Tersenyum, ceria atau dengan sebutan lain penuh suka cita itu adalah gambaran dari ekspresi manusia yang tengah merasakan kebahagiaan batin dirinya. Kebahagiaan ini mudah sekali dideteksi dan begitu jelas tampak, sebab jarang sekali orang yang bahagia itu menyembunyikan bahagia yang ia tengah rasakan.
Beda halnya kesedihan yang sering kali dirahasiakan bahkan tidak jarang berpura-pura tersenyum agar tidak diketahui orang lain, bahwa diri sedang bersedih dan luka. Walaupun begitu, acapkali tersenyum manis tetap saja sebagian dari mereka yang telah berpengalaman itu mengetahui kalau diri tengah bersandiwara. Sebab tanda kesedihan dan kekecewaan itu biasa tampak pada anggota tubuh lainnya, sebagaimana ucapan yang sering kita dengar "mulutmu bisa berbohong tapi matamu tidak sedang membuktikan demikian".
Mendapati kebahagiaan sudah menjadi harapan bagi setiap orang, tidak hanya mengetahui tentang bahagia tetapi juga ingin mengecapnya. Begitupun sebaliknya kesedihan, kesengsaraan dan kekecewaan bagi setiap diri tidak berharap demikian. Namun bagaimana bisa diri yang diketahui memiliki kemampuan terbatas itu dapat menghindarinya? Bahkan satu detik kedepan saja diri tidak mampu menebak peristiwa apa yang akan segera terjadi.
Dari sini dapat diketahui bahwa kehidupan itu tidak akan selalu diwarnai dengan suka cita dan bahagia saja. Jika kita berani berkata jujur, faktanya penuh dengan warna yang beraneka ragam bahkan lebih banyak permasalahanya. Termasuk kehidupan Nabipun tidak selalu berjalan mulus, apalagi kita hanya manusia biasa.
Maka gambaran itu memberikan isyarat bahwa kehidupan ini tidak akan lepas dari dua warna itu. Ia hadir secara berdampingan. Bukankah nikmatnya makan adalah rasa lapar yang tengah dirasakan sebelumnya sekalipun makanan tersebut tidak enak, sebaliknya selezat apapun makanan didepan mata tidak akan memberikan kenikmatan jika perut dalam keadaan kenyang.
Lantas menurut pembaca sendiri makna sedih dan bahagia itu bagaimana? Apakah seperti anggapan mereka bahwa bahagia itu didapat oleh orang yang mempunyai kekayaan yang cukup, dengan hartanya ia dapat mewujudkan semua harapannya, perkataanya selalu didengarkan, bahkan salah ucap saja dimaafkan. Jika begitu, maka makna kesedihan itu adalah sebaliknya.
Namun faktanya dari sekian banyak orang yang memiliki hampir segalanya itu, ternyata lebih banyak merasakan kekecewaan dan itu terbukti. Anehnya kita sebagai manusia basyariah ini hanya melihat dari sisi enaknya saja, padahal sebelumnya ia mengetahui sisi kurangnya dimana, tetapi berat hati untuk mengakuinya. Namun jika memandang orang yang miskin nampak jelas buruknya bahkan tidak sungkan mengungkapkannya dan sulit mengakui sisi baik yang ia temukan.
Anehnya lagi kita hanya mampu membandingkan apa yang kita rasakan dengan yang mereka rasakan. Dengan sambil bergumam "seandainya aku seperti dia yang punya segalanya, pasti aku akan bahagia". Disangka air namun ternyata itu hanya fatamorgana di padang sahara. Maknanya, apa yang kita lihat hanya pada apa yang dapat dilihat (sebagian kecil), maka dari sebagian yang kita temukan belum cukup untuk menggambarkan seutuhnya dari pada apa yang kita pandang. Kita hanya mampu melihat apa yang tampak didepan dinding bukan apa yang ada dibalik dinding.
Maka jangan menduga-duga, apalagi berharap lebih seperti mereka. Lagipula, itu telah ditentukan dengan kadar kemampuan yang Allah tetapkan. Nampak kecil masalah yang kita rasakan belum tentu orang lain yang punya segalanya itu mampu menyikapinya, begitu sebaliknya nampak enak kehidupan mereka belum tentu diri sanggup menjalaninya.
Sebetulnya masalah itu pada kesedihanya atau pada diri yang tidak pandai bersikap itu? Lagipula mereka yang tampak bahagia bukan berarti mereka tidak merasakan kesedihan, hanya saja mereka pandai menyembunyikan dan juga cerdik dalam menyikapinya serta fokus pada solusi bukan tenggelam bersama permasalahanya.
