Belum lagi sesi penilaian memasukkan sesi pakaian renang, pakaian gala dinner dan Nusantara yang tentu tidak akan menerima perempuan dengan penutup aurat sempurna. Cara berjalan, makan bahkan berbicara diatur juga sesuai standar internasional. Lantas, benarkah ini semua adalah karakter bangsa Indonesia?
Meski sudah sekuler, dimana agama hanya mengatur ibadah ritual individu saja, namun budaya dan norma bangsa timur masih ada, dimana perempuan yang tak santun ( berpakaian terbuka dan make up menor) masih dianggap asing di tengah masyarakat. Meski pula sudah banyak yang menganggap ini bagian dari perubahan zaman, namun masih banyak juga yang merasa perempuan sebaiknya masih memiliki malu.
Ajang Pemilihan Putri-putrian Kampanye Liberalisme
Semestinya kita waspada, bahwa kontes kecantikan dan sejenisnya ini tidak memiliki akar dalam budaya asli Indonesia, bahkan sejarah menunjukkan sebelum Penjajah asing menguasai Indonesia, Islam telah menguasai lebih dahulu dan mengatur setiap sendi kehidupan masyarakatnya dengan syariat. Sejarah panjang ketundukan Jawa kepada kekuasaan kekhilafahan Ustmani bahkan sebelumnya bisa dilihat di Keraton Yogyakarta.
Ini adalah kampanye barat yang liberal dan ingin menghancurkan Islam melalui perempuan muslim. Â Banyak peserta muslimah yang begitu tergiur dengan ajang kontes kecantikan ini, dengan mengadakan acara tandingan sepetri putri hijab dan lain sebagainya, seolah Islam dan liberalisme bisa disatukan.
Yang nampak di mata kaum muslimah hari ini hanyalah glamour materi dan sanjungan yang di dapat ketika mereka memenangkan ajang kontes kecantikan itu. Mereka lupa, bahwa saat itu juga mereka telah terjerembab ke dalam dosa yang menjijikkan. Bagaimana mungkin Allah swt. yang menciptakan sempurna semua ciptaannya kemudian manusia memiliki kriteria yang lain. Allah swt. berfirman yang artinya "Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya".(TQS At-Tin :4).
Kaum perempuan sukses dieksploitasi atas nama kemajuan berkelanjutan, agen perubahan, generasi berkarakter bahkan hingga berkualitas. Â Yang kemudian secara gegabah kapitalis atau mereka yang memiliki modal menjadikannya sebagai ajang bisnis tak berkesudahan agar perempuan terus terlihat cantik namun lalai dengan ketentuan syariat.
Islam Mewujudkan Individu Berkarakter Mulia Dunia Akhirat
Baik pria maupun perempuan wajib untuk bertakwa, ini adalah perintah Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya,"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (TQS Al-Ahzab:35).
Maka, tidak ada yang menyebabkan perempuan lebih tinggi dari pria atau sebaliknya sehingga harus ngotot mengupayakan kesetaraan gender. Dunia Barat telah sukses memengaruhi perempuan muslimah untuk bergeser dari apa yang seharusnya dia yakini, yaitu Allah tidak akan menyulitkan perempuan dengan menurunkan sederet syariat kepadanya. Melainkan ingin memudahkan meraih apapun yang ia rencanakan.
Masalahnya sistem kapitalisme mereduksi potensi perempuan sehingga hanya tertinggal mindset jika tak memiliki keunggulan fisik maka tak bermanfaat. Sungguh sangat naif. Islam membolehkan perempuan berpendidikan tinggi, berkarya mengamalkan ilmunya di tengah masyarakat, dan lain sebagainya, dengan tetap terikat dengan hukum syara baginya.