Berbeda dengan para pemain Indonesia keturunan Tionghoa yang menggunakan nama nama lain (saya lebih suka menyebut nama lain karena disebut nama Indonesia juga tidak bisa mengingat kebanyakan justru menggunakan nama barat sebagai nama resmi mereka).

Hal yang membedakan  para pemain Indonesia keturunan Tionghoa di Indonesia dan Malaysia adalah mereka tidak menggunakan nama Tionghoa sebagai nama resmi mereka.Â
Sangat berbeda dengan para etnis Tionghoa di Malaysia yang menggunakan nama Cina mereka sebagai nama resmi. Akhirnya hanya dari namanya saja kita langsung bisa menebak mereka itu dari suku apa (dengan mengabaikan factor kawin campur ya).
Sementara itu di Indonesia, para keturunan Tionghoa yang menggunakan nama namadi luar nama Tionghoa,maka seringkali bagi kita juga tidak mengenali apakah mereka benar murni orang tiongha atau sudah mengalami kawin campur leluhurnya. Hal yang akhirnya justru bisa menyamarkan identitas etnis mereka. Peluang untuk mengalami diskriminasi juga akan lebih kecil.
Akhirnya saya serang mereka (para BL tadi) andaikan Orde Baru tidak membuat kebijakan agar para keturunan tionhoa harus melepaskan nama Cina mereka dan menggunakan nama Indonesia, sangat bisa jadi kita juga akan menemukan situasi seperti di Malaysia maupun Singapura. Jojo, Butet, Hendra, Ruseli, Kevin, markus, dan yang lain mungkin akan menggunakan nama Tionghoa mereka.Â
OK, mungkin keturunan Tionghoa di Indonesia menggunakan Nama Indonesia, tapi tetap akan menggunakan nama Keluarga mereka yang menjadi identitas etnis mereka seperti yang ada di Malaysia atau Singapura contoh pemain Malaysia yang menggunakan nama barat dan Cina yaitu Aroan Chia, atau Shevon Lai. Biasanya namanya adalah nama barat di bagian depan.
Saya terus berkomentar, Sejarah panjang Indonesia dengan memaksakan keturunan ionghoa untuk mengganti nama Cina mereka dan melarang berbagai kebudayaan Cina muncul di permukaan itu justru menunjukkan proses akulturasi yang terjadi bukan karena terjadi secara damai, tapi terjadi melalui pemaksaan.Â
Bahkan Susi Susanti saja haru smembutuhkan waktu lama untuk bisa mendapatkan kewarganegaraan padahal lahir juga di Indonesia.
Jadi, please deh siapapun itu, terkhusus para BL Indonesia yang benci setengah mati dengan Malaysia. Tidak perlu rasis dengan menghina bahwa para pemain mereka adalah pemain India dan Cina, atau pemain Impor.Â
Perkataan seperti itu sangat menyakitkan sekali karena mereka adalah warga negara Malaysia. Kebijakan Malaysia juga tidak mewajibkan para warganegaranya dari Etnis India dan Cina untuk mengganti namanya menjadi nama Melayu seperti yang terjadi di Indonesia.Â