Masa pandemi covid 19 masih terus saja berlangsung. Penambahan jumlah pasien positif Corona juga terjadi, masih di atas angka 1000 perhari. Tentunya berlakunya kembali pembelajaran tatap muka yang diharap dan diimpikan orangtua, siswa dan guru akan tertunda lagi.
Anak sulung saya sering bertanya, "Ibu, kapan sih sekolahnya?"
Saya menjawab, "Lah kan sekarang sudah sekolah. Bu guru sudah memberikan materi dan tugas kan?"
"Mmm... maksudku pelajaran tatap muka..."
Saya menjelaskan bahwa virus Corona masih banyak dan mengkhawatirkan jika para siswa bersekolah secara tatap muka. Oh iya... saya tanpa sadar mendengar anak saya mengucapkan istilah pelajaran tatap muka.Â
Entah dari mana dia tahu. Atau mungkin dia memerhatikan ibu dan buliknya sering ngobrol tentang pembelajaran jarak jauh dan tatap muka. Tetapi saya cukup bersyukur, dia tahu maksud pelajaran tatap muka. Artinya dia belajar peka dari obrolan orangtuanya.
**
Apa yang dipertanyakan si sulung saya, juga ditanyakan anak kedua saya. Bahkan anak lainnya juga melakukan hal yang sama kepada orangtua atau gurunya. Pertanyaan itu menunjukkan bahwa anak sudah merasa bosan di rumah, baik dalam belajar maupun aktivitas lainnya.Â
Dampak dari rasa jenuh dengan adanya PJJ, anak tak lagi bersemangat mengikuti pembelajaran online ini. Bagaimana saya bisa mengatakan itu?Â
Setidaknya saya amati dari anak dan para siswa. Mereka terkesan asal mengerjakan tugas. Bahkan tugas dari sekolah malah dikerjakan oleh orangtuanya meski tidak semua anak.
Jika mempergunakan aneka cara pembelajaran yang mengutamakan IT, tidak akan terlihat siapa yang mengerjakan tugas siswa. Makanya nilai terkadang meragukan. Akan tetapi jika cara pengumpulan tugas melalui WA dan uraian tertulis maka mau tak mau siswa harus mengerjakan atau menulis sendiri pekerjaan mereka.Â
Namun saya amati dari sekian tugas, tidak seratus persen ditulis sendiri oleh siswa. Bagaimana saya tahu? Ada tugas sebelumnya yang ditulis oleh siswa. Tulisannya belum rapi, namun beberapa tugas berikutnya, tulisan yang dikirimkan melalui WA ternyata bukan tulisannya.
Batin saya bertanya, "Yang sekolah siapa, yang mengerjakan tugas siapa?"
Nah, jika kebetulan Anda memiliki anak usia sekolah ---terutama usia anak SD--- yang malas dan bosan mengerjakan tugasnya sendiri, Anda bisa memberikan motivasi setiap harinya. Bagaimanapun anak seusia mereka memang membutuhkan dorongan dari orang lain. Orangtualah yang harus banyak berperan.
Pertama, tanyakan pada putra-putrinya, "Apa tujuanmu sekolah? Ingin nilai baguskah? Ingin dapat ilmukah? Atau tujuan lainnya.
Jika anak tak mau menulis sendiri tugasnya, otomatis dia menyia-nyiakan waktunya. Dia akan mendapatkan nilai bagus tetapi bukan dari hasil usahanya. Yang didapatkan hanya angka di atas kertas, sementara ilmu tak didapatkan. Katakan pada anak bahwa dia sedang membohongi diri sendiri. Hal terpenting dalam belajar bukanlah nilai, akan tetapi kemauan dalam proses belajar.
Jika berbohong, maka dosa semakin banyak dan yang jelas tidak mendapat ilmu. Dia akan semakin tertinggal pelajarannya. Kelak dia akan rugi dan menyesal.
Namun ternyata jika anak ingin mendapatkan ilmu, maka terus motivasi anak untuk belajar, belajar dan belajar. Siapkan aneka bacaan atau ajak mengamati laboratorium alam terdekat---sawah, kebun, sungai dan sebagainya--- untuk menambah wawasannya.
Kedua, ajak anak melakukan aktivitas menyenangkan setelah mengerjakan tugas. Anak perlu merefresh otaknya. Aktivitas ini tidak harus dengan biaya mahal. Anak diajak main congklak, engklek, ganepo, bas-basan, main layang-layang atau permainan tradisional lainnya.
Perlu ditekankan bahwa dalam melakukan aktifitas tadi, jangan sampai lupa waktu. Usahakan anak untuk tetap bisa tidur siang agar tubuh tidak terforsir dan tidak mudah sakit.
Ketiga, orangtua perlu memahami keunikan cara belajar anak. Diakui atau tidak, orangtua sering membandingkan cara belajar anaknya dengan temannya.Â
Orangtua bisa mengamati dan mengajak anak untuk mengenali dirinya. Ya tujuannya agar anak tidak tertekan saat belajar. Dari pengalaman saya misalnya, dulu saat masih sekolah sampai kuliah, kalau belajar harus ditemani alunan lagu. Orangtua sempat khawatir juga dengan cara saya. Ya memang cara belajar saya beda dengan kakak.Â
Keempat, memberi kesempatan anak untuk bertanya. Nah dari hal ini orangtua mau tidak mau harus siap menjadi guru bagi anaknya. Jika ternyata orangtua kesulitan, orangtua boleh bertanya kepada guru, orang lain dan atau browsing melalui internet. Orangtua belajar lagi bukanlah sebuah aib. Orangtua harus sadar bahwa peran utama adalah sebagai pendidik di rumah.Â
Mulai tanamkan pada diri bahwa akan menyenangkan bagi orangtua kalau anak senang belajar bersama orangtua di rumah dan senang belajar bersama gurunya di sekolah. Orangtua dan guru memang harus bekerjasama agar hasil belajar anak bisa maksimal.Â
Kelima, ajak menjalankan ibadah secara tertib. Ini akan menenangkan bagi anak dan orangtua. Dengan langkah ini segala usaha dipasrahkan kepada Allah sebagai Maha Penentu hasil belajarnya.Â
Semoga selama PJJ anak bangsa tidak kendor semangat belajarnya.Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H