Mohon tunggu...
irvan sjafari
irvan sjafari Mohon Tunggu... Jurnalis - penjelajah

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Seperti Burung Belajar Terbang dengan Sayap Sendiri: Garuda Indonesian Air Ways 1950-1958

23 Oktober 2015   14:07 Diperbarui: 24 Oktober 2015   04:14 798
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

“Bagi kami pemesanan barang-barang atau alat-alat yang rusak sesuatu yang istimewa, karena sebagaimana tuan-tuan ketahui setiap  alat tidak boleh lama terletak dan tak terpakai dan dengan demikian capital yang tinggal terpendam menjadi tidak berguna,” kata Konijnenburg.

Merintis  SDM dan Pengangkutan Jemaah Haji

Pada  1952  untuk  mendidik SDM  pemerintah membuka sekolah penerbangan di kawasan Gempol,  Kemayoran  untuk kemudian dipindahkan ke Legok, Tangerang yang kelak dikenal publik  sebagai Sekolah Penerbangan Curug.  Pada 1953 tercatat 30 calon pelajar yang diterima  menjadi calon penerbang.  Dari  jumlah itu hanya 16 penerbang  yang bertahan.  Sementara untuk syahbandar udara dari 26  tinggal 18 siswa. Selain itu dididik  juga ahli  mesin kapal terbang, rombongan pertama 11 pelajar dan kedua 19 pelajar, serta ahli radio telegrafis  masing-masing 10, 14 dan 20  murid.    

Pada 12 Juli 1954  pemerintah  mendidik tenaga-tenaga Indonesia untuk kelak menggantikan tenaga asing sekitar 420 orang di Curug. Untuk keperluan pendidikan ini disediakan biaya yang terus bertambah yaitu Rp1,5 juta pada 1954, Rp5 juta pada 1955, Rp8 juta pada 1956 dan  Rp8,5 juta pada 1957. Pada 1954 dikirim 25 calon pilot untuk dididik di Hamble Inggris atas biaya pemerintah. Pada tahun itu juga 10 orang yang lulus dan mendapatkan diploma penerbangan dari Hamble, sudah pulang ke tanah air.

Jam Terbang  GIA bertambah dari 37.376 pada 1952  menjadi 40.240  pada 1953.Sementara penumpang yang diangkut pada 1952 sebanyak 292.803  menjadi 307.757 pada tahun berikutnya. Jumlah barang bagasi meningkat dari 4.084.305 menjadi 4.171.606 pada 1953. Hingga 1954 GIA  diperkuat 106 penerbang, 47 ahli teknik penerbangan, 49  telegrafis yang semuanya berkebangsaan Belanda.  Baru pada 1954 penerbang Indonesia  terlibat.  

Garuda merintis pengangkutan Jemaah Haji pada 1953.  Tercatat 238 orang Indonesia diangkut dalam lima gelombang. Germania Soeradiredja salah seorang  rombongan menyebutkan bahwa rombongannya  berangkat pada 11 September 1953 dari  Kemayoran dan tiba di  Jeddah pada 13 September 1953, melintasi rute Medan, Bangkok, Calcutta, New Dheli, Bahrain, Jeddah. Di beberapa persinggahan, rombongan dijamu oleh pegawai  kedutaan Indonesia. Pada  masa itu pengalaman naik haji dengan pesawat terbang adalah hal yang baru.  

Nasionalisasi GIA

Menjelang akhir 1950-an terjadi perubahan penting bagi GIA. Politik yang telah ditempuh Kabinet Karya untuk perjuangan membebaskan Irian Barat dan pembatalan KMB memberikan konsekuenasi GIA untuk terbang dengan sayap sendiri.  Perusahaan seratus persen jatuh ke tangan pemerintah Indonesia, sekalipun ada  persetujuan dari kedua belah pihak  bahwa sampai 1960 KLM tetap memberi bantuan tenaga ahli kepada GIA.  

Pikiran Rakjat Bandung edisi  15 Juli 1957  memuat iklan GIA  rute dari bandara Husein Sastranegara. Disebutkan penerbangan dari Bandung ke Denpasar sebesar Rp765 per penumpang, ke Padang Rp1.010, ke Yogyakarta Rp310, Medan Rp1.430. Sementara tariff barang per kg untuk tujuan Denpasar sebesar Rp 4,60, Yogyakarta Rp2,05, Makassar Ro 7,25.   Ada penerbangan ke Jakarta dengan biaya Rp100 per penumpang dan bagasi sebesar 65 sen per kg.

[caption caption="Iklan garuda di Pikiran Rakjat "]

[/caption]  Sejak 2 Desember 1957 KLM dilarang melakukan pendaratan di wilayah Indonesia, mendorong GIA untuk melayani transportasi udara.   Akhir Maret 1958 sebanyak 287 tenaga asing yang dierbantukan di GIA di antaranya 65 penerbang mulai berangsur meninggalkan Indonesia. Pada desember 1957 jumlah penerbang KLM yang diberbantukan di Indonesia sebanyak 300 orang.   Pada maret 1958 Menteri Perhubungan Mr. Sukardan sudah melantik 8 orang kapten Convair dan 4 Kapten  Dakota dari bangsa sendiri.  Pada 1958 GIA baru memiliki 8 Convair jenis 240-S dan 8 jenis 340-S, serta 16 pesawat Dakota.

Chief Flight Department Kapten  Partono  mengakui bahwa penerbang Indonesia harus menghadapi kenyataan bahwa jarak antara Sabang hingga Merauke sejauh 5200 Km sebanding dengan peberbangan dari London ke  Montreal.  Sementara penerbangan dari Sabang ke Surabaya sejauh 2500 Km sama  dengan penerbangan London ke Moskow.  Pada 1958  GIA mengangkut 40.000 penumpang, 200 ton pos dan 1236 bagasi.   Jumlah penumpangnya meningkat hampir 50% dibanding 1950.   

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun