Ruang kelas doktoral kami sore itu seolah menjadi tempat pertemuan dua kutub: rasa dan data. Di hadapan kelas, Samuel baru saja menyelesaikan presentasinya tentang konsep operasional pesantren tarikat. Ia menjelaskan dengan penuh antusias, tapi definisi yang ia bangun terasa kabur, seperti garis yang pudar di tepian sungai.
"Jadi begini, pesantren tarikat itu bukan hanya sekadar tempat belajar, tapi sebuah pengalaman mendalam yang menyentuh relung batin," ujar Samuel, penuh semangat. "Murid-muridnya merasakan dampak batiniah yang sulit diukur, yang hanya bisa dirasakan dan..."
Atiyah, yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya mengangkat tangan. Sosoknya sering kali terlihat misterius di kelas, namun semua tahu dia menguasai tema tentang tarikat dengan sangat baik. Ia berbicara dengan suara lembut namun tegas, pandangannya lurus ke arah Samuel.
"Samuel, saya mengapresiasi usahamu, tapi bukankah kita di sini berbicara dalam kerangka akademik?" katanya, menahan nada kritik yang tajam. "Ketika kamu mendefinisikan pesantren tarikat hanya berdasarkan perasaan dan pengalaman, bukankah itu terlalu subjektif? Bagaimana pembaca atau peneliti lain bisa mengukur dan menguji gagasanmu kalau operasionalnya tak punya basis data yang kuat?"
Samuel tersenyum, tak terkesan terganggu sedikit pun. Ia justru terlihat tenang, bahkan ada kilatan iseng di matanya. "Ya, tapi bukankah pengalaman itu justru esensi dari tarikat? Kalau kita mengukurnya dengan data semata, bukankah kita akan kehilangan makna?"
Atiyah menghela napas. "Samuel, pengalaman adalah bagian dari tarikat, aku setuju. Tapi dalam penelitian, kita perlu sesuatu yang lebih konkret. Kita bicara tentang operasionalisasi yang jelas. Definisi yang bisa diuji, diukur. Ini lebih dari sekadar rasa."
Samuel tersenyum lebar, seperti menganggap perdebatan ini sebagai permainan. "Atiyah, kadang-kadang, perasaan itu lebih penting daripada angka-angka. Ada hal-hal yang tak bisa diukur, hanya bisa dirasakan."
Di tengah percakapan yang mulai memanas ini, Bu Anna Maimunah, dosen pengampu, mengangkat tangan untuk memberi sinyal agar keduanya berhenti sejenak. Ia menatap Samuel dengan sorot penuh pemahaman, namun juga ketegasan. "Samuel, saya setuju dengan Atiyah dalam hal ini. Perbedaan antara rasa dan data bukan sekadar permainan huruf 'R' dan 'D'. Operasionalisasi sebuah konsep harus mampu menafsirkan realitas dalam bentuk yang terukur dan dapat diuji. Definisi operasional yang kamu usulkan saat ini masih jauh dari standar itu."
Samuel menegakkan tubuhnya, raut wajahnya berubah sedikit lebih serius, tapi matanya masih memancarkan pembelaan diri yang tak mau kalah. "Tapi, Bu Anna, bukankah setiap data punya unsur rasa? Bukankah setiap angka mewakili cerita di baliknya?"
"Atiyah dan Ibu Anna benar, Samuel," kata Herlina yang sejak tadi menyimak tanpa banyak bicara. Ia adalah sosok yang selalu hadir seperti air yang menenangkan, meredam ketegangan dalam suasana. "Kita bukan hanya bicara soal makna atau perasaan di sini, tapi tentang standar ilmiah. Definisi operasional adalah fondasi dari penelitian kita. Tanpa dasar yang jelas, sulit untuk membangun argumen yang kuat."
Samuel menghela napas panjang, seolah baru tersadar dari pertahanan yang dibangunnya. "Baiklah, mungkin ada benarnya apa yang kalian katakan. Tapi, kurasa... sedikit rasa bisa memberi warna, bukan?"
Herlina tersenyum lembut. "Tentu saja, tapi rasa itu mesti dibingkai oleh data. Kita bisa menggabungkan keduanya, asal ada dasar yang jelas. Jangan sampai rasa menutupi standar ilmiah kita."
Perdebatan itu pun mereda, namun sorot mata Samuel menandakan ia masih menyimpan pemikiran yang ingin ia gali lebih dalam. Kelas berakhir dengan atmosfer yang lebih damai, seolah semangat Herlina yang menenangkan itu mampu membasuh ketegangan yang sempat meletup.
Ketika kami melangkah keluar kelas, notifikasi dari grup WhatsApp doktoral muncul. Ternyata sebuah pesan dari Herlina, yang sepertinya ingin mendinginkan suasana.
"Samuel, biar kali ini tetap 'Rasa' dulu deh. Tapi minggu depan jangan lupa 'Data'nya ya. Siapa tahu, bisa jadi RasaD, rasa dan data, kan asyik juga "
Tawa berderai di antara kami yang membaca pesan itu. Samuel hanya menanggapi dengan emotikon senyum lebar, mungkin sedikit tersindir, tapi ia tahu ini semua adalah bagian dari perjalanan. Dalam perjalanan panjang doktoral ini, rasa dan data selalu akan berdansa bersama, mencari irama yang pas, saling melengkapi tanpa saling mendominasi.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI