Yang kupikirkan saat itu, aku senang bisa mewakili sekolah dalam lomba. Tak lebih dari itu. Dari sekian ratus siswa, hanya karanganku yang dikirimkan. Bukankah itu menyenangkan?
Rupanya lomba mengarang itu nantinya mendorongku lebih menyukai dunia tulis menulis. Meski tak sebagus penulis profesional. Paling tidak aku senang menulis saja.
Kegiatan mengarang pun terhenti ketika SMP. Baru ketika SMA aku kembali menulis cerita pendek. Kakak kelasku pernah membaca juga.
"Bagus, dik. Coba dikirim ke majalah atau koran..."
Komentar mbak Eka waktu itu. Padahal kalau aku baca ulang saat ini, cerpennya jelek banget. Tapi waktu SMA cerpen yang kubuat hanya kutulis dalam buku tulis saja. Maklum tahun 97an belum terlalu banyak orang yang memiliki komputer.
Haha... yang jelas, aku sempat membaca ulang cerpen masa SMA. Meski banyak juga yang hilang. Kalau tak keliru, dulu kalau membuat cerpen selalu ada potongan lagu masa- masa itu. Lagu Kahitna, Java Jive, AB Three. Itu yang biasanya jadi inspirasi.
Sampai saat ini aku senang coret- coret di aplikasi note HP untuk mengisi waktu luangku. Sampai- sampai suami kadang heran juga, aku asyik dengan HP.Â
"Beli laptop kok cuma buat cerpen..."
Suamiku berkomentar ketika meminjam laptopku. Data di laptop hanya berisi tulisan- tulisan yang asal kubuat. Padahal sebenarnya data dari laptop yang rusak belum dipindah ke laptop yang baru saja.Â
Kalau tak ada Bu Binti dan Bu Khoyim, mungkin aku tak tertarik untuk menulis. Menulis untuk menyalurkan hobi saja. Siapa tahu tulisanku bermanfaat. Hanya itu yang kupikirkan.Â
Terimakasih untuk Bu Binti dan Bu Khoyim. Semoga motivasi untuk menulis saat SD dulu bisa menghasilkan tulisan yang bermanfaat dan dari tulisan itu bisa mengalirkan pahala untuk Bu Binti dan Bu Khoyim. Juga untuk guru dari SD, SMP, SMA dan dosen- dosenku.Â