Kata kunci di sini adalah keberlebihan (eksesivitas) yang pada dasarnya tidak bermanfaat. Bayangkan jika Anda sedang dirundung duka dan teman Anda menyarankan "secara positif" agar Anda:
1. Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
2. Mencoba "move on" dengan menginklusi/mengeksklusi emosi.
3. Merasa bersalah dengan apa yang sedang Anda rasakan.
4. Meremehkan pengalaman Anda dengan pernyataan "cobalah merasa baik-baik saja bro/sis."
5. Mencoba memberikan perspektif "kamu bisa lebih buruk dari ini," alih-alih memvalidasi pengalaman Anda.
6. Membuat Anda merasa malu karena Anda "lemah" dan mengekspresikan frustrasi atau apa pun selain hal yang positif.
Teman Anda itu bisa menyampaikan saran apapun yang menurutnya adalah sebaik-baiknya saran, namun orang yang sudah terdehumanisasi itu sudah mati rasa terhadap apa yang Anda alami. Kata-katanya hanya sekadar kata-kata orang munafik tanpa makna dan perasaan manusiawi, makanya kata-kata itu "toksik."
Â
Bercermin dari situasi ini:
1. Mari kita lebih merasakan kesusahan orang lain dan dengan arif menyampaikan perasaan kita terhadap apa yang dia alami, sampaikan apa yang perlu disampaikan dan jangan sampai menambah beban pikiran yang bersangkutan.
2. Munculkan rasa simpati yang tulus dengan merefleksikan bahwa kitalah yang mengalami kesusahan itu.
3. Jangan mengatakan atau melakukan kepada orang lain apa yang kita tidak mau orang lain katakan atau lakukan kepada kita.
4. Tetaplah positif dalam kepositifan tanpa mengarah ke hal yang toksik.
5. Silence is (sometimes) golden. Jagalah keseimbangan antara menjadi terompet dengan orang bisu.
Solusi
Mulailah Jujur, Jelas, dan Cepat dari diri sendiri.
Kepustakaan:
1. Burnell, Ivan, Power of Positive Doing: 12 Strategi untuk Mengendalikan Hidup Anda, terj. Johan Japardi, Gramedia, 2001.
2. Diary Johan Japardi.
3. Quintero, Samara, Toxic Positivity: The Dark Side of Positive Vibes. Diakses pada: 28 Juli 2021.
4. Berbagai sumber daring lainnya.
Jonggol, 28 Juli 2021
Johan Japardi
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H