Ini mengajarkan kita untuk senantiasa menjunjung tinggi budaya antre. Tidak menyerobot giliran orang lain.
Kelima, menjaga kebersihan.
Seperti ayam, bulu bebek juga berminyak. Meskipun kerap mencari makanan di tempat berlumpur atau tempat kotor lainnya, bulu bebek tetap bersih.
Ini memberikan teladan, dalam kondisi apa pun, meskipun dalam kondisi buruk sekalipun, misalnya difitnah orang, hati dan pikiran kita harus tetap jernih. Tetap berprasangka baik.
Keenam, istikamah.
Di bandingkan ayam, bebek jauh lebih konsisten. Pendiriannya teguh. Saat berjalan ke depan, fokus bebek hanya ke depan. Begitu pula sebaliknya.
Kalau kita bertemu sebelah jalan (berpapasan) dengan bebek, insyaallah kita tak bakal bingung. Kita akan lebih mudah menghindar agar tak menabraknya. Berbeda dengan ayam.
Kalau ada data statistiknya, kuantitas pitik 'ayam' yang jadi korban lakalantas (kecelakaan lalu lintas) di jalan (tertabrak), pasti lebih banyak dibandingkan bebek.
Hal ini mengajarkan kita untuk selalu berpikir dan bertindak istikamah. Meskipun tetap harus fleksibel, harus tetap ajek. Punya pendirian. Tak hanya mengikut ke mana arah angin berhembus.
Ketujuh, patuh pada pimpinan.
Ketika satu kelompok, biasanya satu di antaranya yang menjadi pemimpin. Berada di bagian paling depan. Berjalan ke mana pun, mereka patuh, mengikuti bebek yang di depan tersebut. Baik saat di lepas, maupun ketika pulang ke kandang.