Mohon tunggu...
YEREMIAS JENA
YEREMIAS JENA Mohon Tunggu... Dosen - ut est scribere

Akademisi dan penulis. Dosen purna waktu di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Benarkah Trotoar di Jalan Sudirman-Thamrin Hanya Indah di Mata?

11 Maret 2018   06:00 Diperbarui: 11 Maret 2018   10:21 1532
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Beberapa berita di portal berita online soal penilaian Anies Baswedan, Gubernur DKI atas apa yang sudah digagas dan dibangun Ahok menjadi viral dan ramai diperbincangkan. Saya menggunakan kata kunci "Ahok dan Gubernur Anies Baswedan" untuk mencari berita melalui mesin pencari Google, dan saya menemukan satu berita yang menarik untuk diulas. Dan itu adalah berita tentang trotoar di Jalan Sudirman-MH Thamrin yang telah ditata dan dibangun Ahok, tetapi kemudian dibongkar dan ditata ulang oleh Anies Baswedan. 

Jika pencarian di Google itu menggunakan frasa "Trotoar Ahok Indah di Mata, Tidak Enak di Hati" untuk semua berita di Indonesia dalam 24 jam terakhir, maka ditemukan bahwa pernyataan ini dilansir oleh news.liputan6.com dan banyak portal berita kecil lainnya. Dengan mempertimbangkan pengelola portal berita, saya mempertimbangkan portal berita liputan6.com sebagai yang dapat dipercaya, dan karena itulah saya mengulas berita tersebut lebih lanjut dalam tulisan ini.

Deskriptif-Objektif vs Subjektivitas

Berita soal pembongkaran dan pembangunan trotoar di Jalan Sudirman-Thamrin menjadi menarik karena Anies Baswedan mengikutkan atau menyertakan penilaian subjektif atas kebijakannya. Sejak awal Gubernur Anies memang bermaksud meninjau ulang, menata dan membangun kembali trotoar di sepanjang jalan protokol itu. Jika dibaca secara objektif, alasannya sebenarnya bagus dan masuk akal -- saya sendiri sangat mendukung alasan tersebut.

Apa alasannya? Merujuk ke data yang dimiliki ojek online (ojol) ditemukan bahwa ada 140 ribu pergerakan ojek setiap hari di kawasan Sudirman-Thamrin. Mereka itu adalah kelompok masyarakat yang bekerja di bidang jasa antarmakanan. Jadi, kalau kawasan Sudirman-Thamrin tertutup bagi pengendara Sepeda Motor,  akan ada ribuan orang yang terganggu aktivitas perekonomiannya. Bahkan ketika Gubernur Anies menjelaskan mengapa dia mengambil kebijakan seperti itu, pernyataannya bahwa dia berangkat dari cara berpikir yang berpihak pada rakyat dan pergerakan ekonomi rakyat kebanyakan, menurut saya, memang harus diakui sebagai sangat bagus. 

"Mindset-nya adalah bahwa setiap policy harus membuat kesetaraan kesempatan kepada warga Jakarta," Anies menandaskan.

Meskipun demikian, dua hal menarik perhatian saya dari pemberitaan ini. Pertama, ketika membeberkan fakta ratusan ribu pengendara ojek online yang mengantar makanan setiap hari di kawasan Sudirman-Thamrin, Anies Baswedan menyelipkan kalimat ini, "Makan siang, snack kue, siapa itu? Rakyat kecil di seluruh Jakarta."  Jika pernyataan itu dihubungkan dengan mindset yang dia kemukakan di atas, pernyataan ini mengandung arti bahwa Anies Baswedan sepertinya ingin mengatakan bahwa dirinya sedang berpihak pada rakyat kecil. 

Apakah benar demikian? Saya sendiri keberatan -- dalam arti logis -- karena di bagian penegasan mengenai mindset, Gubernur Anies bicara tentang kesetaraan kesempatan kepada warga Jakarta, dan yang termasuk warga Jakarta itu tidak hanya rakyat kecil. Dengan begitu, keberpihakan pada rakyat kecil, menurut saya, tidak harus dibenturkan dengan kebijakan mengubah trotoar di Sudirman-Thamrin.

Pejalan kaki berjalan di trotoar kawasan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (6/3). Penataan jalan dan trotoar kawasan Sudirman hingga MH Thamrin untuk mempersiapkan keindahan kawasan itu sebagai jalan protokol utama di Jakarta. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)
Pejalan kaki berjalan di trotoar kawasan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (6/3). Penataan jalan dan trotoar kawasan Sudirman hingga MH Thamrin untuk mempersiapkan keindahan kawasan itu sebagai jalan protokol utama di Jakarta. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)
Di atas semuanya itu, pernyataan yang menurut saya sangat subjektif dari Gubernur Anies Baswedan adalah ketika dia mengatakannya di Gedung RJA DPR RI di Jakarta Selatan, Jumat (9/03/2018): "Begitu rancangannya jadi, di situ tidak ada (jalur) kendaraan bermotor. (Desain jalan) nampaknya indah di mata, tapi tidak indah di hati (cetak tebal dari Penulis untuk menarik perhatian pembaca).

Saya sendiri berpendapat bahwa mengganti suatu kebijakan publik atau membongkar sesuatu yang sudah dibangun oleh pemimpin sebelumnya harus didasarkan pada alasan yang objektif dengan memosisikan rakyat sebagai pihak yang diuntungkan. Jika pertimbangan ini dijadikan dasar, maka kita harus menerima alasan mengapa trotoar di Jalan Sudirman-Thamrin harus dibongkar dan diperlebar. 

Bahwa ternyata ada ratusan ribu orang yang bisa ditolong kehidupan perekonomiannya karena mengais rezeki di kawasan itu. Alasan ini akan sangat sulit ditolak -- juga oleh lawan politik dan para Ahokers -- karena didukung oleh data yang valid. Akan menjadi lebih valid lagi jika data yang dirujuk tidak hanya berasal dari para pengelola ojek online, tetapi juga dari pihak lain. Ini untuk menghindari vested interest dari pengelola ojek online. Jadi, keberpihakan pada rakyat kecil itu ada dasarnya.

Harus Bisa Mempersatukan Masyarakat

Yang saya tidak sepakat adalah memberi penilaian subjektif, bahwa trotoar yang dibangun Ahok itu "indah tetapi tidak indah di hati". Karena Anies Baswedan menggunakan kata "indah" dengan pengertian yang berbeda, maka kita bisa bertanya, apa yang dimaksud dengan "indah" (sebagai realitas konkret soal sesuatu yang indah/artistik) dan "indah di hati" (analogi)? Bagi saya, sesuatu yang indah dalam arti artistik memiliki kadar subjektivitas yang tinggi, apalagi "indah di hati"? Jadi, bagi saya, jika tidak berlebihan atau tidak hiperbolik, maka penilaian ini sebenarnya "super duper subjektif".

Saya membayangkan bahwa Anies Baswedan memberi penilaian kepada trotoar hasil kerja Ahok secara murni objektif, misalnya dengan mengatakan bahwa trotoar yang dibangun Ahok itu baik tetapi kurang mempertimbangkan berbagai pemangku kepentingan sehingga kelompok pengusaha ojek online atau kelompok masyarakat menengah--bawah kurang diuntungkan. Padahal mereka menggantungkan hidupnya dari usaha semacam itu dan dari kawasan Sudirman-Thamrin. Dan itu akan jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan, bahkan tanpa menjelaskan bahwa dirinya sedang pro pada rakyat kecil, dan seterusnya.

Saya menyayangkan sikap dan pernyataan subjektif semacam ini karena hanya akan terus-menerus memosisikan Anies Baswedan sebagai "musuh" Ahok. Anies sendiri sering menegaskan -- bahkan jauh sebelum menjadi Gubernur DKI -- untuk menjaga lisan, untuk lebih sopan dan tidak menciptakan gejolak dalam masyarakat. Tetapi menurut saya, pernyataan subjektif yang dilontarkan itu jauh dari kesan sopan, bahkan berpotensi menimbulkan permusuhan dalam masyarakat itu sendiri.

Soal penilaian ini, saya belajar dari Ilmu Psikologi yang mengatakan tentang pentingnya menghindari cara berelasi yang sifatnya konfrontatif. Menurut Dr. Arthur Cassidy, manusia umumnya menghindari konfrontasi. Bahkan setiap individu juga tidak siap menghadapi konfrontasi, sehingga ketika dikonfrontasi, emosinya akan cepat meledak, dia akan cepat marah dan segera akan kehilangan rasa gembiranya. Orang yang ada dalam situasi konfrontasional akan memosisikan orang lain sebagai musuh atau lawan yang harus ditaklukkan. 

Saya sendiri menafsir pernyataan Gubernur Anies Baswedan ini sebagai cara berkomunikasi yang konfrontatif, karena memosisikan orang/pihak tertentu -- dalam hal ini adalah Ahok -- sebagai orang lain yang harus didebat, dipersoalkan, diuji, dimintai pertanggungjawaban, bahkan dalam bentuknya yang paling ekstrem adalah dilawan.

Jika tafsir atau cara pemahaman saya ini dapat diterima, maka sebenarnya sayang sekali bahwa hal semacam ini masih diucapkan oleh seorang pejabat publik selevel Gubernur DKI. Bagi saya, jabatan publik itu mulia, dan orang yang menduduki jabatan itu seharusnya rajin merekatkan seluruh elemen dalam masyarakat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun