Begitu lawan telah di mabuk harta, kejayaan dan bahkan saling sikut dengan sesama mereka, maka musuh pun bersiap untuk melancarkan serangan dadakan yang akan mengantarkan mereka pada kehancuran.
Narasi ini hanyalah sebuah gambaran bahwa terlalu mengandalkan kehebatan kumpulan pendekar saja tidaklah cukup untuk menjadi jaminan bagi sebuah kerajaan akan memenangi sebuah pertempuran.Â
Sebab selain itu, ia pun harus melengkapi diri dengan racikan strategi perang yang jitu. Dan, lebih dari itu, ia pun masih harus dapat memastikan bahwa siapa saja yang terlibat di dalamnya akan mampu menahan diri dari pelbagai ambisi dan rayuan.
Sebuah pertanyaan yang akan menutup sekaligus menjadi refleksi atas tulisan ini adalah, apakah kiranya hal demikian juga berlaku untuk berperang melawan pandemi ini? Atau jangan-jangan kita telah mengibarkan bendera putih padanya sebab telah mengakuinya sebagai kawan.
Jika hanya itu yang terjadi maka tidaklah mengapa manakala ia nyatanya dapat berkawan dengan kita. Namun, bagaimana jadinya jika sosok yang kita harapkan menjadi seorang kawan itu justru berbalik menjadikan kita sebagai tawanan?
Ah, betapa kasihannya nasib para 'pendekar' itu. Semoga saja perjuangan mereka tak akan berakhir sia-sia. [mam]
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H