Estetika merupakan salah satu kajian filsafat yang tertua. Sederhananya, Estetika membahas bagaimana keindahan dapat terbentuk, bagaimana seseorang mampu merasakannya, serta memberikan penilaian.
Estetika tidak terlepas dari sentimen dan rasa, tentu saja salah satu alasannya karena yang dipelajari adalah nilai sensoris, bukan logis.
Para filsuf dengan begitu telah menyumbangkan begitu banyak pemikiran tentang estetika atau keindahan, entah mereka berusaha untuk memberikan postulat-postulat baru atau sekadar tercermin dari karya-karya yang mereka hasilkan.
Persoalan keindahan selalu membuat estetika terikat dengan dua pilihan penilaian yang kontradiksi yakni indah (beauty) atau tidak indah (ugly).
Beauty seringkali dianggap bermakna telah memenuhi standar keindahan yang diakui oleh banyak orang, sedangkan ugly seringkali dianggap bernilai buruk dan sama sekali tidak memenuhi standar keindahan banyak orang.
Ketidakleluasaan ini tentu saja merupakan akibat dari refleksi kritis yang dirasakan oleh indera sebagai sensor manusia ketika menilai sebuah keindahan atau karya seni.
Tak ada rumusan-rumusan tertentu, hanya mengikuti perkembangan penerimaan manusia terhadap ide-ide yang ditawarkan oleh sang pembuat karya.
Baca juga : Dialog Hippias Pencarian Arti Estetika
Sebelum istilah estetika diperkenalkan oleh Baumgarten, para filsuf Yunani Kuno seperti Plato, Socrates, Aristoteles, Plotinus, dan SA Agustinus sesungguhnya telah membicarakan seni dalam kaitannya dengan filsafat yang mereka sebut dengan keindahan.
Seni dan keindahan. Inilah mengapa kemudian muncul istilah filsafat keindahan. Seni (art) atau techne (dalam bahasa Yunani Kuno) aslinya berarti teknik, pertukangan, keterampilan.
Dalam perkembangannya kemudian tumbuh pengetahuan yang disebut “seni terapan” (applied arts) dan “seni halus” (fine arts). Seni terapan memiliki kegunaan langsung untuk kehidupan sehari-hari.