Memahami hal ini tentu saya tidak akan berani memberikan tip dan  kiat atau mantra dan ajian agar produktif menulis. Lagian takut kualat juga. Hari ini menulis tip produktif menulis, besok tahu-tahu berhenti menulis. Apa.kata netizen nanti?Â
Menurut saya, sehari bisa menulis beberapa ratus kata itu hal yang wajar. Tidak bisa masuk kategori produktif. Ada penulis yang bisa menulis ribuan kata ketika sebatang rokok belum padam atau segelas kopi belum tandas.Â
Oleh sebab itu saya tidak harus merasa bangga dengan pencapaian menulis dengan jumlah sekian. Angka bukanlah jaminan disebut produktif menulis.Â
Saya lebih merasa bangga ketika membaca apa yang sudah ditulis memberikan suatu rasa pada diri sendiri untuk refleksi. Syukur-syukur ada pula yang ikut merasakan rasa yang ada. Ini lebih berharga dalam pandangan saya.Â
Asal mau tahu saya hampir tiap hari omong kosong karena tidak mau dianggap penulis sok bijak. Yang hanya bisa menasihati, tetapi sendiri takbisa melakukan. Menulis omong kosong bisa jadi dikatakan sebagai pelarian atau terjerumus.Â
Yang lebih penting menulis omong kosong mengingatkan saya tentang  kejujuran.
Dengan kata lain ketika menulis omong kosong terasa lebih nyaman dan tenang dari tuduhan macam-macam sekalian menyindir diri sendiri. Kalau orang lain yang sindir malah bisa marah.Â
Dalam hal  omong kosong saya kira kebanyakan pernah berurusan dengan omong kosong ini. Jadi saya merasa lebih aman. Buktinya sampai sekarang belum ada yang menuntut saya dengan tuduhan omong kosong.Â
Bisa menulis dengan nyaman dan tenang itu lebih penting daripada mengejar produktivitas. Apalagi mengejar pujian, penghargaan atau label. Pasti akan lelah sendiri dan mengalami kekecewaan.Â
Pujian dan penghargaan sejati itu berasal dari diri sendiri.
Yang lebih penting adalah bukan masalah produktif atau tidak dalam menulis, tetapi bernilai kebaikan atau tidak bagi kehidupan.Â
@cermindiri 28 Agustus 2021Â