Orang seperti inilah yang dimaksud oleh penulis adalah orang yang putus asa dari pada rahmatNya. Bagaimana tidak? Sebab bahagia dalam pandangannya sebagaimana yang penulis ungkap di awal yakni pada banyaknya harta yang akan ia kumpulkan. Biasanya ketika ia tidak berhasil meraihnya, ia akan kecewa dan berdalih, "kebahagianku terhalang karena miskin".
Padahal, bisa jadi bahagia dalam pandangan orang lain makna konotasinya berbeda atau sebaliknya seperti kebanyakan orang rendah hati berkata "beruntung saya orang miskin sebab sedikit hisabnya atau untung saja pasanganku wajahnya pas-pasan sehingga aku tidak perlu khawatir digoda orang lain".
Atau seperti yang penulis kutip berikut "orang fakir mengatakan bahagia pada kekayaan, orang sakit mengatakan bahagia pada kesehatan, orang yang berdosa berkata bahagia kembali pada Tuhan (bertaubat), seorang penulis berkata bahagia adalah ketika tulisanya banyak bermanfaat bagi pembacanya", dan seterusnya. (Hamka, Tasawwuf Modern).
Jika begitu maka makna bahagia itu pada setiap diri tidak sama, atau cenderung relatif. Seperti halnya tulisan penulis yang ada dihadapan anda, tidak akan bernilai bagi mereka yang tidak suka membaca dan memperbaharui wawasannya, sekalipun itu gratis. Contoh lain miniman keras yang memabukkan sekalipun harganya terus mahal tetap saja akan dibeli bagi penikmatnya, namun sebaliknya bagi mereka yang tidak suka maka tidak berharga sedikitpun.
Dari situ agaknya kita dapat memahami bahwa jangan memaknai bahagia yang konotasinya pada hal yang bersifat duniawi, sebab semua itu hanya bersifat fana tidak kekal termasuk juga nilianya (berubah -- tidak tetap bahkan tergantung kondisi penilainya).
Lalu bahagia yang dimaksud itu seperti apa? Menurut Imam Al-Ghazali sebagaimana penulis kutip dari tulisan Akhmad Khabibi pada Web Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Said Surakarta. Jelasnya, bahwa orang yang memiliki kebahagian adalah manusia yang telah terbuka hijabnya sehingga ia merasa dirinya terkontrol oleh Allah dimanapun dan kapanpun. Tambahnya, ia juga meyakini bahwa kebahagiaan itu hanya bisa dicapai serta dapat dirasakan ketika manusia mampu melawan dan mengendalikan hawa nafsunya.
Ternyata nikmatnya bahagia itu baru terasa bagi diri yang mengakui bahwa ia seorang hamba yang membutuhkan Tuhan, ia mengetahui dirinya ada pada genggemanNya, termasuk juga segala ketentuan bagi dirinya. Manusia jika sudah berusaha dekat pada sang Pencipta hatinya akan jauh lebih tenang, jika sesuatu hal yang bersifat duniawi, seperti kekurangan makanan, ditinggal wafat dan sebagainya, itu juga dianggap sebuah nikmat dan tidak perlu bersedih dan kecewa yang berlebihan.
Sebab segala sesuatu yang terjadi dengan dirinya atas kontrol Allah, mereka cukup berhusnuzhan atas ketentuan tersebut. Bukankah ia juga menambahkan bahwa bahagia hanya dirasakan bagi mereka dapat mengontrol nafsunya. Bagaimana mungkin diri merasakan nikmat makan jika dalam keadaan perut kenyang? Sudah barang tentu nafsu tersebut dikontrol dengan menahan dan menunda makan sampai perut merasa lapar kembali. Artinya bersyukur atas apa yang ada dan merasa cukup serta jangan memaksakan diri berikhtiar sewajarnya saja.
Ingatlah tidak ada kebahagian yang begitu nikmat selain diri dekat pada Tuhan, lagipula selain dari pada itu semua seperti senang, gembira dan suka cita akan terhenti seketika jika ajal telah tiba. Jadi bahagia itu sederhana saja ia dekat dengan kita dan ada dalam diri kita, maka tidak perlu bersusah payah dalam menemukannya. Sebagaimana ungkapan ulama Yahya Bin Muadz Aar-Razi "man arafa nafsahu fakad arafa Rabbahu" artinya, siapa yang mengenal dirinya maka dia mengetahui Tuhannya. Wa Allahu a'lam.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI