Mohon tunggu...
Nafian Faiz
Nafian Faiz Mohon Tunggu... Wiraswasta - Membangun Komunitas

Hidup bermanfaat

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Kisah harubiru dipenjara dunia

18 Desember 2011   07:43 Diperbarui: 25 Juni 2015   22:06 411
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kisah mengharu biru dibalik penjara dunia

Kisah ini disampaikan seseorang kepada Jamaah sholat Ashar Masjid Attaubah Rumah Tahanan (rutan)

Saudaraku para jamaah sholat ashar dan narapidana sekalian yang saya hormati, mudah2an Alloh selalu melimpahkan Rahmat dan Makhfiroh kepada kita semua,amin.

Tadi sebelum zuhur saya dapat kiriman makanan dari isteriku,sebuah kardus me instan,dititipkan isteriku dengan guru SDN dikampung yg akan menghadiri undangan Acara di Kabupaten yang kantor tak jauh dari rutan ini.

Setelah sholat zuhur tadi,saya mengajak beberapa kawan dari kamar yg lain untuk makan bersama, ada pak Haji Hendi,ada Pak Haji Ratno-

(sekedar info,beliau berdua ini sudah usia lanjut,pak haji Hendi pensiunan 3 tahun lalu sebabagai kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten,vonis satu tahun penjara,seharusnya beliau sudah pulang,tapi rupanya beliau menjadi "korban" radio gram Waminkuhham tentang pengetatan masalah hak2 para narapidana,seperti cuti bersyarat,pembebasan bersyarat juga remisi hari raya dan hari kemerdekaan,
Sedang pak Haji Hendi, juga sudah tua usianya hampir sama keduanya,beliau seorang pengusaha, baru masuk tahanan dua bulan ini,beliau tersangkut masalah tanah dengan PT silva inhutani,sebuah perusahaan yang lagi heboh diberitakan seminggu ini,beliau divonis 3 tahun lebih dan sedang proses hukum ditingkat banding- Sudah biasa kalau ada makanan,kami makan bersama,ya untuk sekedar berbagi dalam masa sulit ini,terkadang juga kami mengajak makan bersama jamaah sholat makhrib setiap malam jumatan setelah kami baca yasinan bersama)-

Barusan saja kami ( berlima,3 rekan satu sel dan 2 rekan tersebut diatas) selesai makan,hape butut memberikan tanda,bahwa ada sms masuk,segera kuraih hape tersebut, rupanya ada sms dari isteriku,kubaca isi pesannya:

SMS Pertama:
"Semoga Alloh selalu melindungi dan merahmati kita semua,semoga kiriman paket makanan sudah bapak terima,
kabar kami semua sehat alhamdulillah,semoga bapak demikian juga,amin,bapak enggak puasakan hari ini,udah dimakan ya,enak enggak sambelnya? tanya isteriku.

SMS kedua:
Pak,.....lanjut sms isteriku,
Mangga 3 buah itu pemberian pak Suranta,
Susu Energen rasa jahe 10 bungkus dari ibu Tin guru SD yang punya warung dipasar,Kopi Tarobika dari Om Pusagi yang Warungnya dekat Rumah,
Kacang panjang seikat untuk lalapan makan bapak dari ibu isteri alm Susilo,
Roti dari mamak Ikin,
Sambel Ikan Kating dan sambel udang aku masak sendiri, ikannya hasil usaha anak laki2 mumpunie dan kawannya anak Mang Ali,udangnya dari mas Suparman saudara Nano korin desa Sentosa dia sudah beberapa kali kasih kita udang,ungkin dia habis panen.

SMS ketiga:
Maafkan aku ya suamiku,hanya itu yang dapat aku berikan,salam dari anakmu Najwa dan abang Mumpunie besok mereka bagi lapor,semoga bapak selalu diberikan kesabaran ,doakan juga kami ya pak,...kalimat terakhir isteriku dalam sms bersambungnya.

Air mataku menetes saat membaca pesan tersebut,saudaraku (dan sungguh saya menangis saat saya menyampaikan kisah ini dihadapan kawan-kawan para jamaah,juga saat saya menuliskan kisah ini,beberapa kali saya harus menyeka air mataku yang terus membasahi pipiku,saya bersalah pada mereka.

Saudaraku masih ingatkah kawan-kawan dengan bapak Anton Sutrisno?, anaknya yang seorang polisi muda belum menikah,sakit lalu meninggal dunia 3 bulan lalu,salah satu asbabnya adalah karena tak tega melihat bapaknya dipenjara.

Saya juga punya kisah,awal tahun 2011 waktu masih ditahan di Mapolda,anak perempuan saya " Najwa" yg masih sekolah TK kecil tiba tiba jatuh sakit,awalnya hanya demam dimalam hari,tetapi beberapa hari berikutnya beliau Muntah darah beberapa kali,yg akhirnya segera dirujuk ke rumah sakit di ibukota propinsi,tapi aneh setelah dilakukan analisa medis tidak diketemukan penyakit,dan sembuh setelah deketemukan dengan saya.

