Mohon tunggu...
Jihan Makailah
Jihan Makailah Mohon Tunggu... Lainnya - Kontributor Tulisan

Pendidikan, Politik, Science, Sosial, Edukasi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Merayakan Hari Ibu Tanpa Ibuisme: Menghormati Peran dan Keberagaman Perempuan

22 Desember 2024   12:09 Diperbarui: 22 Desember 2024   12:54 102
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hari Ibu, yang diperingati setiap tanggal 22 Desember di Indonesia, sering kali identik dengan glorifikasi peran perempuan sebagai ibu rumah tangga yang penuh pengorbanan. Namun, pola pikir ini sering kali terjebak dalam ibuisme, yaitu pandangan yang memuja peran perempuan sebagai ibu dan mengabaikan identitas serta kontribusi mereka di luar peran tersebut. Bagaimana kita bisa merayakan Hari Ibu tanpa terjebak dalam ibuisme?

Memahami Ibuisme

Ibuisme adalah konsep yang mengidealisasi perempuan berdasarkan peran mereka sebagai ibu, dengan menempatkan mereka dalam kotak ekspektasi tertentu, seperti harus selalu mengasuh, mengorbankan diri, atau mengabdi kepada keluarga. Pandangan ini mengabaikan kenyataan bahwa perempuan adalah individu yang memiliki hak dan potensi di berbagai bidang, baik sebagai profesional, aktivis, seniman, maupun pemimpin.

Ibuisme lahir dari konstruksi sosial yang menempatkan perempuan dalam peran domestik semata, mengabaikan keberagaman peran yang bisa mereka pilih. Dalam ibuisme, perempuan yang menjadi ibu dianggap memiliki kewajiban mutlak untuk mengasuh anak, menjaga rumah tangga, dan memprioritaskan keluarga di atas segalanya. Narasi ini tidak hanya membatasi perempuan, tetapi juga merugikan laki-laki, karena mengabaikan pentingnya peran ayah atau pasangan dalam pembagian tugas rumah tangga dan pengasuhan anak. 

Mengapa Merayakan Hari Ibu Tanpa Ibuisme Penting?

Merayakan Hari Ibu dengan perspektif inklusif membantu kita:

  1. Menghargai Keberagaman Peran Perempuan: Tidak semua perempuan adalah ibu, dan tidak semua ibu menjalankan peran dengan cara yang sama. Penghargaan tidak boleh hanya berdasarkan peran tradisional, tetapi juga perjuangan, pilihan, dan kontribusi mereka dalam berbagai aspek kehidupan.
  2. Mengurangi Beban Sosial pada Ibu: Narasi ideal tentang ibu sempurna sering kali menciptakan tekanan yang tidak realistis bagi perempuan, sehingga mereka merasa bersalah jika tidak memenuhi ekspektasi tersebut.
  3. Memperkuat Kesetaraan Gender: Menghindari ibuisme berarti membangun pemahaman bahwa tanggung jawab keluarga dan rumah tangga adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas ibu.

Cara Merayakan Hari Ibu Tanpa Ibuisme

  1. Menghargai Keberagaman Peran Perempuan
    Hari Ibu bisa menjadi momen untuk menghargai kontribusi perempuan di berbagai aspek kehidupan, bukan hanya sebagai ibu. Perempuan berperan besar dalam pendidikan, sains, seni, politik, hingga advokasi sosial. Rayakan keberhasilan mereka di berbagai bidang tanpa mengaitkan pencapaian tersebut dengan status keibuan mereka.

  2. Menghindari Narasi Pengorbanan Berlebihan
    Ucapan yang berlebihan tentang pengorbanan seorang ibu sering kali melanggengkan stereotype bahwa perempuan harus mengorbankan diri demi keluarga. Sebaliknya, berikan apresiasi pada kekuatan, keberanian, dan pilihan mereka, baik sebagai individu maupun bagian dari keluarga.

  3. Memberikan Ruang untuk Semua Perempuan
    Hari Ibu bukan hanya untuk perempuan yang memiliki anak. Ini adalah hari untuk merayakan semua perempuan yang memberikan dampak positif dalam kehidupan orang lain, baik itu guru, saudara perempuan, teman, atau pemimpin komunitas.

  4. Mendukung Kesetaraan Gender
    Jadikan Hari Ibu sebagai momentum untuk merefleksikan perjuangan kesetaraan gender. Diskusikan pentingnya pembagian peran yang adil dalam keluarga, sehingga tanggung jawab pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga tidak hanya dibebankan kepada perempuan.

  5. Melibatkan Perempuan dalam Narasi Hari Ibu
    Dengarkan apa yang diinginkan perempuan dalam perayaan ini. Terkadang, mereka hanya ingin diakui sebagai individu yang dihargai, tanpa ekspektasi atau glorifikasi peran tertentu.

Merayakan Hari Ibu tanpa ibuisme berarti memberikan penghormatan kepada perempuan sebagai manusia utuh dengan segala keunikan dan potensi mereka. Dengan cara ini, Hari Ibu dapat menjadi momen yang inklusif dan bermakna bagi semua orang, tanpa membatasi peran perempuan pada satu dimensi saja.

Hari Ibu adalah tentang cinta, penghormatan, dan pengakuan atas kontribusi perempuan di mana pun mereka berada. Mari rayakan dengan cara yang mendukung kebebasan, keberagaman, dan kesetaraan.

Selamat Hari Ibu untuk semua perempuan hebat di luar sana! Terima kasih atas cinta, dedikasi, dan inspirasi yang terus kalian berikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun