Kala saya menanyakan, apa yang membuatnya tertarik untuk menjadi pengajar. Jawabnya sederhana, tetapi bagi saya, ini menyiratkan tidak hanya sekedar soal dunia ide, namun juga kesenangan. Karena bagi Handrio di dunia akademik, ia selalu bisa melakukan riset pada hal-hal yang baru. Baginya ini adalah petualangan yang mengasikkan. Selain itu, ia selalu memiliki ruang untuk bertukar pikiran baik dengan para mahasiswa atau rekan sejawatnya. Sesuatu yang sangat ia gemari sejak remaja.
Saat ini Handrio Nurhan tercatat sebagai salah seorang kandidat Doctor di Boston University dalam bidang Anthropologi. Karena ia ingin menemukan sesuatu yang lebih empiris. Masih menurutnya, filsafat adakalanya terlalu teoritis, sehingga ia perlu melengkapi keilmuannya dengan hal tersebut. Terutama pada Anthropologi etika yang kini sedang berkembang pesat.
Meski perjalanan hidup dan studinya tidak diragukan lagi, namun adakalanya menjadi pengajar di negeri orang terutama Amerika Serikat, itu perlu kemampuan dalam mengelola perasaan. Kompetensi, tidak selalu berbanding lurus dengan rasa percaya diri. Ini yang harus terus ditumbuhkan, karena stigma sebagai orang Asia atau Indonesia di negeri paman sam. Akhir kata, selamat berjuang Handrio Nurhan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H