“Kok bisa mereka melakukan itu? Maksud Bunda, kenapa mereka bisa tega membodohi anaknya sendiri?! Padahal itu kan kebohongan!?” kata isteri saya.
“Karena mereka juga lahir dari keluarga yang seperti itu. Sangat mungkin ayah atau ibu mereka dulu juga melakukan hal yang sama. Hasilnya juga tidak akan jauh berbeda. Buah apel jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Kalau sejak awal kita ajari bohong, wajar kalau jadi kelak jadi pejabat perilakunya korup. Sebabnya sudah jelas : sejak mengerjakan Pe-Er saja sudah diajari bohong. Jadi ya akan melahirkan generasi koruptor juga,” kata saya.
“Berarti kita memang harus lebih berhati-hati, Yah. Kalau salah didik, anak kita jadi generasi korup juga,” isteri saya menimpali. Ada rasa khawatir yang seketika menyemburat dari bantinya.
“Makanya, jadi orang tua itu berat. Sebab bukan sekadar melahirkan anak, tapi juga harus bertanggungjawab pembentukan wataknya. Orang tua jangan memberi tauladan. tapi harus menjadi tauladan. Ketauladanan bukan pada lisan tapi pada perilaku, termasuk mengerjakan Pe-Er tadi. Tanggungjawab kita bukan hanya setahun dua tahun, tapi untuk ribuan tahun ke depan,” kata saya.**
Bukit Lama - Palembang, 3 Seprember 2015
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI