Di mata saya keunggulan Jakarta hanya dua kok. Pertama, peluang kerja dan peruntungan lebih terbuka untuk mencari uang. Kantor pemerintahan dan swasta di berbagai bidang yang punya jaringan luas umumnya berpusat di swasta, kantor media yang terkemuka, hotel-hotel besar, otomatis usaha jasa, kuliner untuk mendukung kebutuhan itu juga banyak.
Kedua, Perpustakaan Nasional dan perpustakaan besar berada di Jakarta. Isinya literasi yang sebagian besar tidak ada di internet karena digital yang lengkap sulit terwujud dan sebetulnya bukan di Indonesia saja. Â Pendeknya Jakarta mempunyai kekuatan informasi.
Jika Ibu Kota pindah apakah keunggulan itu lenyap? Tidak. Kantor-kantor pemerintahan dan swasta akan tetap di Jakarta. Peluang kerja  akan tetap besar di Jakarta. Semua didukung infrastruktur yang lebih tertata.  Â
Tidak mungkin juga memindahkan perpustakaan nasional keluar  ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Saya tidak membayangkan repotnya karena itu menyangkut naskah lama yang berisiko. Perlu berapa tahun dan biaya yang sangat besar.
Hanya dua hal itu membuat saya masih berpikir untuk tinggal di pinggiran Jakarta dan menjadikan Jakarta untuk tumpuan. Selain memang karena lahir di Jakarta. Kalau seandainya saya orang kaya dan punya dana besar, saya sudah berencana hengkang ke Bandung atau Malang dengan membawa buku-buku, literasi. Bekerja atau membuka usaha di salah satu dari dua kota itu.
Saya yakin dan pernah saya tulis tanpa dua hal ini dan seandainya di daerah tersebar pusat ekonomi, serta perpustakaan memadai serta infrastruktur mencukupi, saya jamin malah akan  terjadi deurbanisasi. Para pendatang dan keturunanannya yang punya keterikatan budaya kuat dengan daerah asalnya akan kembali. Mungkin fenomena mudik tinggal sejarah dan kalaupun ada hanya sedikit.
Perluas RTH dan Revitalisasi Taman
Baiklah, kalau begitu apa masukan bagi Jakarta. Pertama, perluas ruang terbuka hijau untuk meredam polusi. Dikutip dari data boks pada 14 Desember 2023, RTH  Jakarta  hanya 5,2 persen atau sekira 33,4 juta meter persegi dari seluruh luas lahan. Sangat tidak memadai dari syarat 30% untuk persyaratan minimum sebuah kota.Â
RTH ini bisa mengurangi banjir dan sekaligus menjadikan taman-taman rekreasi yang bisa meredam stress akibat kerasnya kehidupan, serta gratis. Sejumlah RTH direvitalisasi menjadi taman  menunjukkan hasil yang bagus. Contohnya Tebet Eco Park, yang langsung disambut oleh warga Jakarta sebagai tempat rekreasi yang murah meriah. Ini yang harus banyak dibutuhkan warga Jakarta. Penggagasnya juga cerdas karena didukung konservasi air.Â
Ingat situs Iqair.com selalu menyebut Jakarta, serta daerah sekitarnya seperti Tangsel sebagai kualitas udara yang terburuk  bahkan kerap jadi juara dunia, berada dalam kisaran 160-an hingga 180-an. Tentunya berdampak bagi kesehatan warga. Semakin banyak RTH ini maka karbon terserap makin banyak.