[4] Fouad Ajami, “Panggilan” dalam Francis Fukuyama dkk., Amerika dan Dunia (Jakarta: Kedutaan Besar Amerika Serikat Jakarta, Freedom Institute, dan Yayasan Obor Indonesia), hlm., hlm., 93 dan 96. Bagaimana dengan Muslim yang tinggal di Eropa? Lebih dari 70 persen umat Muslim Eropa, menurut sebuah kajian di seluruh Eropa tahun 2005, menggambarkan diri mereka memusuhi kaum ekstrimis Islam. Kebanyakan mempraktikkan merek Islam yang penuh perdamaian dan bertenggang rasa, dan banyak yang mengharapkan kebangkitan suatu bentuk Islam Eropa, melalui reformasi—reformasi yang menyesuaikan agama dengan dunia modern. Patrick Sabatier, “Sebuah Benturan Peradaban di Eropa?” (3 November 2006, www.commongroundnews.org)
[5] Ibid., hlm., 88-89. Kalau “Barat” merupakan suatu identitas yang bulat dan berkontradiksi sepenuhnya dalam kebulatan lain seperti “Islam” dan “Afrika”, lalu mau ditaruh di mana warga Amerika yang Muslim dan keturunan Afrika? Oleh sebab itu di Southfield, Michigan, menggelar penolakan anggapan bahwa permusuhan orang Barat dan Muslim tidak dapat dihindari. Warga Muslim Afrika Amerika telah berakar di Amerika selama empat abad. “Keamerikaan” mereka, kata Dawud Walid, “tidak perlu diragukan”. Namun mereka tetap menjadi Muslim. Dawud Walid, “Muslim Afrika Amerika Menolak Benturan Peradaban” (20 Juni 2008, www.commongroundnews.org)
[6] Zen Rachmat Sugito, “Ikhtiar Menjinakkan Identitas” (dalam Ruang Baca, edisi 15 Mei 2005, ruangbaca.com.)
[7] T.N. Harper, “‘Asian Values’ and Southeast Asian History” (dalam The Historical Journal, 40, 2, 1997), hlm. 507.
[8] Buranaj Smutharaks, “Lahirnya Demokrasi Liberal di Asia” (dalam kedai-kebebasan.org)
[9] Eddy Maszudi, “Realisasi Nilai-nilai Asia di Singapura” (dalam Suara Merdeka Kamis, 12 Agustus 2004)
[10] T.N. Harper, op. cit., hlm. 509.
[11] Goenawan Mohamad, Eksotpi: Tentang Kekuasaan, Tubuh, dan Identitas (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2002), hlm. 11.
[12] “Amartya Sen: “Di Indonesia, Mereka yang Tertindas Kehilangan Suaranya”” (dalam wawan cara dengan Amartya Sen, majalah.tempointeraktif.com)
[13] Goenawan Mohamad, loc. cit.
[14] Herbert Feith, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, (New York: Cornell University Press, 1962), hlm. xi.