Saat ini aku kelas satu SD. Namun aku belum lancar membaca. Ayahku sering memarahiku karenanya.Â
Aku sendiri lebih dekat dengan simbah putriku. Ayah sibuk dengan pekerjaannya. Aku sebenarnya sangat rindu dengan ayahku yang dulu. Ketika aku masih balita, ayah yang mengajakku bermain, jalan- jalan keliling kampung. Sementara ibuku entah di mana.
Yang aku ingat, ibu jarang menemaniku bermain kala itu. Ibuku sibuk kerja, pikirku. Sampai saat ini aku kurang paham dengan hal itu. Yang aku tahu, ibuku mulai jarang pulang ke rumah dan akhirnya sama sekali tak melihat wajah ibuku.
Sebenarnya aku tak terlalu dekat dengan ibu. Sepanjang hari aku sering bersama simbah putri. Namun kadang aku merasa iri pada teman- temanku yang diantar ayah ibunya ketika berangkat dan pulang sekolah. Akan tetapi itu semua tak kuceritakan pada ayah dan simbah putri.
Kalau adik sepupuku sering jalan- jalan bersama ayah dan ibunya, aku merasa iri. Aku menangis dalam hati. Aku khawatir kalau simbah putri menjadi sedih. Kalau dengan ayahku, aku takut dimarahi dan dibilang cengeng.
"Anak laki- laki nggak boleh cengeng, nggak boleh manja..."
"Tapi ayah..."
"Kamu anak hebat, Ndra..."
**
"Ayah, bunda kok ada dua..."
"Nggak, Ndra..."
"Iya. Dua..."
Simbah putri menjelaskan kalau satu orang yang mirip bunda itu menjadi budheku. Bunda itu kembar, lahir di hari yang sama tapi beda beberapa menit. Ah...aku sedikit paham. Waktu itu aku diajak ayah, simbah putri dan keluarga ke rumah bunda. Aku senang sekali, sebentar lagi punya ibu baru yang kupanggil bunda. Bunda sangat cantik, suka bercanda denganku, mengajakku bermain, dan mengajakku belajar membaca.Â
***
Aku bertekad akan menjadi kebanggaan bundaku. Bunda sudah resmi menjadi ibu baruku. Bertambahlah kebahagiaanku. Bunda semakin sering mengajariku belajar membaca dan menulis pastinya.
Semula aku takut dimarahi juga. Aku sadar, teman- temanku sudah lancar membaca semua. Aku masih mengeja perhuruf. Aku sering pusing dengan huruf- huruf itu.
Dengan senyum dan kesabaran bunda, aku bisa menaklukkan huruf itu. Membacaku lancar. Tulisanku lebih rapi. Oleh bu guruku, ketika kelas tiga, aku diikutkan dalam lomba mengarang di Hari Ibu. Aku hanya ikut memeriahkan saja. Tak ada impian untuk juara. Bundaku juga tak mengharuskan aku berprestasi. Bunda bilang, hal yang penting adalah aku menjadi anak sholih, pintar, sehat dan menjadi kebanggaan keluarga.
Pada acara pengumuman kejuaraan aku cukup bahagia ketika ada ayah dan bunda yang menemaniku, seperti peserta lain. Aku yakin kalau aku tak juara. Tak kusangka setelah kejuaraan ketiga dan kedua dibacakan, oleh panitia namaku disebut. Menjadi juara pertama!
Ah... aku jingkrak- jingkrak dan memeluk ayah bunda. Lalu segera aku menuju panggung dan menerima piala dan piagam penghargaan. Piala itu kupegang erat, dan begitu selesai penyerahan hadiah, aku berlari menuju kursi bunda.
Piala itu kuserahkan pada bunda.
"Bunda, terimakasih. Ini piala buat bunda..."
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H