Ah iya. Kau pasti ingat kekonyolanku juga. Saat Dwi, kawan sebangkuku, meminta tolong untuk menggambarkan bentuk benda. Kalau tak keliru, materinya siswa yang memilih Seni Rupa harus menggambar benda dalam contoh.Â
Mengetahui aku bisa menggambar, Dwi memintaku untuk menggambarkan. Dengan senang hati kubantu Dwi. Kaulah yang protes padaku.
"Jangan digambarkan, Ra! Keenakan Dwi. Nilainya nanti lebih bagus lho!"
"Alaaahhh. Biarin!"
Aku nekad menyelesaikan tugas menggambar Dwi dengan cepat. Sementara kau hanya menggerutu.
Dan setelah kuliah aku paham kenapa kau protes. Sungguh bodoh! Ya aku merasa bodoh. Dengan melakukan itu semua, ranking Dwi lebih bagus daripada rankingku. Sudah menjadi rahasia umum kalau guru Seni Musik mahal dalam memberikan nilai 80. Sementara guru Seni Rupa murah hati. Hiks.
Ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Ranking semasa SMA tak perlu kupikirkan lagi. Yang kupikirkan itu kuliah dan bisa bertemu denganmu lagi.Â
Masa kuliah kita memang terpisah. Sampai saat ini, saat wisuda hingga aku bekerja. Aku sering tanya pada teman-teman, kau ada di mana, kerja di mana. Pertanyaan tentang perempuan yang dekat denganmu saja yang tak kusebut.Â
Entah karena kebodohanku yang kedua atau kesekian kalinya, aku tak berusaha mencarimu. Kaupun seolah tak peduli lagi padaku. Aku pasrah saja. Kau kuliah di perguruan tinggi terfavorit di Jogjakarta, UGM. Sedangkan aku di kampus sempalannya, IKIP lama. Kau pasti tahu itu.
Perguruan tinggi yang sebenarnya tak terlalu jauh, tapi mampu menjauhkan kita. Bahkan saat ada teman seangkatan mau dekat denganku, aku tak peduli. Aku masih memendam rasa padamu.Â
Hingga akhirnya kuyakin kalau kau memang tak mau mengenalku hingga kabar darimu pun tak kuterima. Nelangsa. Meski begitu, aku sadar kalau aku harus melanjutkan perjalanan hidupku yang masih panjang.