Saudaraku para jamaah,cerita ini kusampaikan kepada kawan-kawan semua,agar kita semua disini,yg saat ini sedang menjalani hukuman ini memahami bahwa diluar sana, ibu kita,isteri kita,anak-anak kita,saudara kita mungkin lebih menderita dari kita disini,ibu mana yang tidak menangis melihat anaknya dipukul massa, atau mungkin juga dipukuli oleh pihak keamanan,akibat anaknya tertangkap tangan saat mencuri Hape,mencuri sawit,mencuri getah karet, ditembak kakinya habis begal motor,rampok dan memperkosa,
Sungguh andaikan bisa,mungkin ibu kita siap menggantikan hukuman ini,berapa banyak diantara kita yang bapak,ibu,isteri dan anak2 kita harus habis harta nya,akibat tertipu calok mafia hukum- berupaya agar kita tidak ditahan, yang saudara ambil mungkin hanya hape,rokok berapa bungkus,getah karet tak lebih 2 kg,tapi puluhan juta uang sudah melayang mengurus perkaranya,atau mungkin diantara kita ada yg korupsi sepuluh dua puluh juta,tapi sekarang uang dan harta saudara sekarang habis,unutuk menutup kasus agar tidak masuk ke ranah hukum,tapi.....akhirnya kita sampai juga disini.

Isteri mana yang tidak bersedih harus berpisah dengan suaminya?
Anak mana yang mau kehilangan kasih sayang orang tuanya,belum lagi beban moral mereka akibat anaknya,suaminya atau bapaknya dipenjara,

sekali saya katakan mungkin kita kuat menjalani hukuman ini,tapi mereka diluar sana lebih menderita dari kita.

Saudaraku,waktu saya di Mapolda ada tahanan yang baru masuk bapak Suhaili namanya umurnya hampir 60 tahun,beberapa hari dia selalu menangis setelah kami sholat berjamaah diruangan sempit sel polda, saya tanya kenapa menangis?.

Dia bercerita "dirumah selama ini kami hanya berdua sebagai suami isteri,anak anak sudah usaha sendiri - sendiri,selama kami berkeluarga belum pernah kami berdua tudur berpisah,kemana - mana selalu berdua,tapi rupanya diusia tua ini,kami harus berpisah, dan berpisahnya sungguh tragis,saya harus dipenjara,saya tidak bisa membayangkan susahnya perasaan"ibunya" sekarang ini.

Beberapa hari yang lalu saya ngobrol dengan kawan yang Anggota Dewan yang baru "masuk" tersangkut korupsi Anggaran,dia bercerita,
"awal bulan yg lalu isterinya mengambil honornya sebagai anggota dewan dikantor dewan,isterinya kaget ternyata sisa honornya hanya 300 ribu saja lagi, karena begitu banyak pos pengeluaran dan untuk bayar hutang sana sini,kl selama ini saya bawa uang lebih dari jumlah itu karena ada uang pinjaman dari koperasi kantor,hehehe, miris ya.?

Saya ingin menyampaikan kepada kawan- semua, "JANGANLAH KITA SIA SIA-SIA KAN SELURUH PENGORBANAN MEREKA, AYO TANAMKAN TEKAD UNTUK BERUBAH MENJADI ORANG BAIK,MANUSIA YANG BANYAK MANFAATNYA BAGI ORANG LAIN TERLEBIH UNTUK KELUARG KITA".

Saudaraku,gunakan waktu waktu ini untuk hal yang bermanfaat sebagai bekal kembali kealam bebas diluar sana,agar kita tidak kembali lagi menghuni dan menjadi pesakitan lagi.

Betapa indahnya bila satu tahun kita dipenjara ini,
Satu tahun pula kita sholat tahajjud,
Satu tahun puasa senin dan kamis,
Satu tahun sholat duha,
Satu tahun tiada hari tanpa membaca Alquran,
Satu tahun tanpa ketinggalan sholat fardlu berjamaah,
Satu tahun sholat sunnah Rowatib,dan semoga karenanya asbab kesungguhan kita,Alloh ampuni dosa dan kesalahan kita,merubah prilaku jahat kita diganti dengan akhlaq yg mulia,saling mengasihi,saling membantu dalam kebaikan,....
Aminn.....serentak kawan2 semua meng amini,amiiiiin,

dan kulihat banyak diantara mereka matanya berkaca,semoga menyentuh hati mereka dan semoga bermanfaat bagi saya.

.........Diceritakan oleh sesorang yang sedang menjalani "ujian" dan bisa dituliskan karena tersanjung dan termotivasi dengan komentar awal status seorang kawan yang semakin bijak.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun