Sudah lama saya tak berjumpa dengan Pak Priyadi, pelukis yang dikenal dengan julukan sang Pelukis Naga. Bersama sahabat saya, Eyo Sunaryo, kami berkunjung ke kediaman Pak Prie (panggilan akrab beliau) di sebuah daerah yang masih asri, seputaran kota Cimahi.
Saya bersyukur ternyata Pak Prie ada di rumah. Tampaknya beliau agak terkejut dengan kehadiran kami yang tiba-tiba. Namun, Alhamdulillah kami diterima beliau dengan seyuman yang ramah.
Suasana di rumah Pak Prie tidak berbeda jauh dengan beberapa waktu lampau ketika kami berkunjung ke sini. Ruangan tamu yang merangkap tempat kerja beliau dipenuhi dengan aneka lukisan, salah satunya adalah lukisan naga yang masih belum selesai. Beberapa lukisan ukuran besar juga terpampang di ruang tamu yang merangkap bengkel kerja sang seniman.
Melukis itu perlu kesungguhan dan niat yang tulus. Tanpa itu semua, maka lukisan itu bagaikan benda mati, tanpa jiwa. Itulah sebabnya ada lukisan yang memiliki karakter dan sebaliknya tanpa karakter. Banyak lukisan yang terkesan hambar, kosong, tanpa ada daya tarik sama sekali.Â
Hal ini disebabkan lukisan tersebut dibuat dengan asal-asalan, hanya berorientasi uang. Harusnya sebuah karya itu dibuat dengan kesungguhan dan terselip idealisme di dalamnya.
"Kalau si pelukis itu sudah nyambung dengan objeknya itu atau dengan karakter objeknya, maka bisa dikatakan bahwa lukisan itu hidup. Bahkan, bisa berdialog dengan penikmatnya," ujar Pak Prie ketika menjelaskan tentang proses berkesenian para seniman.
Menurut Pak Prie, sebuah lukisan yang dibuat dengan penjiwaan akan melakukan dialog batin dengan calon pembelinya. Adanya kesamaan perasaan antara objek lukisan dengan calon kolektornya, menciptakan terjadinya daya tarik menarik yang kuat.Â
Ketika semua ini tejadi, maka harga bukan lagi menjadi ukuran bagi calon pembeli, melainkan perasaanya. Oleh sebab itu tidak aneh kalau ada lukisan berharga mahal pun akan tetap laku dan dibeli oleh kolektor.
Salah satu cara mendongkrak daya tarik penonton adalah menggunakan pakaian minim yang seksi, sehingga auratnya terlihat dan menjadi konsumsi publik.Â
Mengapa ini dilakukannya? Karena suaranya biasa-biasa saja. Coba kalaa dia berlatih secara bersungguh-sungguh dan bernyanyi dengan penuh penjiwaan, maka dia tidak perlu pamer paha dan dada.Â
Kalau suaranya bagus, orang pasti tertarik mendengarnya bernyanyi. Bahkan, penonton bisa mengeluarkan air mata dibuatnya ketika sedang menyanyikan lagu bernada sedih.Â
Menjadi seorang pelukis tidak harus mengidolakan pelukis terkenal secara berlebihan. Sehebat apapun karya lukisannya jika mirip dengan gaya melukis sang idolanya, maka pelukis tersebut tidak akan menjadi seniman besar. Dia tidak mungkin mampu mengalahkan nama besar sang idolanya dan selalu menjadi orang nomor dua.
"Kerugian pertama jika pelukis terobsesi dengan karya idolanya, maka lukisannya pun akan dipengaruhi gaya melukis idolanya. Kerugian kedua, dia tidak mungkin mampu menyamai idolanya, meskipun sudah berguru langsung dengan sang idola.Â
Ibarat dalam film kungfu Shaolin, selalu ada ilmu atau trik-trik rahasia yang disembunyikan. Tak mungkin semuanya diturunkan oleh gurunya," ujar Pak Prie serius.
Istri tidak bangga terhadap profesi suaminya sebagai pelukis. Mengapa hal ini terjadi? Karena pelukis tidak mampu menghidupi keluarga dari hasilnya berkarya.Â
"Umumnya perempuan tidak mau tahu suaminya kerja apa atau usaha apa. Dia tahunya suami pulang bawa duit. Titik. Begitu kita memperlihatkan suatu profesi yang tidak menghasilkan uang, maka otomatis istri pun pasti tidak akan mendukung. Dia beranggapan kalau profesi itu tidak menguntungkan," papar Pak Prie lebih lanjut.
Melukis itu penuh dengan filosofi-filosofi yang perlu dibahas. Menurut Pak Prie, tidak bisa melukis hanya mengandalkan dongengnya saja. Melukis bukan sekadar lahirnya saja, tetapi perlu juga diperkuat dengan penjiwaan atau secara batin.
"Misalnya saya akan melukis kuda. Anatominya harus dikuasai. Tahapan melukis pun banyak. Pertama pembagian bidang, kedua persfektifnya, ketiga komposisi warnanya, keempat goresannya, dan kelima dimensinya. Banyak pelukis yang keteteran dibuatnya.Â
Belum lagi masalah karakter dan penjiwaannya. Kalau tidak bias menguasai semua itu, maka itu namanya tukang gambar, bukan pelukis," ujar Pak Prie penuh semangat.
"Mister Priyadi! Anda melukis jangan asal-asalan. Melukis bentuk itu gampang. Anak kecil juga bisa, tapi tidak ada nilainya. There is nothing! There is only drawing," ujar duta besar Belgia untuk Indonesia saat itu.
Tentu saja saat itu Pak Prie merasa tersinggung dan belum bisa menerima kritikan yang begitu tajam dari Dubes Belgia itu. maklum dirinya masih muda dan belum begitu banyak pengalaman.Â
Namun, dalam perjalanan selanjutnya akhirnya Pak Prie menyadari kalau kritik Dubes Belgia itu benar. Beliau pun mulai melukis dengan lebih serius, tidak asal melukis dan penuh dengan penjiwaan.
"Jadi melukis itu harus secara lahir dan batin. Keduanya harus menyatu. Dia harus main warna, sehingga terjadi dimensi. Jangan puas hanya dengan tiga dimensi, coba lagi enam dimensi. Usahakan lagi sampai sembilan dimensi. Bahkan, kalau bisa sampai dua belas dimensi," jelas Pak Prie dengan mimik serius dan penuh semangat.
Melukis dengan tiga dimensi artinya harus mampu membedakan jarak pandang dekat, sedang, dan jauh. Kalau mau dikembangkan lagi dimensinya, maka objek yang dekat dibagi lagi menjadi tiga bagian, jarak pandang dekat, sedang dan jauh.Â
Begitulah seterusnya, sehingga dimensinya terus bertambah. Kalau tidak menggunakan dimensi, maka lukisan akan terlihat flat. Demikian penjelasan Pak Prie kepada penulis.
Wajar saja kalau ada orang yang memberikan pendapat seperti itu. Semua lukisan yang dipamerkan Pak Priyadi saat itu frame-nya menggunakan kayu profil untuk bahan bangunan. Maklum saja dirinya tidak memiliki banyak uang. Harusnya lukisan yang baik memakai bingkai atau frame yang baik juga.Â
Kalau sebuah karya sudah bagus, tetapi tidak diimbangi dengan bingkai yang bagus pula, maka akan terjadi ketidakseimbangan. Oleh sebab itu perlu dipikirkan oleh seniman agar lukisannya semakin dihargai oleh para penikmat seni yang juga merupakan calon kolektornya.
Seorang pelukis harus terus mengembangkan dirinya. Pelukis harus mau belajar dan belajar, kalau perlu sepanjang hayat. Lantas belajar ke siapa? Apakah kepada pelukis otodidak? Atau kepada pelukis akademisi? Keduanya masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya.
"Ya belajarlah kepada Allah. Allah itu gudangnya ilmu. Sumber segala ilmu pengetahuan. Wala Ya uduhu hifzuhuma wahuwal'aliyul 'azim," sambung Pak Prie lagi sambil kembali mengisap rokok kesayangannya.Â
"Pelukis itu punya tiga karakter. Satu karakter, dia senang kepada yang menyentuh perasaan. Contohnya Sudoyono Abdullah. Kalau melukis pasar tradisional, kelihatannya sekali suasana pasar yang menyentuh perasaan. Kemudian ada karakter yang senang kepada yang sifatnya glamor. Siapa itu contohnya? Basuki Abdullah.Â
Melukis Bu Tien Soeharto itu seperti bidadari. Senangnya yang cantik-cantik. Yang indah-indah. Memang karakternya dia. Nah, ada lagi pelukis yang karakternya keras. Siapa itu contohnya? Raden Saleh. Lukisannya tentang pertarungan hewan buas, revolusi. memang jiwanya ke sana," papar Pak Prie panjang lebar.
Jadi, seorang pelukis itu harus paham dengan karakternya sendiri. tanya pada diri sendiri, karakternya seperti apa? Pelukis yang baik itu harus mengenal dirinya sendiri ketimbang mengenal orang lain. Biarkan saja pelukis lain berkarya dengan karakternya sendiri. Pelukis tidak usah ikut-ikutan gaya pelukis lain. Buatlah karya lukisan sesuai dengan karakter dirinya sendiri.
Mengapa seorang maestro seperti Van Gogh bisa menjadi terkenal sepanjang sejarah? Tidak lain karena dirinya berkarya dengan hati. Dia berkarya sesuai dengan jiwanya. Lukisan yang dibuatnya mencerminkan karakternya.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI