Lalu ia menceritakan kehidupan murid tersebut kenapa sampai tidak bisa menyelesaikan PR-nya. Karena setiap hari harus mengurus ibunya yang sakit. Mengurus pekerjaan rumah. Semua ia yang lakukan sendiri. Â Masak, menyapu, dan mencuci baju. Betapa melelahkan. Ayahnya bekerja di kota.Â
Semua murid terdiam dan merasa bersalah telah menertawakan teman sekelasnya. Bu guru pun terharu. Mereka akhirnya jadi paham dengan kondisinya.Â
Apakah anak yang mengerjakan PR lebih bernilai hidupnya daripada yang tidak?
Anak yang tidak mengerjakan PR itu sudah memberikan nilai di atas kehidupan, sementara anak-anak yang mengerjakan PR hanya akan mendapat nilai di atas kertas.
Manakah yang lebih bernilai?Â
Tentu saja hidup akan lebih bernilai bila kita mampu memahami kondisi seseorang bukan hanya dengan sibuk menghakimi atas kesalahannya.Â
Realitasnya kita sedemikian mudah menilai dan menertawakan kesalahan orang lain dengan apa yang kita lihat di depan mata. Padahal kita belum jelas mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi di balik kesalahan yang ia lakukan.Â
Kita tidak berusaha mencari kejelasan sehingga mampu untuk memaklumi apa yang sesungguhnya terjadi.Â
Seperti sudah dikatakan memaklumi kesalahan orang lain itu bukan berarti membenarkan kesalahannya, tetapi agar kita dapat membantu mengatasi kesalahan tersebut. Bukan justru penyesalan di kemudian hari karena telah salah menilai.Â
Ingat pula bahwa diri kita sendiri pun tidak lepas dari kesalahan. Bisa memaklumi dan memaafkan kesalahan orang lain, di lain waktu kita pun akan menerima hal yang sama.
____
@cermindiri, 27 Januari 2022Â