Mandi keringat di medan latihan itu lebih baik daripada mandi darah di medan laga.Â
Kalimat itulah yang barangkali sering menjadi pelecut bagi para pendekar agar ia makin rajin berlatih fisik dan ilmu kanuragan bersama dengan guru dan sejawatnya.
Mungkin tidak hanya mereka, saya sendiri pun sebenarnya seringkali dibuat terlecut setelah mendengar maupun memikirkan petuah tersebut. Akan tetapi jelas saya tidak akan menggunakannya untuk berlatih kanuragan seperti halnya pendekar tadi, namun untuk menerapkannya pada bidang yang lain.Â
Misalnya saja saya gunakan untuk memotivasi diri dalam belajar. Lebih baik belajar hingga letih daripada nilai ujian jeblok. Dan hal ini bisa saja dikembangkan untuk hal-hal lain.Â
Kendati demikian, seiring bergantinya waktu, saya pun menjadi terpantik untuk merenungkan kembali kalimat yang menjadi penyemangat dari para pendekar itu. Yakni setelah saya merenungkan sebuah pertimbangan lain:Â
Menghadapi lawan dalam keadaan yang bugar dan prima itu lebih baik ketimbang menghadapinya dalam keadaan yang letih akibat terlalu serius berlatih.
Sehingga yang menjadi pertimbangan saya berikutnya berdasarkan pertimbangan yang kedua ini adalah bagaimana membentuk pola latihan yang seimbang dengan kondisi fisik seseorang yang menjalaninya, sehingga hal ini akan menjadi tepat guna pada saatnya nanti.Â
Alasan lain yang memperkuat saya untuk mempertimbangkan hal ini adalah sebab perhitungan yang biasa dijadikan pertimbangan dalam olahraga sepak bola. Yakni di samping seorang pelatih harus mampu memperhatikan ketangkasan dan skill sang pemain, ia pun harus mempertimbangkan kondisi fisik mereka apakah dalam kondisi terbaiknya (on fire), cukup bugar, atau kurang sehat, pada saat hendak dimainkan.Â
Pernah suatu ketika saya membaca sebuah berita, bahwa sosok sekaliber Ronaldinho pun tidak dimainkan oleh Frank Rijkard, pelatihnya, gegera ia sedang menderita flu.Â
Bagi kita yang biasa bermain sepak bola keroyokan di kampung, mungkin saja sekadar pilek bukanlah penghalang serius untuk tetap bermain bola. Lantaran dalam satu tim kita bisa melakukannya dengan 15-an orang secara bersamaan. Sehingga jika kedua tim itu berada di lapangan, jumlahnya menjadi sekitar 30-an orang.Â