flexing mencerminkan gaya hidup konsumtif dan hedonis yang cenderung mementingkan penampilan di hadapan publik. Banyak individu menggunakan media sosial untuk menunjukkan keberhasilan materi, yang sering kali menimbulkan tekanan sosial bagi para pengikutnya. Akibatnya, hal ini dapat memicu perasaan iri hati, kecemburuan, dan bahkan memicu gaya hidup yang tidak realistis atau tidak sesuai dengan kemampuan finansial seseorang.

Selain itu, flexing juga dapat memperkuat budaya kompetisi materialistik di kalangan masyarakat. Orang-orang berlomba-lomba menunjukkan siapa yang memiliki barang lebih mewah dan kehidupan yang lebih glamor. Padahal, tak jarang barang-barang yang dipamerkan tersebut dibeli dengan cara berhutang atau sewa hanya demi penampilan di media sosial.

Hukum Islam dalam Menyikapi Flexing

Dalam pandangan Islam, segala bentuk perilaku dan gaya hidup diatur oleh prinsip-prinsip moral dan etika yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah. Terkait dengan fenomena flexing, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan:

1. Larangan Sombong dan Riya
Islam sangat menentang perilaku sombong (takabbur) dan riya (beramal dengan niat ingin dipuji). Allah SWT berfirman dalam Surat Luqman ayat 18:

> "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18)

Flexing yang bertujuan untuk pamer, baik dengan niat sombong maupun sekedar mencari pengakuan dari orang lain, bertentangan dengan ajaran ini. Islam menekankan pentingnya sikap tawadhu' (rendah hati) dan tidak berlebihan dalam menunjukkan kenikmatan yang diberikan oleh Allah.

2. Kesederhanaan dan Hidup Bersahaja
Rasulullah SAW memberikan contoh hidup sederhana dan bersahaja meskipun beliau mampu hidup dengan kemewahan. Dalam Islam, hidup sederhana bukan hanya sekadar tidak berfoya-foya, tetapi juga menjauhkan diri dari perilaku konsumtif yang bisa menimbulkan kerusakan pada diri sendiri dan masyarakat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun