Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan jiwa atau mental yang serius. Depresi dapat membuat perasaan seseorang jadi negatif dan tidak sedikit kasus seseorang yang depresi berujung pada bunuh diri.
Dari kisah nabi Elia, hal ini bisa dipicu karena mengalami tekanan hidup yang berat, kebingunan dan tidak mengerti harus melakukan apa serta perasaan ingin lari dari persoalan yang sedang dialami.
Dalam beberapa kasus, kondisinya bisa makin sulit seperti merasa tidak bertenaga dan bergairah, tidak nafsu makan dan tidak punya keinginan untuk bertemu orang lain.
Dalam kasus lain biasanya seseorang yang sedang depresi akan gampang tersinggung, sering kosong pikiran dan seperti seseorang yang kehilangan kebahagiaan. Tak jarang terkadang kondisi ini memunculkan pikiran ingin bunuh diri.
Persoalan hidup yang bisa menjadi pemicu dapat beragam. Bisa jadi karena keadaan tubuh seperti sakit penyakit yang tak kunjung sembuh selama bertahun-tahun misalnya tumor atau kanker.
Dapat pula dipicu karena stres berat akibat kehilangan orang terdekat, kehilangan pekerjaan atau harta milik. Orang yang mengalami depresi akibat kehilangan ini biasanya menyimpan kemarahan atau kebencian dalam hati.
Putus asa juga dapat menjadi pemicu sesorang mengalami depresi. Seseorang yang merasa bolak balik berusaha tetapi selalu gagal, bekerja mati-matian tetapi tidak melihat hasil baik, anak-anak yang tak kunjung berubah bahkan makin memberontak pada orangtua, atau situasi ekonomi keluarga yang tak kunjung membaik.
Terkadang, tanpa disengaja kita bertemu dengan orang-orang yang demikian. Rasanya ingin menolong, tapi kita juga tidak kebingunan harus menolong dengan cara bagaimana. Salah-salah merespon justru akan membuat kondisi yang bersangkutan makin tertekan.
Dari kisah Elia tadi, ada petunjuk menarik yang bisa kita lakukan untuk menolong orang yang sedang mengalami depresi. Ketika Elia tertidur pulas, tiba-tiba datanglah malaikat menyentuhnya seta berkata: “Bangunlah, makanlah!”.
Ketika Elia melihat telah tersedia roti dan kendi berisi air, ia pun makan dan minum, kemudian kembali berbaring dan beristirahat.
Dan untuk kedua kalinya, malaikat Tuhan kembali datang dan menyentuhnya lalu berkata: “Bangunlah, makanlah!”.